Jangan Kau Tunda Kemenangan Dengan Maksiatmu

maksiat
maksiat

An-Najah.net – Islam tidak mengkhawatirkan banyaknya musuh dan besarnya kekuatan musuh, ‎namun yang dikhawatirkan adalah Muslim itu sendiri ketika bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Dalam sebuah perjuangan, di ‎anatara sebab tertundanya kemenangan adalah maksiat seorang hamba. Entah bermaksiat kepada Allah Ta’ala ‎atau maksiat kepada pimpinannya.‎

Hikmah Perang Uhud

Islam sama sekali tidak menghawatirkan banyaknya musuh dan besarnya senjata musuh. Islam ‎juga tidak begitu menghkawatirkan ancaman dan kecaman musuh. Justru yang dikhawatirkan ‎adalah ketika kita lalai dan bermaksiat kepada Allah Ta’ala. ‎

Saudaraku, bukankah empat belas abad yang lalu Rasulullah Saw sudah mengkhawatirkan umat ‎ini dikarenakan kaum muslimin waktu itu sangat banyak tapi mereka tidak berdaya karena di ‎dalam hati kaum muslimin terdapat penyakit wahn. Lantas apakah wahn itu, Rasulullah Saw ‎bersabda:‎

وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا، وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْت‎ ‎

‎(seseorang bertanya), “Apa itu ‘wahn’? “Rasulullah bersabda, “Cinta dunia dan takut ‎mati.”(HR. Abu Daud no. 4297)‎

Jika seorang Muslim sudah cinta dunia dan takut mati. Maka segala hal termasuk harta, tahta, ‎dan wanita yang berkaitan dengan dunia. Maka, dia berusaha meraihnya walaupun kemaksiatan ‎halangannya. Begitu pula seorang Muslim yang takut mati dikarenakan sedikitnya ilmu dan ‎jauhnya dari agama Islam. Dia akan menghalalkan segala cara bahkan berani menjual agamanya ‎dengan harga yang murah yang penting nyawanya selamat.‎

Saudaraku, masihkah kita ingat peristiwa perang Uhud, yang tadinya keunggulan dan ‎kemenangan berada di pihak Islam pada pagi harinya, tapi tatkala para pemanah bermaksiat ‎‎(meninggalkan bukit Uhud), maka janji kemenangan tertunda.‎

Peristiwa Uhud ini sungguh telah menoreh peristiwa yang menakjubkan, antara lain; jumlah ‎musuh tiga kali lipat lebih banyak daripada jumlah kaum muslimin. Kemudian, Allah Ta’ala ‎menangkan kaum muslimin di pagi hari, tapi tatkala mereka bermaksiat, Allah Ta’ala timpakan ‎musibah di sore hari.‎

Kelalaian yang Terabaikan

Saudaraku, jika kita melihat dari sebagian kaum muslimin sekarang. Sebagian dari mereka ‎menyangka bahwa Allah Ta’ala akan memaklumi kemaksiatan seorang hamba, jika ia bermaksiat ‎lantaran menurutnya ia telah lama memperjuangkan Islam dan bergabung dengan para aktivis ‎Islam. Maka ia pun memandang remeh urusan maksiat. Apalagi setelah berlalunya masa yang ‎panjang dari perjuangannya.‎

Maksiat berbentuk apapun pasti akan mempengaruhi dirinya dan orang lain dalam ber-‎Iqomatuddin. Sehingga tertundanya kemenangan dan terseok-seoknya perjalanan iqomatuddin ‎ini, bisa jadi desebabkan maksiat-maksiat pengusungnya. ‎

Seseorang yang bermaksiat mungkin saja melihat badan, harta, dan keluarganya baik-baik saja. Ia ‎merasa tidak ada hukuman atas kemaksiatan yang dilakukannya. Sebenarnya pada saat itulah ia ‎sedang mendapatkan hukuman. Karena pada saat manisnya kelezatan baribadah berubah menjadi ‎hambar tak terasa dan yang tersisa tinggal pahitnya penyesalan, kesedihan, dan kegelisahan.‎

Saudaraku, waspadalah terhadap kejahatan yang disepelekan. Ia mungkin saja dapat membakar ‎negeri. Mematikan hati para pejuang Islam dan menunda kemenangan yang Allah Ta’ala janjikan. ‎

Semoga Allah Ta’ala melindungi dan menjaga kita dari bahayanya kemaksiatan yang merajalela ‎di era moderen ini. Sehingga turunlah kemenangan yang telah Allah Ta’ala janjikan kepada kaum ‎muslimin. Wallahu ‘alam ‎

Penulis: Ibnu Jihad
Editor: Abu Mazaya