Jalan Menuju Masyarakat Islam

Ilustrasi Masyarakat islam
Ilustrasi Masyarakat islam
Ilustrasi Masyarakat islam

An-najah.net – Terwujudnya masyarakat Islami merupakan sebuah impian seorang muslim. Sehingga masyarakat ini menjadi khoirul ummah. Namun, untuk menuju kesana perlu suatu usaha dan proses. Apalagi tantangan pada zaman sekarang ini, begitu komplek baik dari internal maupun eksternal.

Agar sampai kepada masyarakat islami yang diharapkan, harus dimulai dari para kader yang mampu memikul beban-beban dalam perjalanan. Para kader ini harus menyadari bahwa orang-orang yang menjadi lokomotif penyelamat ummat manusia bukanlah orang-orang biasa, akan tetapi haruslah dari para teladan yang menganggap murah segala sesuatu untuk dikorbankan dijalan dakwah dan akidahnya. Mereka juga harus memiliki karakter-karakter tertentu, diantaranya yang utama adalah : Memiliki karekter rabbani, pembinaan kekuatan inti yang solid, Pembinaan dai dengan ilmu yang benar dan ibadah yang ikhlas, dan Dakwah harus terbebas dari pamrih duniawi dan ketergesaan dalam menuai buahnya.

Pertama, Memiliki karakter rabbani

وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ

“Akan tetapi (dia berkata), “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (Qs. Ali Imran : 79)

Rabbani maksudnya yaitu orang yang berilmu dan beramal. Sa’id bin Jabir berkata, “Rabbaniyyin” yaitu orang yang arif lagi bertakwa.

Kedua, Pembinaan kekuatan inti yang solid

Kita harus memperhatikan tarbiyah terhadap generasi teladan, bukan hanya memperbanyak jumlah semata, karena manusia hanya bisa berubah dengan perbuatan para teladan dan individu. Kita harus memperhatikan kualitas, bukan kuantitas. Sekelompok orang yang sabar dan jujur, walaupun sedikit, mereka akan bisa menang dengan izin Allah. Allah Swt berfirman :

كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Qs. Al Baqarah : 249).

Generasi inti yang solid inilah yang mengembalikan Jazirah arab seluruhnya ke dalam Islam ketika terjadi masa-masa pemurtadan. Hal ini dikarenakan di antara para teladan itu ada Abu bakar. Saat berita murtadnya beberapa kabilah sampai kepadanya, beliau menyerukan, “Demi Allah, seandainya mereka menolak menyerahkan seekor anak kambing yang dahulu mereka serahkan kepada Rasulullah, sungguh akan aku perangi mereka karena penolakan ini, atau aku binasa karenanya.”

Kemudian beliau, melanjutkan, “Apakah agama ini dipangkas sedangkan aku masih hidup?”. Dalam riwayat yang lain disebutkan, “Seandainya mereka menolak menyerahkan satu ikatan tali yang dipakai untuk menambatkan unta…”

Abu Bakar berketetapan hati untuk terus meneruskan pasukan Usamah dan menjawab orang-orang yang berusaha menundanya, “Demi yang tidak ada sesembahan selain dia, seandainya anjing-anjing menyeret kaki para isteri Nabi Saw, niscaya aku tidak akan membatalkan pasukan yang telah diperintahkan oleh Rasulullah.”

Dalam riwayat yang lain, “Seandainya aku mengira ada binatang buas yang akan menerkamku, aku akan tetap meneruskan pengiriman pasukan Usamah.”

Pada saat yang kritis setelah wafatnya Rasulullah Saw, Allah mengarahkan seseorang yang teguh hati, yaitu Abu Bakar, untuk menyelamatkan eksistensi ummat secara keseluruhan dari terhapusnya amalan dan kerusakan.

Ketiga, Pembinaan dai dengan ilmu yang benar dan ibadah yang ikhlas

Para dai itu sendiri atau memulai para syaikhnya harus mengikat jiwanya dengan Al Qur’an baik bacaan, tajwid, tafsir, maupun mengetahui hukum-hukum yang ada didalamnya. Seorang muslim hendaknya juga membangun jiwanya diantara serambi masjid yang merupakan tempat eksisnya ketentraman, rahmat, dan ikhtikaf.

Dalam memilih teman, hendaknya seseorang muslim memilih teman yang baik yang menunjukkan jalan kepada Allah. Dan jangan kalian meninggalkan sholat malam, karena ia memiliki pengarus yang dalam pada pembinaan jiwa muslim dan kebersihan ruhani. Sholat malam adalah kebiasaan orang-orang sholih.

Keempat, Dakwah harus terbebas dari pamrih duniawi dan ketergesaan dalam menuai buahnya

Para nabi ketika menyampaikan risalah mereka mengatakan,

وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu, upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam. (Qs. Asy Syu’ara : 145).

Melalui lisan para rasul, ayat ini banyak diulang dalam surat asy syu’ara’. Oleh karena itu, ketika Rasulullah Saw menawarkan Islam kepada bani Amir bin Sha’sha’ah, salah seorang tokoh suku tersebut, Bahirah bin Farras berkata, “Bagaimana pendapatmu jika kami membaiatmu atas kekuasaanmu,kemudian kamu dimenangkan oleh Allah atas orang-orang yang menentangmu, apakah kami akan mewarisi kekuasaan ini setelahmu?” Rasulullah menjawab, “Urusan kekuasaan itu milik Allah yang akan diberikannya kapan pun dia kehendaki.” Mereka pun akhirnya enggan untuk berbait.

Rasulullah Saw sendiri saat itu belum mengetahui bahwa dia akan menang dan agama ini akan dimenangkan oleh Allah semasa hidupnya dan melalui tangannya, bahkan Allah Swt berfirman kepadanya,

“Sungguh, jika kami mewafatkan (sebelum kamu mencapai kemenangan) maka sesungguhnya kami akan menyiksa mereka (diakhirat). Atau kami memperlihatkan kepadamu (adzab) yang telah kami ancamkan kepada mereka. Maka, sesungguhnya kami berkuasa atas mereka.” (Qs. Az Zukhruf : 41 – 42)

Akan tetapi Rasulullah Saw menyakini bahwa agama ini pasti akan memang. Beliau juga tidak menjanjikan atau membaiat seorang muslim pun kecuali dengan surga. Beliau pernah mengucapkan hal ini kepada orang yang sedang dianiaya dan disiksa, “Sabar wahai keluarga Yasir! Sesungguhnya tempat yang dijanjikan bagi kalian adalah surga.”

Penulis : Anwar Ihsanuddin

Referensi : Abdullah Azzam, Islam dan Masa depan peradapan Manusia, Solo : Media Islamika, 2008.