Inilah Titik Temu Para Komandan Pejuang Suriah

syria revolution

(An-najah) – Dalam pekan kedua dan ketiga bulan Juni 2013, stasiun berita Al-Jazeera menayangkan serangkaian wawancara dalam bahasa Arab dengan para pemimpin utama kelompok bersenjata yang berusaha menggulingkan rezim Al-Assad di Suriah[1]. Enam wawancara secara total dilakukan oleh koresponden Al-Jazeera, Tayseer Allouni [2], seorang warga Suriah asli yang dikenal luas oleh publik internasional untuk wawancara eksklusif dengan pimpinan Al-Qaeda Osama bin Laden setelah serangan 11 September 2001. Allouni kemudian dipenjara di Spanyol selama 7 tahun atas tuduhan membantu al-Qaeda, yang disangkal olehnya. Wawancara terakhir dengan pemimpin pejuang Suriah tampaknya telah terjadi di daerah utara yang dikuasai mujahidin Suriah.

Arti penting dari keseluruhan wawancara tersebut adalah kenyataan bahwa dunia belum banyak mendengar pandangan dari komandan lapangan atau pejuang yang sebenarnya di lapangan. Revolusi Suriah sejauh ini telah diwakili oleh tokoh-tokoh politik dari “Koalisi Nasional Revolusi Suriah dan Pasukan Oposisi” (Etilaf) [3]. Sebagian pejuang di lapangan tidak menganggap koalisi sebagai wakil sejati revolusi karena sebagian besar anggotanya telah di berada di pengasingan selama bertahun-tahun (beberapa diantaranya selama lebih dari 30 tahun). Para tokoh politik ini tinggal di hotel Eropa dan Arab, sementara para pejuang dan orang-orang yang masih berada di dalam wilayah Suriah menderita kekejaman yang ditimpakan rezim Assad. Sentimen yang sama juga diungkapkan di sebagian besar wawancara yang akan dibahas lebih lanjut.

Komandan pejuang yang diwawancarai oleh Al-Jazeera adalah:
1. Hassan Abboud, pemimpin Ahrar al-Sham, dan Sekretaris Jenderal Front Suriah Islam [4]. Ahrar al-Sham dideskripsikan oleh media Barat sebagai “brigade fundamentalis Islam yang menjadi tuan rumah bagi banyak jihadis asing.” [5]
2. Abdel-Basit Taweeleh, pemimpin “komando Utara” dalam Tentara Pembebasan Suriah (FSA), berasal dari kubu sekuler.
3. Ahmad Eissa, pemimpin al-Sham Suqur yang berbasis di Idlib, dan Sekretaris Jenderal Front Pembebasan Islam Suriah (ISLF). [6]
4. Abdel Qader-Saleh, pemimpin Liwa Al-Tauhid yang berbasis di Aleppo, yang merupakan komponen dari ISLF.
5. Osama Junaidi, pemimpin batalyon Al-Farooq yang berbasis di Homs, komponen ISLF.
6. Zahran Alloush, pemimpin Liwa Al-Islam yang  berbasis di pedesaan Damaskus, juga merupakan komponen dari ISLF.

Perlu dicatat bahwa Jabhat al-Nusra (JN), kelompok yang berafiliasi Al-Qaeda, tidak diwakili dalam wawancara tersebut, meskipun para komandan tersebut ditanya tentang posisi mereka terhadap JN. JN diketahui ukurannya lebih kecil daripada salah satu dari kelompok-kelompok yang disebutkan di atas, bahkan sebelum dibagi menjadi kelompok yang mengikuti pemimpin lokal, Al-Joulani, dan mereka yang mengikuti cabang Irak yang dipimpin oleh Al-Baghdadi. [7]

Wawancara mengungkapkan kesamaan antara komandan pejuang yang dapat diringkas sebagai berikut:

1. Revolusi Suriah dimulai setelah pemerintah rezim menyerang secara sporadis atas aksi damai rakyat Suriah. Sementara dunia hanya diam menonton kekejaman tersebut, aktivis dan generasi muda Suriah menyadari bahwa mereka harus melawan teror rezim dengan tindakan pertahanan dan pencegahan.

2. Tidak akan ada negosiasi dengan rezim atau sisa-sisanya. Harus ada perhitungan dan hukuman penuh atas tindakan kekejaman yang dilakukan oleh pasukan rezim.

3. Sistem masa depan Suriah harus didominasi oleh kaum Sunni karena mereka mewakili mayoritas rakyat Suriah. Semua minoritas akan memiliki perwakilan yang tepat dan tidak akan dirugikan di bawah sistem baru. Selain itu, hukum negara harus  berdasarkan Shar’iah Islam.

4. Pemerintahan masa depan tidak akan bersahabat dengan negara atau badan yang didukung Assad dan rezimnya, seperti Iran dan Hizbullah, dan akan memiliki hubungan baik dengan negara-negara yang memberikan dukungan pada revolusi. Berkenaan dengan Israel, semua yang diwawancarai menganggapnya sebagai musuh, meskipun beberapa persoalan ditangguhkan kepada pemerintah masa depan ketika ditanya tentang cara untuk berurusan dengan Israel. Salah satu yang diwawancarai, Hassan Abboud, mengungkapkan kerinduan terhadap penghapusan perbatasan daerah Sykes Picot-dan melanjutkan kesatuan politik di seluruh wilayah Syam.

5. Sebagian besar responden mengakui memiliki kerjasama taktis dengan pejuang Jabhat  al-Nusra, dan beberapa diantaranya memuji pertempuran sengit mereka dan kesiapan pejuang JN untuk berkorban. Lainnya mengatakan bahwa kerja sama dengan Nusra tidak terjadi hanya karena pejuang Nusra tidak hadir di daerah mereka.

Sementara ada kesepakatan tentang poin di atas, ada juga variasi dalam pandangan yang diungkapkan. Misalnya, ketika ditanya di mana mereka mendapatkan senjata dan dukungan keuangan, kebanyakan komandan mengakui menerima dukungan dari negara-negara asing, meskipun beberapa dari mereka menganggap itu sangat kecil jika dibandingkan dengan bantuan perorangan Suriah baik di dalam maupun di luar negeri. Hassan Abboud, pemimpin Ahrar al-Sham, adalah satu-satunya komandan yang secara eksplisit membantah menerima dukungan dari pemerintah asing. Namun demikian, ada sentimen pahit yang diungkapkan oleh Abdel-Basit Taweeleh, satu-satunya komandan dari kubu yang bukan Islamis (sekuler) yang diwawancarai, mengatakan bahwa Amerika Serikat sengaja mengatur pasokan senjata kepada pejuang untuk memperpanjang revolusi sehingga menunda jatuhnya al-Assad. Ketika ditanya tentang alasan untuk itu, ia menghubungkannya dengan melindungi negara Israel dari pemerintah yang tidak diketahui di Suriah di masa mendatang.

Titik lain variasi jawaban adalah saat ditanya apakah para komandan pejuang mengantisipasi untuk berperan dalam pemerintahan masa depan. Beberapa komandan menyatakan keinginan untuk kembali ke mantan pekerjaan mereka, sipil atau militer, sementara yang lain dengan tegas menuntut peran dalam menentukan masa depan negara daripada menyerahkan kepada tokoh pengasingan diwakili oleh Koalisi Nasional Suriah (SNC). Mereka merasa bahwa para pejuang di lapangan harus memiliki peran yang lebih besar dalam membentuk masa depan Suriah daripada para penghuni hotel.

Secara garis besar, wawancara tersebut menunjukkan perspektif yang unik dari dalam revolusi Suriah jarang digambarkan di media. Terdapat keinginan yang kuat untuk memiliki masa depan Suriah yang independen dari campur tangan atau pengaruh Barat. Faktor yang paling penting adalah penolakan bulat dari setiap negosiasi dengan elemen apapun yang terkait rezim al-Assad, ini menunjukkan adanya perbedaan yang mencolok dari sikap fleksibel yang diungkapkan oleh “para perwakilan” revolusi yang berbasis di luar Suriah[8]

Oleh: Abdul Salam Abul Ezz

[1] Al-Jazeera News Channel, “Liqaa Al-youm” http://www.aljazeera.net/programs/f3856abc-2800-4123-add6-bff07e17fc7e (Arabic)

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.