Israel Terapkan Politik Apartheid Bagi Warga Palestina

32 (1)

Tel Aviv (an-najah.net) – Zionis Israel, Selasa (19/5) di bawah perintah Menteri Pertahanan Moshe Ya’alon meluncurkan program percontohan, berupa pemisahan perjalanan bus bagi warga Palestina yang melewati Israel di Tepi Barat.

Pekerja Palestina diwajibkan kembali dari Israel ke Tepi Barat melalui pos pemeriksaan yang sama. Mereka tidak akan diizinkan untuk naik jalur bus Israel dengan jalur yang berbeda.

Sebelumnya, untuk kembali ke rumah mereka di Tepi Barat, warga Palestina bisa menggunakan bus yang dialokasikan untuk pemukim Yahudi, guna menyingkat waktu dan menghindari pemeriksaan keamanan pada perjalanan pulang. Namun dengan adanya program baru tersebut, mereka terpaksa harus ke rumah dengan kembali memutari rute yang sama.

“Setiap hari saya harus menghabiskan setidaknya tiga jam di pos pemeriksaan Eyal untuk pergi ke tempat kerja saya di Salem Jarrar,” kata salah seorang pekerja palestina.

Sementara pekerja lain mengatakan, “Saya biasanya menggunakan bus Israel untuk kembali ke kampung halaman saya di dekat kota Tepi Barat, Jenin.”

“Mulai hari ini, aku harus kembali dari pos pemeriksaan yang sama dan menghabiskan tiga jam perjalanan kembali bukan 30 menit,” keluhnya.
“Tidak mudah menggunakan bus pemukim ‘, di mana Anda menjadi sasaran pelecehan dan rasisme,” tambahnya. “Tapi itu cara termudah untuk pulang setelah bekerja keras seharian.”

HANDOUT EDITORIAL USE ONLY/NO SALES epa04021098 A file photograph provided by the Israeli Defense Ministry show Israeli Defense Minister Moshe Ya'alon during a meeting in the defense Ministry in Tel Aviv, Israel, on 28 October 2013. The US State Department on 14 January 2014 rebuked Israel for comments attributed to Ya'alon about US Secretary of State John Kerry and his mission to bring Israel and Palestinians together to make peace. The US State department called Ya'alon's comments, if accurate, both 'offensive and inappropriate.'  EPA/ARIEL HARMONI/ISRAELI DEFENSE MI  HANDOUT EDITORIAL USE ONLY/NO SALES

Menteri Pertahanan Israel Moshe Ya’alon

Menurut sebuah laporan di Haaretz, sampai sekarang, pekerja Palestina yang memasuki Israel memiliki hak untuk kembali ke wilayahnya melalui pos pemeriksaan yang mereka memilih. Di tengah Israel, ribuan pekerja yang menyeberang ke Israel melalui pos pemeriksaan Eyal sering kembali ke rumah mereka di bus perusahaan angkutan Afik yang bepergian dari Israel Route 5 ke pemukiman Tepi Barat, Ariel. Di bawah program percontohan, para pekerja harus kembali ke pos pemeriksaan Eyal dan kemudian perjalanan di bus Palestina untuk tinggal mereka.

Ini berarti bahwa bahkan orang Palestina yang tinggal dekat dengan Route 5 dan bekerja di Israel harus melakukan perjalanan utara, ke pos pemeriksaan Eyal di bawah aturan baru. Perjalanan ini bisa mamakan waktu dua jam lebih lama dari sebelumnya.

Rencana yang telah diperbincangkan sejak Oktober lalu telah mendapat banyak kritik. Namun, dalam menanggapi kritikan yang datang Menteri Pertahanan Moshe Ya’alon mengatakan, “Anda tidak perlu menjadi seorang ahli keamanan untuk menyadari bahwa 20 orang Arab di bus dengan sopir Yahudi dan dua atau tiga penumpang dan seorang tentara dengan pistol adalah satu set tempur untuk sebuah serangan.”

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menangguhkan keputusan

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Moshe Ya’alon, Rabu pagi ditangguhkan larangan warga Palestina di Tepi Barat menggunakan bus yang sama dengan Israel untuk kembali ke rumah, jam setelah diperkenalkan.

“Dan Menteri Netanyahu dan Menteri Pertahanan Moshe Ya’alon… telah sepakat untuk menangguhkan program percontohan di penyeberangan perbatasan di Yahudi dan Samaria,” kata juru bicara Netanyahu Ofir Gendelman di Twitter. Gendelman menggunakan istilah Yahudi untuk Tepi Barat.

140729-netanyahu-0433_239c513079ae4d286dc50a7df841ee31

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu

Pengumuman itu datang beberapa jam setelah pemerintahan sipil Israel menerapkan keputusan melarang pekerja Palestina di Israel menggunakan bus yang dialokasikan untuk pemukim Yahudi datang dan pergi ke permukiman di Tepi Barat.

Menurut Radio Israel, rencana tersebut bertujuan untuk mengurangi risiko terjadinya kerusuhan. Seolah-olah buruh Palestina yang bekerja di Israel adalah sumber pemicu konflik.

Ofir-Gendelman

Ofir Gendelman, juru bicara Netanyahu

Berdasarkan ketentuan dari rencana, warga Palestina di Tepi Barat bagian utara yang bekerja di Israel harus melewati Eyal pos pemeriksaan dekat Qalqilya, di mana mereka tunduk pada pemeriksaan keamanan yang ketat.

(Sahlan/an-najah).