Inspirasi Keimanan di Bulan Muharam: Kekuatan Keyakinan dan Kemenangan Umat

(an-najah.net) – Salah satu tuntunan Islam pada bulan Muharam berpuasa. Ibnu Abbas ra mengatakan, “Ketika Nabi saw tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa Asyura’. Rasulullah menanyakan hal, ‘Puasa apa ini?’ Mereka menjawab, “Hari ini adalah hari yang Allah memberikan kemenangan kepada Nabi Musa dan Bani Israil atas Fir’aun, maka kami berpuasa pada hari ini untuk mengagungkannya.” Lalu Nabi saw bersabda, “Kalau begitu kami lebih berhak terhadap Nabi Musa daripada kalian”. Kemudian beliau memerintahkan untuk berpuasa Asyura’. [HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad dan Ad-Darimi]

Saya tidak sedang mengajak Anda berdialog tentang fikih bulan Muharam, tetapi untuk melihat lebih dalam peristiwa penyelamatan Musa bersama kaumnya dari kejaran Fir’aun dan pasukannya. Ada dua hal penting yang patut kita renungkan dari peristiwa ini dan bisa menjadi inspirasi keimanan bagi kita:

Pertama: Ungkapan Kemenangan

Umat Nabi Musa mensyukuri kemenangan nabi mereka dengan berpuasa dan mendekatkan diri kepada Allah. Hal ini juga diperintahkan kepada Nabi Muhammad saw, setelah Islam menyebar luar dan orang-orang berbondong-bondong masuk Islam. (An-Nasr: 1-3).

Kedua: Kekuatan Keyakinan kepada Pertolongan Allah yang Membuahkan Kemenangan

Salah satu alasan sebagian kaum muslimin yang meyakini bahwa jihad dalam arti perang hari ini tidak syar’i adalah ketidakseimbangan kekuatan persenjataan dan jumlah antara kaum muslimin dan musuh mereka. Banyak orang merasa takut, minder, dan bertanya-tanya, apakah mungkin kaum muslimin bisa mengimbangi kekuatan dan dominasi musuh di semua aspek kehidupan. Serangan media yang begitu dahsyat terhadap segala hal yang beraroma jihad akhir-akhir ini telah membuat sebagian orang memilih mundur dari tandzim jihad atau sekedar pengajian yang bahasannya berhias untaian kata-kata jihad.

Kalau dikatakan, banyak mujahid hari ini yang melakukan tindakan sembrono dan miskin strategi, ini mungkin ada benarnya. Mujahid juga manusia. Syaikh Abu Basyir Ath-Thurtusi, misalnya, sejak dahulu tidak setuju dengan aksi bom istisyhad yang dilakukan sebagian mujahid. Beliau menyimpulkan tindakan ini lebih dekat kepada bunuh diri. Tetapi, beliau tetap menganggap pelakunya sebagai orang yang gugur syahid, insya Allah. [1]
 
Sebagai manusia biasa kita memang ditakdirkan memiliki rasa takut dan kita juga tidak boleh meremehkan kekuatan musuh. Tetapi, seorang muslim tidak boleh melupakan ayat-ayat Allah. Mereka memang mempunyai makar, tetapi Allah juga memiliki makar dan makar Allah lebih dahsyat daripada makar mereka.

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (Ali Imran: 54).

Selama seseorang berada di jalan yang benar, perjuangannya tulus hanya karena-Nya, fala takhafu wala tahzanu. Jangan takut dan jangan bersedih.

Bani Israil merasa khawatir dan tidak mungkin selamat dari kejaran Fir’aun karena mereka sudah sangat dekat, tetapi itu tidak terjadi pada Musa as.

فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَى إِنَّا لَمُدْرَكُونَ (61) قَالَ كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ (62)

“Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, para pengikut Musa berkata, ‘Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.” Musa menjawab, ‘Sekali-kali tidak akan tersusul. Sesungguhnya Tuhanku besertaku, Dia akan memberikan jalan keluar kepadaku.” (Asy-Syuara: 61-62).

Tidak selamanya jumlah yang sedikit dikalahkan oleh jumlah yang banyak. Tidak selamanya pula persenjataan yang lengkap bisa mengalahkan kelompok yang kesulitan mendapatkan senjata.

قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو اللَّهِ كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan kembali kepada Allah, berkata, ‘Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah? Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 249).

Ketidakseimbangan kekuatan senjata dan pasukan sebenarnya telah disadari oleh pendahulu kita, Umar bin Al-Khaththab ra. Karena itulah, wasiatnya kepada Sa’ad bin Abi Waqqash dan pasukannya ketika hendak berangkat untuk berperang melawan orang-orang Persia, tidak lain kecuali pesan ketakwaan.

“Andai bukan karena ketakwaan kepada Allah, kaum muslimin tidak akan memiliki kekuatan. Sebab jumlah kita tidak sebanyak mereka, senjata kita tidak secanggih senjata mereka,” kata Umar menasihati mereka.  

“Jika kita sama dengan mereka dalam melakukan maksiat, niscaya mereka lebih kuat daripada kita. Jadi, kita menang atas mereka dengan ketakwaan kita, bukan dengan kekuatan senjata dan jumlah,” tambahnya.[2]

Dalam perang akhir zaman, Ya’juj dan Ma’jud adalah kekuatan yang tidak akan pernah bisa ditandingi oleh manusia, bahkan Isa as sendiri yang turun di akhir zaman. Namun, siapa yang menyangka bila mereka binasa hanya oleh makhluk yang hina di ini. Ya, mereka binasa oleh serangan cacing. Mahabenar Allah yang berfirman, “Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allahlah yang melempar.” (Al-Anfal: 17).
Inilah kaidah-kaidah imaniyah yang harus menjadi pedoman hidup umat ini, menurut Dr. Ali Ash-Shalabi:
1.Yakin dan percaya sepenuhnya kepada manhaj Allah. Inilah manhaj yang benar, sedangkan manhaj lainnya adalah batil.
2.Mengetahui dengan benar peran dan tugasnya di dunia, yakni sebagai saksi bagi seluruh alam dan ini semua tidak akan menjadi kenyataan kecuali dengan hidup bersama Al-Qur’an.
3.Yakin terhadap besarnya pahala dan besarnya kedudukan yang akan diperoleh dengan menjadi saksi bagi alam semesta.
4.Yakin akan pertolongan Allah dan bahwa  itu pasti datang.
5.Yakin sepenuhnya bahwa pertolongan itu tidaklah datang dengan serta-merta, tetapi melalui suatu proses yang panjang.[3]

____________________________

[1] Untuk mengetahui lebih lanjut tentang pendapat beliau, lihat http://hanein.info/vb/showthread.php?t=192655
[2] Itmamul Wafa’, Al-Khudhari (72), dengan penyesuaian redaksi.
[3] Fikih Tamkin, Dr. Ali Ash-Shalabi.

Redaksi: Agus