Islam, Pilar dan Slogan Pemersatu Umat

Islam adalah Pilar Pemersatu
Islam adalah Pilar Pemersatu
Islam adalah Pilar Pemersatu

An-Najah.net – Jauh hari Al-Qur’an mengingatkan kepada kita bahwa segala kesalahan yang dialami suatu kaum adalah akibat perpecahan dan tidak Bersatu padu.

Sehingga Tidak diragukan lagi, bahwa persatuan umat adalah dambaan seluruh umat Nabi Muhammad.

Banyak dalil-dalil syar’i yang menyerukan umat Islam agar Bersatu padu, merapatkan barisan, saling tolong menolong dalam kebajikan dan takwa.

Hingga disebutkan dalam riwayat, “Al-Jama’atu rahmatun wal furqatu adzabun.” Artinya, “berkumpul itu adalah Rahmat, dan berpecah itu adalah azab.” (HR. Imam Ahmad dan Al-Qadha’i dari Nu’man Ibnu Basyir; Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, 667)

Sadar atau kurang sadar, musuh-musuh Kita betul-betul paham bahwa Furqah (perpecahan) adalah senjata Nomor satu menohok umat Islam. Maka, mereka selalu memanfaatkannya pada setiap tempat dan waktu dan telah jadi kebanggaan mereka.

“Jika kamu memperoleh kebaikan, percaya mereka bersedih hati. Akan tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun Tidak mendatangkan kemadharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali Imran: 120)

Imam Qatadah menafsirkan, “Apabila mereka melihat para pemeluk Islam bersatu, berjamaah dan menang di atas musuhnya, itu menjadikan mereka marah dan Tersakiti.

Namun, Apabila mereka melihat para pemeluk Islam berpecah dan berselisih, atau ada di antara pemeluknya yang tertimpa musibah, Mereka senang, bangga dan gembira.” (Tafsir Ath-Thabari, 7/155-156)

Bahkan setan senantiasa membantu orang-orang kafir dan munafik dengan permainan cantiknya dalam memecah belah umat. Sehingga umat ini terperosok jauh dalam hasutan nya.

“Sesungguhnya setan telah putus asa untuk di sembah orang orang yang salat di Jazirah Arab, tetapi dengan mengadu domba di antara mereka.” (HR. Muslim)

Maka dari itulah Allah mengingatkan kita di dalam firmannya, “dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu. Dan Bersabarlah; Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Pilar Pemersatu Umat

Risalah Islam dibangun di atas asas persatuan. Dan risalah Allah turun atas setiap umat tidak hanya ubudiyah individual tanpa hubungan sosial antar sesama.

Bahkan kalau kita perhatikan secara seksama, kewajiban dan sunnah-sunnah yang Allah dan Rasul-Nya garis dan ternyata seluruhnya mengandung unsur persatuan di bawah komando taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Baik Alquran maupun as-sunnah telah memberikan arahan persatuan dan beberapa ratus kalimat dalam Al-Qur’an berinteraksi kepada kita dengan menggunakan kalimat jamak.

Dan berapa sabda rasulullah yang membimbing umatnya ke arah sana. Ini menunjukkan bahwa risalah Islam dibangun di atas jamaah dan wihdatul Ummah.

Satu contoh, shalat berjamaah di Masjid, salat Jumat, idulfitri dan Iduladha Shalat Kusuf dan khusuf, Istisqo dan wukuf di Arafah serta jihad adalah ibadah ibadah pemersatu umat.

Menjenguk saudara yang sakit, mengunjungi kawan dan mengantarkan jenazah adalah bagian dari mewujudkan persatuan.

Demikian pula zakat, infaq, shodaqoh dan memberi makan orang yang kesusahan. Tak kalah ketinggalan menebar senyum memaafkan berlapang dada, menyebar salam, berjabat tangan dan saling memberikan hadiah Serta akhlak-akhlak Mulia lainnya.

Demikian juga dengan gajian hati beserta Amaliah nya dan perusak perusak nya. Seperti Riya’, dengki Ujub, sombong, tamak dan lain-lainnya. Semua itu ternyata menjadi andil terhadap keretakan ukhuwah dan wihdatul Ummah.

Ditambah kalimat-kalimat Toyibah tulisan yang semestinya dilantunkan kepada sosok beriman yang seringkali terabaikan. Padahal ini adalah berkat ukhuwah islamiyah. Justru kalimat-kalimat jelek seringkali terucap dari lisan kita. Padahal Ia perusak ukhuwah islamiyah.

Para Salaf telah banyak mencontohkan kepada kita selaku penerus nya. Lebih mengedepankan ukhuwah dibandingkan ijtihad pribadi dan lebih mengunggulkan kelebihan lawan bicaranya dibandingkan pendapat pribadinya walaupun lebih kuat ilmiahnya dan lebih diakui keilmuannya.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah Ibnu Zubair bahwasannya serombongan dari bani Tamim datang kepada Nabi Abu Bakar berkata; “Angkatlah Qa’qa’ Ibnu Mas’ud bin Zurarah.”
Sedangkan Umar berkata, “Angkatlah Qa’qa’Ibnu habis.”

Abu bakar berkata, “tidak ada yang engkau maukan kecuali hanya menyelisihiku?”
Umar menjawab, “tidak ada keinginanku untuk menyelisihi mu.”

Maka terjadilah perdebatan antara keduanya hingga suara mereka meninggi. Maka turunlah ayat, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului; hingga akhir ayat (QS. Al-Hujurat)

Tapi apakah terukir dalam sejarah, lantaran perdebatan di atas Abu Bakar As Siddiq dan Umar Ibnul khotthob saling adu kekuatan, saling menjatuhkan dan mencari pengikut?

Ternyata kebersihan hati mereka tetap menjernihkan panggung sejarah bahwa keduanya adalah 2 sahabat yang bahu-membahu menegakkan Islam sepeninggal Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Islam Sebagai Slogan Pemersatu

Berbagai macam pemikiran dan ide pemersatu ditawarkan oleh para pemikir dewasa ini. Namun, berbagai tawaran ini tidak ada satupun yang terbukti mujarab.

Bahkan seiring banyaknya tulisan dan pertemuan-pertemuan membahas Persatuan Islam, perbedaan di tengah-tengah umat Kian menggurita.

Jika meneliti ayat maupun realitas sejarah, seperti pada zaman sahabat, juga pada awal-awal penegakan Daulah utsmaniyah, kita akan percaya bahwa pemersatu umat ini hanya Islam.

Islam lah yang menjadi slogan pemersatu umat yang terdiri dari berbagai gerakan, suku, bahasa maupun kecenderungan ini.

Slogan pemersatu adalah mengajak masyarakat untuk komitmen dengan agama ini secara menyeluruh, dengan syariatnya, akhlaknya tidak untuk komitmen dengan yang lainnya.

Inilah Manhaj Nabi Ibrahim Alaihissalam dan nabi Muhammad kita pun diperintahkan untuk mengikutinya. Demikian tulis Syekh Sulaiman Al Azhar dalam Kaifa tasta’idul ummah.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang sholeh dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushilat: 33)

Seorang aktivis harus membangkitkan kebanggaan dan rasa cinta umat kepada Islam. Seorang aktivis harus mengarahkan obsesi dan kecenderungan umat untuk komitmen dengan nilai-nilai Islam yang global, mengabaikan perkara-perkara yang parsial dan ijtihadi. Bukan kepada pemikiran seorang tokoh atau produk manusia lainnya.

Walau kenyataan untuk bersatu dibawah satu komando harokah Islam, menjadi sesuatu yang sangat sulit bahkan hampir mustahil.

Tetapi minimal dengan usaha ini, umat Islam dari berbagai harokah dan lapisan, Seiya-sekata dalam prioritas amal dan menghadapi musuh bersama dari kalangan kafir dan musyrikin.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 111 Rubrik Tema Utama

Penulis : Abu Asiyah Zarkasyi & Akrom Syahid

Editor : Helmi Alfian