Islam Dan Liberalisme

Ilustrasi, Liberalisme
Ilustrasi, Liberalisme
Ilustrasi, Liberalisme

An-Najah.net – Problem liberalisasi agama sebenarnya tidak sekedar menimpa Islam, tetapi hampir seluruh agama di dunia ini telah dan sedang menghadapi kehancuran akibat liberalisasi yang melanda mereka. Yang paling serius menghadapi permasalahan ini adalah Barat, dalam hal ini Kristen. Dan memang dari Barat-lah liberalisme itu lahir.

Dalam kajian DR. Hamid Fahmi Zarkasyi, yang dituang dalam bukunya Liberalisasi Pemikiran Islam, disebutkan bahwa asal-usul muasal liberal adalah dari barat. Kelahiran liberalis dipelopori oleh para ilmuwan Barat yang merasa dibingungkan sekaligus dirugikan oleh doktrin gereja.

Ada juga yang menyimpulkan, Liberal lahir dari paham Yunani kuno yang menjadi element terpenting dalam peradaban Barat. Namun jika dilacak hingga abad pertengahan liberalisme dipicu oleh kondisi system ekonomi dan potilik yang didominasi oleh bangsawan.

Dari ini sini, bisa dipahami bahwa liberalisasi di Barat berkembang pada dua bidang utama: yaitu  (1) liberalisasi di bidang ekonomi dan politik, (2) dan liberalisasi di bidang agama/pemikiran. Pada awalnya, kalangan intelektual Barat hendak bebas (liberal) dari agama dan Tuhan. Namun berkembang menjadi liberalisme pemikiran (doktrin-doktri) keagamaan.

Sebab Barat Jadi Liberal

Inti dari liberalisasi agama adalah penolakan terhadap hak-hak Tuhan dan segala otoritas yang diperoleh dari Tuhan; menyingkirkan agama dari kehidupan manusia. Termasuk, menolak otoritas gereja yang sebelumnya menghegemoni kehidupan di Barat.

Sedangkan, DR. Adian –peneliti peradabab Barat- menyimpulkan sebab terjadinya liberalisasi di Barat ada tiga;

Pertama: Trauma Sejarah.

Barat yang tersusun dari peradaban Yunani, Romawi yang dikawinkan dengan agama Kristen, pernah mengalami masa-masa kegelapan (the dark ages). Masa-masa ini, sebagaimana digambarkan oleh Bernard Lewis, diwarnai dengan perpecahan, kekafiran, pembunuhan, pembantaian, perbudakan, penindasan serta peperangan yang panjang.

Baik itu disebakan konflik antara para penguasa, atau konflik antara gereja yang berbeda aliran. Ini terjadi setelah runtuhnya Imperium Romawi Barat 476 M. Pada zaman ini lahirlah hegemoni kekuasaan Gereja, dan yang paling menonjol adalah INQUISISI.

Menurut Karen Amstrong, Inquisisi Kristen milik gereja ini sangat jahat dan kejam. Ia menyebarkan terror ke berbagai kalangan yang tidak tunduk pada kemauan gereja.

Hal inilah yang membuat orang-orang Barat di kemudian hari menjadi trauma dan horror kepada gereja dan peradaban masa lalunya. Seorang psikolog Barat menuturkan, “Ketika kata religion disebut di duni Barat, maka yang tergambar adalah inqusisi, tahyul, lemah semangat, paham dogmatis, munafik, benar sendiri. Ketakutan, taat aturan agama, kekasaran, pembakaran buku..”

Trauma sejarah inilah yang melahirkan ide untuk diadakannya sekulerisasi-liberalisasi di Barat. Yaitu sebuah upaya mencongkel kekuasaan gereja dan raja-raja dari kehidupan publik. Agama harus dipisahkan dari politik dan kehidupan manusia. Agama tidak boleh mengatur kehidupan politik, ekonomi dan lain sebagainya. Agama harus dikurung di gereja, tidak boleh berkeliaran di luar gereja.

Kedua: problema teks Bible.

Hal ini terkait dengan keotentikan teks Bible (injil) dan makna yang terkandung di dalamnya. Para pengkaji Bible merasakan kebingungan yang sangat dalam menghadapi sejumlah teks dalam Bible.

Misalnya, tentang siapa penulis Bible. Hal ini masih menjadi misteri bagi pengkaji Kristen. Richard Elliot Firedman, adalah salah satu pengkaji yang mengalami kebingungan dalam mengungkapkan misteri ini. Untuk mengungkap kesulitannya menemukan siapa penulis Bible ia menyusun buku, “Who Wrote the Bible” –Siapa yang Menulis Bible-.

Perjanjian Baru pun mengalami masalah otentisitas (keaslian) teks. Apakah ayat-ayat yang terkandung dalam Pernjanjian Baru itu asli atau palsu, inilah yang menjadi probelmnya. Hal ini diakui oleh banyak pakar Kristen.

Misalnya, Profesor Bruce M. Metzger, guru besar bahasa Perjanjian Baru di Princeton Theological Seminary, menulis dua buku tentan problem ini. Ia menyimpulkan bahwa ada dua kondisi yang selalu dihadapi oleh penafsir Bible, yaitu (1) tidak ada dokumen Bible yang original hari ini, (2) bahan-bahan yang ada (ayat-ayat Bible) pun sekarang ini bermacam-macam, berbeda (kontradiksi) antara satu dengan yang lainnya.

Ketiga; problema teologis (ketuhanan) Kristen.

DR. C. Groenem Ofm, seorang teolog Belanda, mencatat, “Seluruh permasalahan kristologi di dunai Barat berasal dari kenyataan bahwa di dunia Barat, Tuhan menjadi satu problem.”

Setelah membahas puluhan konsep para teolog besar di era Barat Modern, Groenem akhirnya “lelah” dan “menyerah”. Ia pun berkesimpulan bahwa konsep Kristen tentang Yesus memang “Misterius”, dan tidak dapat dijangkau oleh akal manusia.

Tentang hari istirahat yang konon diklaim dari ajaran Yesus pun mengalami revolusi. Sekitar tahun 321 M, tokoh-tokoh Kristen menetapkan hari Minggu. Padahal sebelumnya mereka menetapkannya hari Sabtu. Kelahiran Yesus pun seperti itu, dulu diperingati tanggal 6 Januari, kemudian, direvisi menjadi tanggal 25 Desember.

Bahkan, perdebatan tentang sosok Yesus sampai pada tahap ia sosok yang nyata atau fiktif dan simbolik saja. Bukan sekedar sampai di sini, pengkaji Bible pun sampai mendiskusikan hal-hal yang bersifat moralitas pada sosok Yesus. Siapa istrinya, laki atau perempuan, bahkan pernahkah dia berhubungan biologis.

Marthin Luther sendiri menegaskan bahwa Yesus pernah berzina sebanyak tiga kali; pertama dengan seorang wanita di sumur, kedua dengan Maria Magdalena, dan ketiga dengan pelacur. Jadi, menurut sebagian pemikir Kristen, bahkan Yesus Kristus yang begitu suci harus melakukan zina sebelum ia mati.

Problem-problem ini, membuat Barat mengalami trauma. Akhirnya, mereka berupaya lari dari sejarah yang traumatis ini. Dalam bidang sosial-politik mereka mengembangkan sekulerisme sebagai ganti sistim gereja dan theokrasi yang sangat mengerikan itu.

Dalam bidang theology (akidah/ketuhanan) mereka mengembangkan pluralisme dan beberapa bawaannya seperti metodologi Hermeneutika. Sebagai ganti dari theology Kristen yang membingungkan mereka itu.

Dari pemaparan di atas, dapat dipahami perbedaan antara sejarah dan akidah Islam dengan sejarah dan akidah Krisiten-Barat. Bahwa sejarah kelam Kristen-Barat, tidak pernah dialami oleh umat Islam. Pun problem teks Bible, tidak pernah dialami oleh alQur’an maupun hadits sebagai pedoman umat Islam. Karena keduanya adalah wahyu Allah swt, tertulis dengan rapi, teriwayatkan secara baik, dan dijamin keasliannya hingga akhir zaman.

Demikian juga, problem theology Kristen yang membingungkan dan menyedihkan itu tidak juga dialami oleh Islam. Sebab konsep ketuhanan (uluhiyah, rububiyah, dan asma’ wa shifat) dalam Islam sangat jelas dan gamblang. Al-Qur’an dan hadits pun telah memberikan rumusan yang jelas dalam masalah ini.

Karena itu, sungguh sangat konyol, jika sebagian sarjana ‘muslim’ yang latah dan ikut-ikutan perilaku Barat dalam mengebiri agama mereka. Jika Barat sudah masuk lubang biawak, mengapa ikut-ikutan masuk lubang biawak. Hanya orang kehilangan akal sehat yang ikut-ikutan ini.

Sumber : Majalah An-najah Edisi 107 Rubrik Tema Utama

Penulis : Akram Syahid

Editor : Anwar