Jadilah Kunci Pembuka Pintu Kebaikan

kunci kebaikan
kunci kebaikan

Rasulullah Saw pernah bersabda, “Sesunggunya di antara manusia ada yang menjadi kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup kejahatan. Dan di antara manusia itu juga ada yang menjadi kunci-kunci pembuka kejahatan dan penutup kebaikan. Maka beruntunglah bagi orang yang Allah jadikan sebagai kunci-kunci pembuka kebaikan melalui tangannya, dan celakalah bagi orang yang Allah jadikan sebagai kunci-kunci pembuka kejahatan melalui tangannya.”

(HR.Ibnu Majah no.237, Dihasankan Oleh Al-Bani Rahimahullah dalam Shohih Sunan Ibnu Majah no.194, dari sahabat Anas bin Malik)

Baca juga: Jangan Bangga Melakukan Dosa!

Barangsiapa yg menginginkan bagi dirinya menjadi kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup kejahatan,  sehingga menjadi orang yang beruntung, maka hendaklah,

Pertama, Ikhlas semata-mata karena Allah Ta’ala dalam seluruh ucapan dan perbuatannya. Karena keikhlasan adalah pondasi setiap kebaikan dan menumbuhkan berbagai keutamaan.

Kedua, berdoa sambil merengek kepada Allah Ta’ala, agar dianugerahkan taufiq menjadi kunci pembuka kebaikan. Sebab doa adalah kunci dari setiap kebaikan, dan Allah Ta’ala tidak menolak doa hamba, dan juga tidak menyia-nyiakan permohonan hamba-Nya yang beriman yang berdoa kepada-Nya.

Baca juga: Empat Doa Ajaib

Ketiga, bersungguh-sungguh dalam menuntut dan memperoleh ilmu, karena ilmu akan mengajak kepada berbagai keutamaan dtan kemuliaan sekaligus penghalang dari berbagai hal yang tercela nan hina.

Keempat, menghadap kepada Allah Ta’ala dengan ibadah, terutama ibadah yang wajib, secara khusus sholat yang akan mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.

Kelima, berhias dengan akhlak yang mulia dan tinggi, dan menjauhkan diri dari akhlak yang rendah dan tercela.

Baca juga: Akhlak Cermin Keimanan Seseorang

Keenam, berteman dengan orang baik-baik, bermajelis dengan orang-orang sholih, karena bermajelis dengan mereka akan menjadi sebab para malaikat akan menaungi dan meliputi debgan rahmat. Juga menjauhkan diri dari majelis orang-orang buruk dan pelaku maksiat, karena majelis tersebut disertai oleh setan.

Ketujuh, menasehati hamba-hamba Allah Ta’ala tatkala bersosialisasi dan berinteraksi dengan mereka, menyibukkan mereka dengan kebaikan dan menjauhkannya dari keburukan.

Kedelapan, mengingat hari akhir, tatkala berdiri dihadapan Allah Ta’ala. Hari itu pelaku kebaikan akan diberi ganjaran atas kebaikannya, dan pelaku kejahatan dakan dibalas atas kejahatannya. Sebagaimana firman-Nya:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ * وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS. Al-Zilzalah :7-8)

Kesembilan, penopang semua itu adalah pengharapan seorang hamba terhadap kebaikan dalam memberi manfaat kepada orang lain.

Baca juga: Berbagai Fitnah Di Akhir Zaman

Maka tatkala pengharapan tegak, niat yang benar dan tekad yang kuat disertai dengan memohon pertolongan Allah Ta’ala pada semua urusan serta menempatkan segala sesuatu pada posisinya insyaa Allah Ta’ala akan menjadi kunci-kunci pembuka kebaikan sekaligus penutup kejahatan. Wallahu Ta’ala ‘Alam

Sumber            : Abdurrozzaq Al-Badr hafidzahullah Al-Fawaid Al-Mantsuroh Khutabun wa Nasaihun Kalimaat wa Maqolaat

Editor              : Ibnu Alatas