Iqomatuddin Sampai Akhir Hayat

Iqomatuddin

An-Najah.net – Tiada langkah tanpa Iqomatuddin. Ada sebuah ibadah yang tidak banyak disadari oleh sebagian besar kaum muslimin. Ibadah yang pernah Allah Ta’ala amanahkan kepada nabi-nabi-Nya ibadah yang pernah Allah Ta’ala tawarkan kepada langit dan bumi. Namun dikarenakan beban yang terlalu berat langit, bumi dan gunung-gunung menolak untuk melaksanakannya. Allah Ta’ala menjelaskan ibadah tersebut dalam firman-Nya:

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ ۖ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ ۚ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ ۚ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ

”Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang addin apa yang telah diwasiatkanf Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada lbrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah addin (lqomatuddin) dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Orang-orang musyrik sangat keberatan terhadap addin yang kamu dakwahkan kepada mereka. Allah memilih untuk Addin itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (din)-Nya bagi orang yang bertaubat. “ (QS. Asy-Syuro: 13)

Ibadah tersebut adalah iqomatuddin. Mempelajari, mengajarkan dan memperjuangkan agama Islam serta bersabar dalam mengahadapi rintangan yang menghadang.

Amanah Dan Beban Seluruh Umat

Saudaraku, persepsi kita harus diluruskan, iqoma’ tuddin bukan kewajiban seorang ustadz saja, bukan tugas alumni-alumni pondok atau sarjana-sarjana agama saja. Bukan. Sekali lagi, bukan saudaraku. Namun, iqomatudin adalah amanah seluruh umat Islam, tanpa kenal status sosial, pangkat, jabatan dan usia. Selama mereka masih sebagai seorang muslim, maka iqomatuddin berada di atas pundaknya.

Saudaraku, sudah tidak asing lagi bagi kita Bilal bin Rabbah, beliau adalah seorang sahabat Rasulullah Saw yang status sosialnya dipandang rendah saat itu, juga mempunyai tugas dan kewajiban untuk iqomatuddin. Abu Bakar seorang saudagar yang terpandang, beliau tetap diwajibkan berdebu dan berlusuh-lusuh di medan Jihad. Dulu, sebelum masuk Islam.

Mush’ab bin ‘Umair ada|ah pemuda yang parlente, senang hura-hura, tetapi sesudah Islam menyatu dengan jiwa-raganya, beliau harus rela meninggalkan tanah airnya, tumpah darahnya, keluarganya yang selalu memanjakannya dan teman-teman yang selalu melipur lara. Beliau mantapkan langkah kakinya untuk menuju negeri seberang.

Yatsrib nama kota kala itu yang kini dikenal dengan Madinah, hanya untuk satu tujuan yaitu Iqomatuddin; mendakwahkan, mengajarkan Islam di Madinah. Beliau bersabar menghadapi teror, ancaman dan ejekan demi tegaknya Islam. Mereka sadar, kewajiban iqomatuddin diamanahkan kepada mereka semua, tidak kenal pangkat, umur, kaya atau miskin.

Sampai Kapan Iqomatuddin ini?

Saudaraku, melihat realita di lapangan, kadang hati terasa miris, jiwa terasa sesak. Bagaimana tidak, banyak umat Islam yang salah persepsi  (tanggapan) tentang kewajiban iqomatuddin. Banyak yang menyangka, iqomatudin ini hanya diwajibkan dalam rentang waktu tertentu. Disangkanya, iqomatuddin hanyalah aktifitas sesaat, hanya untuk mengisi waktu dan ruang yang kosong.

Sekali-kali tidak. Iqomatuddin bukan, aktifitas sesaat. Bukan rentang waktu tertentu. Bukan hanya ketika anda masih kuliah, selesai kuliah hilang sudah kewajiban ini; bukan di saat Anda bujang saja, setelah menikah gugur sudah kewajiban ini; bukan hanya disaat Anda masih muda dan bertenaga, berani menerima tantangan, lalu setelah usia senja kewajiban itu hilang. Akhir dari kewajiban kita beriqomatuddin adalah tatkala al yaqin (kematian) menjemput kita. Allah Ta’ala mengingatkan hal ini,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Dan beribadahlah kepada Rabb-mu sampai datang kepadamu al Yaqin (ajal).” (QS. Al-Hijr: 99)

Kedatangan al Yaqin adalah akhir dari ibadah yang terangkum dalam iqomatuddin. Setelah al Yaqin itu datang, fase kehidupan baru dimulai, itulah fase memetik hasil selama kehidupan dunia. Hanya ada dua hasil setelah al yaqin; kenikmatan dan peristirahatan yang abadi, atau adzab yang menyakitkan.

Jadikan Ulama Kalian Sebagai Panutan.

Saudaraku, hayatilah kehidupan para ulama kalian. Jadikan mereka sebagai tauladan dalam iqomatuddin. Mereka adalah alumni dari madrasah-madrasah yang bernama; qiyamullail, jihad fi sabilillah dan puasa. Mereka telah dididik dengan kurikulum ilahiyah nan robbaniy, itulah kurikulum al Qur’an dan as Sunnah. Hasilnya, mereka menjadi manusia-manusia langit, pikiran-pikiran mereka telah tercelup wahyu ilahi. Kehidupan mereka telah dipersembahkan untuk Islam. Menjual jiwa, raga dan hartanya untuk mencari kehidupan abadi di sisi ngt Yang Maha Penyayang.

Jangan pernah terbetik dalam pikiran kalian untuk menjadi ulama’ suu’ yang pikirannya telah dikuasai oleh syahwat duniawi. Kehidupannya hanya berkisar pada pemuasaan perut dan di bawah perutnya. Menjadikan agamanya sebagai barang dagangan untuk membeli syahwat dunia, rugi dan celaka.

Lihatlah Abu Ayyub AI Anshory  80 tahun umur beliau, rambutnya sudah banyak beruban, kulitnya sudah mengkriput. Beliau masih merasa beban iqomatuddin itu berada di atas pundaknya Sebagai bukti penanggungjawabannya, beliau ikut berjihad dalam penaklukan kota Konstatinopel. Walau beliau meninggal sebelum sampai ke Konstatinopel, sebelum sempat membabat leher para penentang Allah Ta’ala, tetapi mayat beliau ikut berperang, aura semangat dari mayat beliau membuat mujahidin lainnya ‘ bergelora, menggelegak, menghantam musuh-musuh Allah Ta’ala

Beliau paham betul bahwa iqomatuddin (di antaranya Jihad) diwajibkan di atas pundaknya sampai ajal menjemput. Beliau Sangat paham firman Allah Ta’ala:

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jaIan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (At Taubah; 41)

Jika jihad yang merupakan ibadah yang terberat dipahami oleh Abu Ayyub al Anshory sebagai kewajiban tetap dibebankan kepada siapapun, walau setua beliau, lalu bagaimana dengan iqomatuddin dalam bentuk yang lebih ringan…? Saudaraku, pertanyaan ini tidak membutuhkan jawaban yang terangkai dalam kalimat indah, namun yang dibutuhkan adalah renungan dan penghayatan. Wallahu Ta’ala ‘Alam

Sumber            : Majalah An-Najah edisi 51, hal 29, 30

Penulis             : Abdullah

Editor              : Ibnu Jihad