Infiltrasi Intelijen dalam Gerakan Jihad Indonesia

Ilustrasi, infiltrasi dalam jihad
Ilustrasi, infiltrasi dalam jihad

An-najah.net – Aktivis Islam hari ini hidup di masa yang penuh tantangan dan ujian. Paling tidak ada dua problem besar yang terus membelit. Yakni; ilmu yang minim dan makar musuh-musuh Islam. Dua masalah klasik ini menghambat dan memperberat proses iqomatuddin.

Kurang ilmu bukan berarti bahwa para aktivis Islam adalah kumpulan orang tak terpelajar. Tidak demikian karena aktivis Islam umumnya antusias mengikuti kajian dan rutin menghadiri halaqoh keilmuan. Bahkan banyak yang aktif membina masyarakat di lingkungannya.

Namun, tidak semua aktivis memiliki sense dan kecerdasan yang sama dalam berharokah. Juga tidak semua abnaul harokah menguasai detail-detail ilmu dan wawasan siyasah syariyayah yang dibutuhkan untuk menjawab syubhat yang berkembang. Salah satu contohnya tentang masalah takfir, masih banyak bersikap berlebihan atau mengabaikan sama sekali permasalahan ini.

Problem inilah yang membuat Abu Yazan As-Syami, mujahid senior dari Ahrar Syam mengingatkan anggotanya, “kita memerlukan pendidikan politik dan wawasan syar’i agar jihad ini tidak terus menjadi uji coba.”

Masalah kedua berupa ancaman dan makar musuh-musuh Islam. Bentuknya sangat beragam, mulai dari yang propaganda hingga serangan fisik. Salah makar yang patut diwaspadai yaitu infiltrasi intelijen dalam barisan jihad. Operasi semacam ini berjalan senyap dan kerap luput dari pengamatan. Banyak yang baru tersadar ketika dampaknya terlanjur membesar.

Baca Juga (Jebakan Takfiri dan Infiltrasi Intelijen ke dalam jihad al jazair)

Infiltrasi Intelijen

Kelompok Islam di Indonesia memang rentan dipermainkan intelijen. Contoh kasus di negeri ini sangat banyak. Terutama pada tahun 70-an di masa kebangkitan gerakan DI/TII yang kedua. Seperti dalam kasus Komando Jihad yang disebut sebagian orang sebagai kasus teror Warman. Untuk membusukkan gerakan tersebut, intelijen memasukkan infiltran bernama Hasan Bao. Banyak ikhwan yang tertipu sosoknya yang shalih dan pandai membaca Al-Qur’an. ditambah lagi anggota senior DI/TII pada saat itu tidak memahami latar belakang Hasan Bao.

Hasan Bao lalu berhasil masuk ke dalam barisan eks DI/TII. Bahkan menembus ring paling inti. Dia kerap bertemu dan bergaul tokoh sekaliber Farid Al-Ghazali, Abdullah Umar, Abdul Qadir Baraja dan Warman. Mata-mata ini lalu memprovokasi untuk melakukan aksi yang tidak disepakati oleh kelompok. Misalnya, aksi pembunuhan pembantu Rektor UNS Parmanto.

Contoh lain keberhasilan intelijen menyusup ke gerakan Islam adalah kasus infiltrasi Abdul Haris. Sebagaimana dikutip TEMPO dalam Edisi 25 November – 1 Desember 2002, Muchyar Yara, Asisten Kepala BIN Bidang Hubungan Masyarakat, mengaku Abdul Haris sebagai seorang agen BIN yang telah disusupkan untuk mengawasi gerak-gerik berbagai jaringan Islam, termasuk MMI.

“Haris adalah teman lama Hendropriyono sejak masih menjadi Panglima Daerah Militer Jaya, bahkan mungkin sejak masih kolonel. Hubungan antara Haris dan Pak Hendropriyono sebatas teman. Tapi, tidak benar Haris ikut ditangkap bersama Al-Faruq,” ujar Muchyar Yara kepada TEMPO.

Kasus lain yang masih hangat yakni kasus akhwat bercadar di balik penangkapan tiga aktivis Islam di Solo, Jawa Tengah. Beberapa hari sebelum Densus 88 Antiteror beraksi, keluarga salah satu korban didatangi wanita bercadar yang mengaku dari berasal dari Bandung. Sebagaimana diberitakan Panjimas, korban mengenal si Akhwat lewat grup chating WhatsApp. Kepada korban, ia tersebut mengaku minggat dari rumah karena tidak kuat menghadapi permasalahan berat di keluarganya.

Sehari-hari, wanita tersebut sangat komunikatif jika terlibat obrolan tentang pergerakan Islam. Namun aktivitas si akhwat kerap menimbulkan kejanggalan yang mengganggu keluarga tuan rumah. Selama sepekan menginap, ia sama sekali tidak pernah shalat lima waktu dan membaca Al-Qur’an. setiap kali ditanya, berkelit sedang berhalangan karena haid. Menjelang malam hari menelepon hingga berjam-jam. Saat ditanya dirinya menjelaskan sedang menelpon teman lelakinya di Bandung.

Setelah sepekan berlalu, si akhwat tiba-tiba menghilang. Tanpa pamit atau berterima kasih kepada tuan rumah. Tiga hari kemudian, kota Solo digegerkan aksi penangkapan tiga orang aktivis dengan tuduhan akan melakukan pemboman tepat pada Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus 2015.

Keberadaan akhwat mencurigakan tersebut tak luput dari pantauan Tim Pengacara Muslim dan beberapa media Islam. Kecurigaan tersebut lantas terbukti setelah investigasi digelar. “Apa yang diberitakan terkait akhwat misterius tersebut benar adanya,” ungkap Anis Priyo selaku Koordinator TPM Jawa Tengah sebagaimana dimuat oleh Panjimas.

Anis menambahkan bahwa kasus tersebut bukan yang pertama. Pernah terjadi kasus dengan modus yang hampir serupa di Jakarta. Berdasar temuan tersebut, TPM mengingatkan agar aktivis Islam waspada terhadap orang yang tak dikenal. Agar tidak terjebak dan dimanfaatkan pihak lain demi kepentingan yang merusak Islam.

Rentetan kasus di atas menegaskan bahwa gerakan Islam selalu menjadi target operasi intelijen lawan. Hendropriyono, mantan kepala Badan Intelijen Negara ketika membicarakan tentang pemberantasan terorisme mengatakan agar jangan hanya mengandalkan kekuatan, tapi yang lebih efektif adalah operasi intelijen.

Pernyataan itu mengacu kepada pengalaman Hendropriyono dalam kasus Talangsari. Kala itu, pensiunan perwira berusia 80 tahun tersebut berhasil melakukan operasi intelijen dan menggulung para aktivis Islam. “Dia memasukkan orangnya ke dalam lingkungan pembinaan Warsidi hingga tahu peta pergerakan lawan. Ketika ingin menggunakan kekuatan, baik penggalangan maupun penggulungan, dia sudah memiliki petanya,” ungkap Abu Rusydan.

Infiltrasi intelijen terhadap gerakan Islam sebenarnya termasuk dari konspirasi dunia internasional. Dalam seni intelijen, operasi biasanya dilakukan dengan dua tugas: penggalangan dan penggulungan.

Tugas penggalangan adalah “to win the heart and the mind of the target” atau merebut hati dan pikiran sasaran. Tugas semacam ini mengandalkan agen-agen rahasia atau human intelligence. Tugas ini dianggap berhasil jika sasarannya tercapai, yakni “to bring the target to our direction”. Pola-pola penggalangan yang diterapkan mengandalkan strategi penyusupan, pencerai-beraian, pengarahan hingga brain washing. Cara terakhir dianggap sebagai penggalangan cerdas untuk menghapus pemikiran target.

Adapun penggulungan, bisa terjadi ketika usaha penggalangan tidak bisa terlaksana. Mereka akan menggunakan kekuatan untuk melibas gerakan Islam. Saat mereka menggunakan seluruh kekuatan untuk menghancurkan gerakan jihad.

Sumber : Majalah An-najah Edisi 118 Rubrik Tema Utama

Editor : Abu Khalid