Jangan Menjadi Setan Bisu

setan bisu
setan bisu

An-Najah.net – Jangan menunggu adzab turun dari Allah Ta’ala. Berbicara tentang amar makruf nahi mungkar belum lengkap rasanya tanpa mengulas kisah Ashabus Sabat. Mereka adalah satu kaum dari bani Israil yang mendapat hukuman dengan diubah menjadi kera lagi hina.

Allah Ta’ala telah mendokumentasikan dalam firman-Nya, agar kaum muslimin selalu teringat, kemudian mengambil ibrah serta menjaga diri agar tidak jatuh dalam kesalahan yang serupa.

Kaum tersebut tinggal di negeri Ailah. Sebuah daerah subur yang ditumbuhi pohon kurma, serta kaya dengan hasil laut yang melimpah. Sebagai pengikut agama Nabi Musa, mereka menghormati hari Sabtu untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Seiring terbenamnya matahari di hari Kamis, segala kegiatan duniawi wajib ditinggalkan demi menghormati waktu mulia tersebut.

Baca juga: Penghalang Kenikmatan Beribadah

Sebuah Ujian Yang Berupa Kenikmatan

Terkadang seseorang menilai ujian itu hanya dengan musibah dan malapetaka, namun sebuah kenikmatan juga bias menjadi ujian dan cobaan bagi seorang hamba yang taat. Ikan yang biasanya mudah dijaring mulai jarang muncul ke permukaan. Namun pada hari Sabtu, ikan berduyun-duyun mendekat ke pantai. Koloni ikan tersebut sangat mudah ditangkap walau tanpa memakai alat.

Sebagian nelayan tetap sabar dan melihat hal itu sebagai ujian. Namun, sebagian lain berusaha mencari cara mengakali larangan tersebut. Mereka lalu membuat parit-parit di bibir pantai. Ketika air pasang ikan yang naik akan terperangkap dan tidak bisa kembali ke laut. Setelah hari Sabtu berlalu, para nelayan tinggal memanen ikan di parit-parit tersebut. Secara sekilas, tidak ada aktivitas kerja di hari Sabtu, namun hal itu tetap dianggap praktik kotor yang melanggar kesucian hari Sabat.

Kejadian itu membuat mereka terbagi menjadi tiga kelompok. Pertama, kelompok yang melanggar larangan hari Sabat. Kedua, kelompok yang pantang melaut namun mengacuhkan kelakuan kelompok pertama. Ketiga, kelompok yang tidak melaut dan terus mengingatkan orang-orang yang melanggar aturan Allah Ta’ala.

Kelompok pertama dan kedua memang bebal (bodoh) dan mengacuhkan segala peringatan. Mereka tetap melakukan kegiatan tersebut tanpa malu-malu, seakan-akan sudah siap menanggung adzab.

Baca juga: Penyakit Berbahaya, Kebodohan Sumber Kesesatan

Sedangkan kelompok ketiga, mereka telah melakukan iqomatulhujjah, mengingatkan saudaranya sebagai bentuk udzur kepada Allah Ta’ala atas perbuatan yang dilakukan kawan-kawannya.

Ketika adzab Allah Ta’ala tiba, hanya kelompok ketiga yang selamat dari adzab. Kelompok kedua yang tidak ikut melanggar larangan hari Sabtu namun bersikap apatis (tidak peduli) tetap mendapat hukuman. Mereka menanggung adzab lantaran membiarkan kemungkaran merajalela. Mereka tidak peduli ketika saudaranya melenceng dan melanggar perintah Allah. Kelompok ini pun mendapat hukuman yang sama sebagaimana para pendosa.

Jangan Menunggu Adzab Turun

Saudaraku, kisah ini memberi pelajaran bagi kita selaku hamba Allah Ta’ala yang tak luput dari salah dan dosa, agar salalu ber-amar makruf nahi mungkar. Akankah kita menunggu adzab Allah Ta’ala turun kepada kita, dikarekan kita mengabaikan, apatis dan acuh tak acuh dalam perkara perkara ini!,

Apakah kita melupakan sabda Nabi Muhammad Saw yang berbunyi:

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ، وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ، أَوْ لَيُوْشِكَنَّ اللهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ، ثُمَّ تَدْعُوْنَهُ فَلاَ يُسْتَجَابُ لَكُمْ

Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaklah kalian bersunguh-sungguh menyuruh berbuat kebaikan dan mencegah kemunkaran, atau Allah akan menimpakan siksaan kepada kalian dari sisi-Nya, kemudian kalian berdo’a kepada-Nya tetapi Dia tidak mengabulkan do’a kalian.” (HR. At-Turmudzi. 2169)

Ayat tersebut menjelaskan, apabila amar ma’ruf nahi munkar tidak ditegakkan, maka do’a pun tidak dikabulkan. Lantas apa lagi yang kita tunggu! Apakah kita akan mendiamkan kemungkaran yang merajalela, kemaksiatan di mana-mana, kemudian Allah Ta’ala murka dan menurunkan adzab-Nya!

Walaupun didalamnya terdapat orang yang sholeh dan taat yang selalu berdoa kepada Rabb-Nya, ‎walaupun di dalamnya ada orang yang selalu shalat, infak, shadaqoh, puasa, tapi kalau dia ‎mendiamkan kemaksiatan maka tunggulah adzab dari Allah Ta’ala

Ber-iqomatul hujjah-lah

Kondisi pelaku kemungkaran memang berbeda-beda. Ada yang mau kembali setelah dinasehati, ada pula yang terus menolak kebenaran. Apapun kondisinya, menurut Syaikh Jamaluddin Al-Qashimi, “Upaya meluruskan kemungkaran tidak akan pernah gugur. Meski seorang muslim menilai upayanya tidak akan membuahkan hasil.” Karena manfaat bagi penyeru adalah mendapatkan udzur di hadapan Allah. Manfaat berikutnya didapatkan pelaku maksiat yang terselamatkan dari hukuman Allah.

Baca juga: Empat Perkara Sumber Petaka

Membiarkan kemaksiatan merajalela padahal mampu mengubahnya sama-sama merusak. Sebagaimana ungkapan Abu Ali ad-Daqqaq, “orang yang diam tidak mengatakan kebenaran adalah setan bisu. Sedangkan orang yang menyuarakan kebatilan adalah setan yang berbicara.” Wallahu Ta’ala ‘Alam.

Sumber            : Majalah An-Najah, Edisi 119, hal. 11

Penulis             : Abdullah

Editor               : Ibnu Alatas