Islam Itu Indah, Cinta Kebersihan

Belajar kebersihan dari wudhu
Belajar kebersihan dari wudhu

An-Najah.net – Islam itu sesuai dengan fitrah manusia. Jiwa manusia tentu tidak suka kepada sesuatu yang kotor. Seseorang ketika akan menghadap raja atau pejabat. Ia harus mengenakan pakaian yang paling bagus, bersih, dan rapi.

Jika hal itu dilakukan terhadap makhluk, lalu bagaimana jika kita mengadap Allah al Khaliq, Maharaja diraja?.  Allah yang Mahabijak telah mewajibkan wudhu dan mandi agar kita bersih ketika akan shalat. Bahkan ketika kemasjid diperintahkan dengan memakai pakaian yang terbaik.

Rahasia lain adalah malaikat tidak menyukai tempat dan pakaian yang kotor. Orang-orang pun tidak suka kita kotor atau bau. Allah yang mahabijak mensyari’atkan mandi pada hari jum’at dan hari raya. Karena itu kaum muslimin berkumpul. Orang-orang senang kalau kita bersih.

Kebersihan sebagian dari Iman

Bersih dan suci merupakan kewajiban secara syar’i. Suci disini adalah suci lahir. Sekalipun ia sangat urgen, tetapi kebersihan lain yang harus dimiliki seseorang yaitu bersih hati dari sombong, dengki, dendam, bangga diri dan sifat-sifat lain yang merusak akhlak. Itulah kebersihan batin.

Rasulullah Saw bersabda, “Kebersihan sebagian dari iman”. Allah Swt juga berfirman, “Dan pakaianmu, sucikanlah” (Qs. Al Muddatsir : 4). Jika pakaian harus suci, badan harus lebih suci. Apalah artinya kalau pakai pakaian yang bersih, tetapi badannya penuh dengan noda dan kotoran. Tentu dia harus mandi membersihkan diri terlebih dahulu.

Allah Swt dalam surat yang lain juga berfirman. “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub, mandilah.” (Qs. Al Maidah : 6).

Rasulullah juga bersabda, “Tidak ada shalat tanpa bersuci”. Juga sabdanya lain “pembuka shalat adalah bersuci”. Nas-nas ini menunjukkan kesucian secara hakiki berupa pakaian, dan badan bahkan tempat. Juga secara hukum yang menjadi syarat absyahnya shalat.

Bahkan Ibnu Qudamah dalam kitab minhajul qasidin menjelaskan kebersihan itu ada empat.

Pertama, Mensucikan kotoran yang kelihatan.

Kedua, Mensucikan anggota badan dari beragam dosa, seperti dosa tangan, dosa penglihatan, pendengaran dan lainnya.

Ketiga, Mensucikan hati dari bermacam-macam sifat tercela.

Keempat, mensucikan hati dari selain Allah.

Ini adalah thaharahnya para nabi dan rasul. Namun kebanyakan manusia masih pada tingkatan pertama, kecuali orang-orang yang dirahmati Allah Swt.

Penulis : Anwar Ihsanuddin S.Pd

Editor : Miqdad