Islamphobia, Ahmed Remaja Muslim di AS

Ahmed Muhamed
Ahmed Muhamed

An-najah.net – Tertuduh tapi tidak bersalah. Itulah yang dialami seorang remaja muslim, Ahmed Muhamed (14). Ia tinggal di Texas Amerika serikat (AS). Senin (14/9), remaja ini berangkat ke sekolah dengan dengan hati yang berbunga-bunga. Ia punya niat baik untuk menunjukkan hasil temuannya kepada guru tekniknya.

“Saya membuat jam. Sesuatu yang sangat mudah. Saya hanya ingin menunjukkan kepada guru dan teman-teman” kata ahmed dalam jumpa pers dihalaman rumahnya Rabu (16/9).

Namun, apalah yang terjadi. Bukannya pujian yang diperoleh. Tetapi, ia malah diborgol dan dikeler ke kantor polisi AS. Seorang muslim harus diintrogasi sehingga berdampak shock dan sakit hati.

Belum lagi, ayahnya ketika hendak menjenguknya tidak diberi izin polisi. Dengan alasan karena baru proses pemeriksaan.

“Ketika tiba disana, saya melihat anak saya dikelilingi lima polisi dengan tangan terborgol” ujar ayah Ahmed.

Pria asal Sudan ini terkejut. Ketika polisi mengontaknya dan mengatakan bahwa Ahmed bakal dijerat dengan dakwaan kepemilikan bom palsu.

Kejadian itu bermula, ketika barang bawaannya itu diketahui guru bahasa Inggris. Secara serta merta guru itu meloporkan ke Polisi. “Saya dituduh membuat bom palsu. Mereka menangkap saya” ungkap remaja muslim ini.

Penangkapan remaja yang baru sekolah naik ke kelas IX di Mac-Athur High School. Ini menunjukkan kepada dunia betapa besarnya islamphobia di AS. Ia ditangkap karena seorang muslim. Apalagi namanya menggunakan nama Ahmed Muhamed.

Ayah Ahmed, Mohamed Elhassan menungkapkan : “Putranya hanya ingin menciptakan sesuatu yang bagus, namun karena namanya Mohamed dan karena kejadian 11 September maka putra saya mendapatkan perlakuan tak layak“. Ungkapnya sebagaimana dilansir bbc.com

Kondisi yang menyedihkan kembali. Ketika remaja telah menyelesaikan pemeriksaan. Ia di izinkan untuk pulang bersama Ayahnya. Polisi juga tidak menjeratnya dengan dakwaan apapun. Namun, polisi tidak minta maaf karena telah menangkap dan memborgol Ahmed.

Bahkan, seperti sudah jatuh tertimpa tangga lagi. Sekolah dimana ia belajar. Bukannya minta maaf. Padahal sekolah ini yang melaporkan ia membawa rakitan bom palsu. Akan tetapi pelajar muslim ini malah dijatuhi sanksi dari sekolah. Siswa cerdas ini diskors tiga hari sampai hari kemarin (17/9).

Kisah perjalanan hidup Ahmed di AS. Ini memberikan sebuah pelajaran. Bahwa ia ditangkap, diborgol, dikeler dan diintrogasi bukan karena maling, merampok. Tetapi perlakuan itu diterimanya karena ia memeluk agama Islam.

Sudah selayaknya seorang muslim harus ikut merasakan penderitaan saudaranya. Penangkapan terhadap pemuda muslim di AS ini merupakan bentuk kedzaliman. Ahmed adalah saudara kita. Ikatan ukhuwah islamiyah itu dibangun bukan berdasarkan kesamaan bahasa, warna kulit, bangsa. Namun, Ikatan ukhuwah islamiyah itu diikat oleh kesamaan aqidahnya. (Abu Kholid).