I’tikaf dan Berkhalwat dengan Allah

i'tikaf

An-Najah.net – Diantara bukti keseriusan beliau SAW dalam bertaqarrub dan bermunajat kepada Allah SWT adalah beliau melaksanakan i’tikaf di sepuluh akhir bulan Ramadhan.Sebelumnya beliau sempat I’tikaf pada sepuluh awal, dan sepuluh pertengahan Ramadhan. Semuanya diniatkan untuk mencari ridho Allah SWT , lebih khusus lagi mencari lailatulqodr, (HR. Muslim).

Beliau SAW mengajarkan kepada umatnya untuk bertaqarrub dan berkhalwat dengan Allah SWT.Sehingga bisa merenung dan mentadabburi ragam ayat Allah SWT, baik quraniyah maupun kauniyah.

Oleh sebab itu, pada saat I’tikaf sebisa mungkin menghindari banyak interaksi dengan manusia. Ibnu Qayyim al-Jauziyah RHM menjelaskan, intisari dan ruh I’tikaf adalah berkhalwat dengan Allah SWT, fokus berdzikir dan mentadabburi ayat-ayat Allah SWT, dan memisahkan diri dari kehidupan dunia, termasuk berinteraksi dengan manusia, (ZaadulMa’ad, 2/90)

Bisa jadi penggunaan Hp dan internet saat I’tikaf untuk tujuan yang bersifat duniawi termasuk hal yang bertentangan dengan nilai-nilai I’tikaf.

I’tikaf seperti inilah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Beliau masuk I’tikaf pada sore hari ke- 20 Ramadhan dan keluar setelah subuh satu Syawwal. Dalam riwayat imam Bukhari, ummulmukmininAisyah RA mengisahkan, selama kurun ini, beliau tidak menjenguk orang sakit, tidak mengantar jenazah, tidak bercumbu dengan istri-istrinya, dan juga tidak berhubungan suami-istri. Semuanya ini dilakukan untuk bisa meraih intisari I’tikaf.

Beliau juga menghasung istri-istrinya untuk I’tikaf. Sedangkan beliau sendiri, selama  di Madinah, tidak pernah meninggalkan I’tikaf. Pernah suatu waktu beliau tidak bisa melaksanakan I’tikaf karena urusan jihad.Maka di tahun berikutnya beliau melaksanakan I’tikaf selama 20 hari untuk menqodho’ tahun lalu (HR. Ibnu Hibban).

Penulis : Akrom Syahid

Sumber : Majalah An-najah Edisi 104 Rubrik Tema Utama

Editor : Anwar