Browse By

Islam Spirit Jiwa Raga Umat Islam

Islam Spirit Jiwa Raga Umat islam

Islam Spirit Jiwa Raga Umat islam

An-Najah.net – Islam adalah dienullah yang istimewa. Tidak ada yang mampu menandinginya dalam semua sisi. Baik kemanusiaan, ketuhanan, social, politik, peribadatan, akhlak, dan syari’at lainnya. Sementara ideologi, keyakinan dan dien selain Islam, terbukti mengalami banyak kecacatan dalam hal-hal tersebut.

Spirit Filosofi Islam

Islam (الاسلام) berasal dari akar kata Aslama –Yuslimu- Islaman (اسلم – يسلم – اسلاما). Memiliki makna; penyerahan, ketundukkan dan kepasrahan.

Dalam Al-Qur’an, banyak sekali diungkapkan kalimat Aslama, dan pecahan dari kata ini. Maknanya tidak jauh dari tiga pengertian di atas. Misalnya, firman Allah SWT;

أَفَغَيْرَ دِينِ اللهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ

“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (Qs. Ali Imran: 83), lihat juga surat al-Maidah, ayat 3.

Juga firman-Nya di surat Ali Imran:85. Dari pengertian secara Bahasa dapat dipahami bahwa inti falsafah Islam terletak pada ketundukkan terhadap Allah SWT secara totalitas, tidak boleh protes, dan diharamkan menolak sesuatu yang telah diputuskan oleh Allah dan rasul-Nya.

Ketundukkan ini dibuktikan dengan ketundukkan dan penerimaan penuh terhadap syari’ah Islam. Seorang muslim, tidak layak melakukan tawar menawar, sesuatu yang telah diputuskan oleh syari’ah Islam, (Qs. Al-Ahzab: 36). Tentunya, menolak syari’ah itu lebih diharamkan lagi.

Hakikat Berislam

Ditinjau dari sisi istilah, Islam didefenisikan dalam ragam ungkapan oleh para ulama. Namun, keberagaman definisi ini tidak saling menafikan. Tetapi saling melengkapi dan menguatkan. Syaikh Muhammad at-Tamimi mendefenisikan:

هُوَ الْاِسْتِسْلَامُ لِلَّهِ بِالتَّوْحِيْدِ، وَاْلاِنْقِيَادُ لَهُ بِالطَّاعَةِ، وَالبَرَاءَةُ مِنَ الشِّرْكَ وَأَهْلِهِ

“Islam adalah patuh kepada Allah dengan mentauhidkannya, tunduk kepada-Nya dengan penuh ketaatan dan berlepas dari (baro’) dari kesyirikan dan orang-orang musyrik.” (Syarh Ushul Tsalatsah, al-Utsaimin, hlm. 64)

Imam Ibnu Mandhur dalam Lisanul ‘Arab Al Muhit menyebutkan: Yaitu menampakkan ketundukan dan melaksanakan syariah serta menetapi apa saja yang datang dari Rasulullah SAW.”

Definisi Syaihk Muhammad at-Tamimi lebih sederhana dan melingkupi semua definisi yang dikemukakan oleh para ulama lainnya.

Setidaknya ada tiga unsur utama dalam definisi di atas. Ketiga-tiganya, harus ada pada seseorang yang menyatakan dirinya sebagai muslim, agar keislamannya betul-betul bermakna. Yaitu;

Pertama: Penyerahan diri secara totalitas kepada Allah SWT dengan mentauhidkan-Nya.

Penyerahan diri kepada Allah SWT sifatnya muthlak, dan tidak boleh diduakan. Ada orang-orang yang menyerahkan diri kepada Allah SWT. Namun dalam waktu bersamaan, mereka juga memasrahkan dirinya kepada selain Allah SWT. Ini bukanlah muslim.

Allah menvonis Yahudi dan Nasrani sebagai musyrik. Disebabkan, mereka menyerahkan urusan aturan halal-haram kepada para rabi dan pendetanya. Bukan kepada Allah SWT semata. Sebagaimana termaktub dalam hadits Adhi bin Hathim (Qs. At-Taubah: 31).

Jika dalam shalat mereka mentauhidkan Allah SWT, sementara dalam urusan hukum yang lebih luas; aturan hidup manusia, halal-haram, dan sejenisnya dipasrahkan kepada selain hukum Allah, ini adalah kesyirikan nyata. Allah SWT tidak rela diduakan dalam masalah ini. Ia berfirman:

وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا

“Dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan.” (Qs. 18/26)

Syaikh asy-Syanqithi menulis, “Dapat dipahami dari ayat ini, bahwasanya orang-orang yang mengikuti undang-undang selain dari Allah SWT divonis musyrikin, menyekutukan Allah SWT. Penjelasan ini didukung kuat oleh ayat-ayat lainnya. Seperti ayat yang menvonis musyrik orang-orang yang mengikuti aturan (perundangan) setan dalam menghalalkan bangkai dengan alasan bahwa bangkai itu disembelih oleh Allah SWT.

Allah berfirman –Qs. al-An’am/121-” secara gamblang, Allah menvonis musyrik karena ketaatan mereka kepada setan. Ini syirik ta’at. Juga karena mereka mengikuti aturan yang menyimpang dari syari’at Allah SWT. Inilah makna ‘menyembah setan’ sebagaimana termaktub dalam firman-Nya –Qs. Yaasin: 60-61.” (Tafsir Adhwa’, 3/259)

Kedua: Ketundukkan total kepada Allah SWT dengan mentaati-Nya.

Banyak orang yang tunduk kepada Allah SWT, tetapi tidak mentaatinya, ini ketundukkan palsu. Inilah alasan kenapa Islam menuntut pemeluknya untuk tunduk kepada Allah SWT dengan mentaati-Nya. Bukan sekadar ketundukkan simbolis.

Iblis adalah makhluk yang tunduk kepada Allah SWT, mengenal dan yakin akan wujud serta kekuasaan Allah SWT. Dia kafir, sebab ketundukannya tidak disertai ketaatan. Ia menolak perintah Allah untuk sujud kepada Adam AS.

Ketundukan yang total dibuktikan dengan menerima nilai-nilai Islam dalam kehidupan kita. Serta menolak setiap aturan dan perundangan yang tidak sesuai syari’at Allah SWT. Jika masih menerima aturan di luar Islam, maka keislamannya batal. Ia tidak memenuhi syarat berislam.

Syaikh al-Allamah Asy-Syanqithi RHM menulis, “Dengan nash-nash langit yang jelas ini, Nampak sekali di hadapan kita bahwa orang-orang yang mengikuti undang-undang positif yang ditetapkan oleh setan lewat lisan paa wali-nya, yang menyimpang dari syari’at Allah SWT yang dibawa nabi-Nya SAW, maka tidak diragukan lagi atas kekufuran dan kesyirikan orang-orang tersebut. Yang meragukan hanya orang-orang yang ditutup mati hatinya, serta dibutakan oleh Allah dari cahaya wahyu.” (Tafsir Adhwa, 3/259)

Ketiga: Berlepas diri dari kesyirikkan dan para pelakunya.

Seseorang tidak akan mengetahui tauhid dengan baik, tanpa mengetahui kesyirikan. Dan keislaman seseorang tidak akan sempurna, tanpa berlepas diri dari kesyirikan dan para pelakunya.

Di atas prinsip inilah millah nabi Ibrahim AS dibangun. Mayoritas kisah dalam Al-Qur’an mengisahkan perjalanan orang-orang shaleh yang berpegang teguh di atas prinsip ini. (Qs. Al-Mumtahanah: 4)

Syirik adalah tindakan kriminal yang paling dimurkai Allah SWT. Sebab, ia menyangkut rububiyah dan uluhiyyah Allah SWT. Pelakunya telah mensejajarkan antara Khaliq (pencipta) dengan makhluk (ciptaan). Maka Allah mengancam untuk tidak mengampuni pelaku kesyirikan yang tidak bertaubat sebelum meninggal (Qs. An-Nisa’: 48).

Bukti keseriusan menjauhi syirik, adalah menjauhi para pelakunya. Tentunya ini dilakukan secara tegas dan terang-terangan setelah ada upaya yang maksimal dalam mendakwahi mereka. Seperti yang dicontohkan khalilullah Ibrahim AS dan Muhammad SAW.

Inilah hakikat Islam. Ia bukan sekedar penunjuk identitas. Tapi Islam adalah keyakinan, amalan dan pembuktian dalam kehidupan. Ia aturan hidup yang purna, dan menuntut pemeluknya untuk menerapkan dalam kehidupan mereka.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 142 Rubrik Tema Utama

Penulis : Akrom Syahid

Editor : Anwar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *