Inilah Faktanya, Bagaimana Media Barat Abaikan Pembunuhan Israel Terhadap Warga Palestina

Keluarga Samir Awad berduka atas kematian anak usia 17 tahun itu. (Issam Rimawi / APA images)
Keluarga Samir Awad berduka atas kematian anak usia 17 tahun itu. (Issam Rimawi / APA images)

GAZA (an-najah.net) – Israel telah menghabiskan banyak waktu berbicara tentang omong kosong kepentingan perbatasan yang aman dan menekankan tingginya kebutuhan mereka yang mendorong kebijakan mengenai Palestina. Dengan beberapa pengecualian, sebagian besar media bertindak sebagai promotor dari penyimpangan fakta dan penyesatan opini.

Antara 11 hingga 15 Januari awal tahun ini, empat pemuda Palestina – berusia 17 sampai 22 – ditembak mati oleh pasukan penjajah Israel. Pembunuhan terjadi di Jalur Gaza dan di berbagai titik di sepanjang dinding Israel di Tepi Barat. Dalam semua kasus tentara Israel membenarkan penggunaan kekuatan mematikan dengan dalih menerapkan kebutuhan untuk melindungi integritas dinding dan perbatasan Israel.

Pada tanggal 11 Januari 2013,  Anwar Mamlouk (22 tahun) dilaporkan sedang berada di luar kamp pengungsi Jabaliya di Gaza ketika tentara Israel menembak dia.

Keesokan harinya, Odai al-Darawish (21 tahun), ditembak mati pada pukul tiga sore saat melintasi dinding Israel di Tepi Barat untuk berangkat bekerja di Israel. Awalnya, sumber-sumber Israel mengklaim tentara menembak al-Darawish di kakinya, sesuai dengan “aturan keterlibatan”, (Israeli troops kill Palestinian trying to cross barrier, The Chicago Tribune, 12 January 2013).

Namun, berdasarkan dari sumber-sumber pihak medis akhirnya dengan segera terungkap bahwa ia ditembak di punggung, menunjukkan bahwa ia kemungkinan ditembak ketika sedang mencoba untuk lari ke tempat aman, (Israeli forces shoot, kill worker south of Hebron,” Ma’an News Agency, 12 January 2013).

Al-Darawish berasal dari desa Dura, dekat Hebron, di mana pada bulan September tahun lalu seorang pria mencoba untuk mengorbankan dirinya dalam aksi protes karena putus asa dari kondisi ekonomi yang mengerikan yang dihadapi warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki, (Palestinian man attempts to set himself on fire in West Bank village of Dura,” Haaretz, 17 January 2013).

Mustafa Jarad, yang berusia 21 tahun dan seorang petani dari Beit Lahiya di Jalur Gaza utara. Ia ditembak di dahi oleh penembak jitu Israel pada tanggal 14 Januari saat sedang bekerja di ladangnya. Tetapi, betapapun terampilnya keahlian menembak penembak jitu Israel, Jarad tidak segera terbunuh.

Para dokter di rumah sakit al-Shifa di Kota Gaza mencoba mengeluarkan peluru dari otaknya yang terluka parah, namun Jarad meninggal setelah operasi (Mustafa Abu Jarad, murdered in Gaza, by the Israeli army, International Solidarity Movement, 15 January 2013).

Penembakan terhadap anak sekolah
Sebagaimana diberitakan kemarin, di an-najah.net, Pada tanggal 14 Januari, Samir Awad, 17-tahun dari Budrus, sebuah desa yang terletak di Tepi Barat dekat Ramallah, ditembak dari belakang di kepala, badan dan kakinya saat ia melarikan diri dari kejaran tentara.

Samir baru saja menyelesaikan ujian terakhirnya sebelum istirahat sekolah dan  bergabung dengan sekelompok anak laki-laki untuk memprotes tembok perbatasan. Keluarga Samir telah kehilangan lima hektar tanah dengan 3.000 pohon zaitun karena pembangunan diding perbatasan Israel; Samir juga telah dipenjara tiga kali atas partisipasinya dalam aksi demonstrasi menentang perbatasan Israel, (Israeli forces shot youth in the back as he ran away, say Palestinians,” Guardian, 15 January 2013).

Laporan berita berbahasa inggris atas tragedi pembunuhan ini sangat sedikit, bahkan hampir tidak ada. Pers dan media barat masih berselisih atas keadaan kematian Anwar Mamlouk itu. Reuters melaporkan bahwa saudara Anwar, Hani menyatakan bahwa, Anwar sedang belajar di luar ketika ia ditembak (“Israeli forces kill Palestinian along border with Gaza: Hamas,” NBCNews, 11 January 2013).

The BBC, hanya meneruskan versi militer Israel atas peristiwa itu dan melaporkan bahwa Anwar telah memasuki “wilayah terlarang” di sepanjang perbatasan Gaza bersama dengan puluhan warga Palestina lainnya (“Gaza: Palestinian farmer killed by Israeli gunfire,” 11 January 2013).

Pengalihan kesalahan
The New York Times mengambil peristiwa pembunuhan Samir Awad -yang merupakan serentetan pembunuhan keempat yang sengaja dilakukan tentara biadab Israel terhadap warga Palestina tak bersenjata- sebagai kesempatan untuk berkomentar pada ” munculnya kerusuhan ” di Tepi Barat. Media  asal negara teroris Paman Sam ini, dengan ganjil malah melakukan pengalihan kesalahan atas kematian tersebut kepada warga Palestina, (“Israeli forces kill Palestinian at barrier,” 15 January 2013).

Harus dicatat bahwa, ketika  Muhammad al-Salaymeh (17-tahun) dibunuh oleh seorang perwira polisi perbatasan di Hebron pada hari ulang tahunnya pada bulan Desember 2012, The New York Times tetap diam.

Membaca berita New York Times yang menutupi  pembunuhan warga Palestina oleh Israel merupakan pelajaran tepat bagi setiap calon politikus busuk yang ingin belajar membuat alasan.

Koran Israel, Isabel Kershner mengalihkan fokus pembunuhan pada Senin di Budrus pada  “keresahan yang bergolak”  yang dialami warga Palestina. Israel mengklaim partisipasi warga Palestina  meningkatkan “gangguan” dari stabilitas yang “relatif “. Media itu juga menyebutkan, bahwa Israel telah berusaha untuk mempertahankan krisis keuangan yang mengerikan yang telah mencegah Otoritas Palestina dari membayar pegawai pemerintahnya sendiri.

Terutama tidak ada penjelasan diberikan, mengapa Otoritas Palestina belum mampu membayar puluhan perusahaan ribu pekerja, yaitu bahwa Israel telah mencuri pajak Palestina dan dana bea cukai.

Mengabaikan fakta-fakta kunci
Ini adalah fakta bagaimana The New York Times ternyata mengubah tragedi pembunuhan berdarah dingin terhadap anak laki-laki remaja menjadi kisah yang dengan sengaja ‘ditutup-tutupi’, justru malah mengumbar kebohongan menggambarkan kabut buram “ketegangan” dan “kerusuhan telah tumbuh.”

Kebohongan publik yang dilakukan oleh media-media Barat terhadap fakta-fakta yang sebenarnya terjadi sudah menjadi metode ambigu media dan surat kabar Barat: bukan hanya fakta-fakta pembunuhan baru-baru ini yang terjadi pada Odai al-Darawish, Muhammad al-Salaymeh dan Anwar Mamlouk, tetapi pada seluruh korban dari serangan yang tak terhitung jumlahnya, juga pada penghancuran dan kekerasan korban kejahatan kemanusiaan Israel terhadap warga Palestina setiap minggu (“Weekly report on Israeli human rights violations in the occupied Palestinian territory,” Palestinian Centre for Human Rights, 10 January 2013).

Ini adalah fakta yang jika  dilaporkan oleh media apa yang terjadi sesungguhnya akan memungkinkan pembaca untuk mengetahui bahwa, ternyata Israel lah yang merupakan pelanggar ketentuan perbatasan negara. Reportase yang tepat akan memberikan fakta kejam dan kebohongan tak tergoyahkan terhadap klaim dusta Israel bahwa dalam rangka untuk melindungi perbatasan, harus menembak dan membunuh orang tak bersalah dan anak laki-laki, atau perempuan.

Media tunduk pada Israel
Kebenaran mengerikan apa yang terjadi pada minggu ini  menceritakan kebohongan tentang pemuda yang ditembak mati yang diidentifikasi karena niat mereka untuk masuk tanpa izin, dan di mana sebelumnya dinding perbatasan telah digambarkan sebagai dirancang untuk menahan “teroris”.

BBC, The New York Times, Reuters dan AP  semua tunduk pada sumber militer Israel yang melaporkan kematian empat orang muda. Hasilnya adalah bahwa pembaca mereka diberitahu bahwa tentara Israel telah mengikuti protokol yang tepat untuk melindungi kedaulatan Israel dan perbatasan.

Dengan pengecualian dari surat kabar Inggris The Guardian dan The Independent (lihat “Did Israeli troops deliberately provoke boy, only to shoot him in the back?” 16 January 2013), media-media barat tunduk dan bergabung dengan barisan negara Israel, menggiring keluar cerita-cerita fiktif yang berimplikasi timbulnya opini pada dunia luar bahwa, para pemuda Palestina mati karena telah menjadi ancaman terhadap keamanan dan stabilitas yang seharusnya dipelihara oleh pemisahan yang tak masuk akal.

Adapun batas itu, sangat mungkin bagi  orang tua yang sedang berduka dari anak-anak yang terbunuh akan senang melihat keberadaan apapun batas Israel yang mungkin melindungi anak-anak mereka dari kehadiran entitas yang mengancam dan merebut dengan kekerasan. [fajar]