Istiqomah Di Tengah Gelombang Fitnah

istiqomah
istiqomah

An-Najah.net – Berperang teguh di jalan Allah Ta’ala, komit terhadap segala perintah-Nya, serta meninggalkan segala larangan-Nya. Merupakan kebutuhan setiap individu yang mengaku beriman Kepada Allah Ta’ala.

Islam, jalan yang lurus lempang, jalan yang benar, merupakan satu-satunya jalan yang mendapat jaminan dari Allah Ta’ala sebagai jalan yang diridhai dan pasti mengantarkan pemeluknya ke dalam kehidupan hakiki dengan penuh kebahagiaan, jannah. Tidak ada duanya, apa lagi yang ketiga. Karenanya, Allah Ta’ala memerintahkan kepada manusia untuk mengikutinya dengan menjauhi dan meninggalkan jalan (ajaran) selainnya.

Baca juga: Istiqomah Di Jalan Ilahi

Mengapa? Karena jalan-jalan selain Islam adalah jalan yang bengkok. Tidak menjamin para pengikutnya akan masuk ke jannah-Nya. Kebahagiaan abadi yang didamba-dambakan oleh setiap hamba.

Pemegang Bara Api

Telah kita saksikan bersama, bahwa jalan-jalan kehidupan selain Islam yang berupa paham materialisme, marxisme, sosialisme, kapitalisme, nasionalisme, demokratisme, dan lainnya. Semua itu merupakan produk manusia dan lebih tepat dinamakan dengan “paham syahwatisme”, telah menggiring para “hambanya” menuju ketidakpastian, kesusahan dan kepedihan secara berkesinambungan, di dunia dan akan berlanjut di akhirat, wal ’z’yadzu billah.

Baca juga: Masih Percaya Demokrasi!‎

Semua hanya menjadi alat pemuas sesaat bagi para “pemuja”-nya yang pada dasarnya hanyalah memperturutkan hawa nafsu. Dengannya akan menyengsarakan diri, saudara, bahkan khalayak ramai. Tegasnya, ideologi-ideologi tersebut telah gagal berperan sebagai “sumber inspirasi” dalam menciptakan ketenangan, kebahagiaan, kenyamanan, kesejahteraan hidup.

Sebagaimana firman-Nya: “Maka, jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada arang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun? Sesungguhnya Allah tidak Memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. A1-Qashshash: 50)

Begitu juga sabda Rasulullah Saw, yang mana waktu itu beliau membuat (gambar) garis lurus kepada kami (para sahabat) kemudian bersabda, ‘Inilah jalan yang lurus’ Kemudian beliau menggambar lagi garis-garis (yang banyak) di kanan-kiri garis tersebut dan bersabda, ‘Ini jalan-jalan sesat’ Di atas setiap jalan itu ada setan yang terus menyeru (manusia) untuk mengikutinya, kemudian beliau membaca ayat (di atas)”. (HR. Ahmad: 4142 )

Fitnah syubhat dan fitnah syahwat terus digelorakan dengan slogan ‘Modernisasi dan Kebebasan’. Segala bentuk fitnah diciptakan, tipu daya sematkan agar umat Islam semakin ragu dan tidak yakin terhadap ajarannya. Dari rahim Islam muncul berbagai aliran sesat; Ahmadiyah, liberalisme, dan semisalnya. Yang semuanya merupakan hasil produk fitnah syubhat.

Di sisi lain, orang-orang yang komit dan berpegang kepada Islam dan berkeinginan keras untuk mengembalikan ‘izzah’ Islam dituduh sebagai fundamentalis, ortodok, kolot, bahkan sampai dituduh sebagai teroris.

Hasilnya, Islam semakin terpinggirkan. Berislam hanya sebatas kulitnya saja. Bahkan, sebagian kaum muslimin takut walau sekadar memperlihatkan tanda identitas dan syiar-syiar yang memang harus tampak.

Seperti, memelihara jenggot, memendekkan celana (di atas mata kaki), bercadar bagi muslimah, serta menyuburkan masjid untuk kajian-kajian keislaman. Merasa agak tidak percaya diri. Apalagi sampai secara terang-terangan menampakkan dan mempraktikkan ‘alwala wal-bara’. Sebaliknya, justru Iebih nyaman ber-tasyabbuh bil kujj‘ar (menyerupai adat dan kebiasaan orang kafir).

Baca juga: Mewaspadai Jahiliyah di Zaman Now

Barangkali ini merupakan sunnatullah, yang harus dilalui oleh hamba-hamba-Nya. Yang dipilih untuk menjadi saksi atau pelaku, bahwa Islam itu asing, dan aneh, dan nantinya akan kembali asing dan aneh lagi. Bahkan, orang yang berpegang teguh dalam dien serta memperjuangkannya di tengah gelombang fitnah dimisalkan oleh Rasulullah Saw sebagai qaabidhul jamr (Pemegang bara api), Rasulullah Saw bersabda:

Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260)

Istiqamah, Kunci Kemenangan

Tidak ada orang yang selamat dari gelombang fitnah di atas, kecuali dengan ridho dan rahmat Allah Ta’ala. Rahmat tersebut tidak akan diberikan kepada orang yang larut dan hanyut dalam gemerlap sulap dan sihirnya fitnah. Namun, anugerah tersebut akan diberikan hanya kepada orang-orang yang komit, istiqomah dalam berpegang teguh kepada agama-Nya.

Sebagaimana sabda Rasulullah Saw yang pernah ditanyakan Sufyan bin Abdullah, “Wahai Rasulullah, katakan kepadaku dalam Islam suatu perkataan yang aku tidak akan menanyakannya kepada seorang pun selain kepadamu.” Rasulullah Saw bersabda, ”Katakan, aku beriman kepada Allah, kemudian istiqomahlah.” (HR. Muslim: 38)

Baca juga: Sunnatullah Kemenangan dalam Iqamatuddin

Lalu Bagaimana mengaplikasikan istiqomah? Caranya, dengan selalu berusaha istiqomah dalam melaksanakan perintah-Nya, serta menjauhi dan meninggalkan segala larangan-Nya. Tidak tergiur dan hanyut terpengaruh terhadap segala godaan ‘setan manusia’.

Ibnu Rajab al-hambali berkata, “Istiqomah adalah menempuh jalan (agama) yang lurus (benar) dengan tidak berpaling ke kiri maupun ke kanan. Istiqomah ini mencakup pelaksanaan semua bentuk ketaatan (kepada Allah) lahir dan batin, dan meninggalkan semua bentuk larangan-Nya” (Ibnu Rajab Al Hambali, Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, cet I, hal. 246)

Orang-orang bijak berkata, “Jadilah Anda orang yang memiliki istiqomah, bukan pencari karomah (kemuliaan). Sesungguhnya jiwamu tergerak untuk mencari kemuliaan. Sedangkan Allah Ta’ala, Rabbmu, menghendakimu memiliki istiqamah. Semoga Allah merahmati kita dengan keistiqamahan. Amin. Wallahu Ta’ala ‘Alam

Penulis             : Ibnu Jihad

Editor               : Ibnu Alatas