Jangan Salah Persepsi Dengan Jihad

Jihad adalah Ibadah
An-Najah.net – Jangan kau remehkan Syariat jihad. Wahai orang-orang yang beriman kepada ‎Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, wajib bagi kita untuk meyakini bahwa jihad adalah ibadah yang ‎dibebankan ‎atas setiap pundak muslim yang mukallaf dan mampu.‎
Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman, yang jelas lafalnya dikhususkan bagi orang-orang yang ‎beriman; ‎
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُمْ مِنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ
‎“Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan ‎‎hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu.” (at-Taubah: 123)‎

Jihad Adalah Ibadah

Melalui ibadah jihad, seorang muslim memiliki peluang besar untuk masuk jannah. Meninggalkan ‎‎jihad, maknanya mengabaikan pintu jannah. Membenci jihad, maknanya membenci derajat yang ‎‎paling tinggi di surga, yang tidak bisa didapatkan oleh orang-orang yang absen dari aktifitas ‎‎jihad.‎

Baca Juga: Mengapa Alergi Jihad?‎

Bukankah, Allah Ta’ala telah menjanjikan pahala yang besar bagi pelaksana ibadah jihad, ‎sebagaimana firman-Nya:‎
لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ۚ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ ‏بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً ۚ وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا
‎“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk ( tidak ikut berperang) tanpa uzur dengan orang-‎‎orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka…dan Allah melebihkan orang-‎‎orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.” (An-Nisa’: 95)‎

Surga Yang Menanti

Imam Bukhari meriwayatkan, telah bercerita kepadaku Sa’id bin Al Musayyab bahwa Abu ‎Hurairah r.a berkata; Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: ‎
مَثَلُ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِهِ كَمَثَلِ الصَّائِمِ الْقَائِمِ وَتَوَكَّلَ اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِهِ بِأَنْ يَتَوَفَّاهُ أَنْ ‏يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ أَوْ يَرْجِعَهُ سَالِمًا مَعَ أَجْرٍ أَوْ غَنِيمَةٍ

‎”Perumpamaan seorang mujahid di jalan Allah, dan hanya Allah yang paling tahu siapa yang ‎berjihad di jalan-Nya, seperti seorang yang melaksanakan puasa dan berdiri (shalat) terus ‎menerus. Dan Allah Ta’ala berjanji kepada mujahid di jalan-Nya, dimana bila Dia ‎mewafatkannya maka akan dimasukkannya ke surga atau bila Dia mengembalikannya dalam ‎keadaan selamat dia akan pulang dengan membawa pahala atau ghonimah (harta rampasan ‎perang) ” (HR. Al-Bukhari: 2787)‎

Rasulullah Saw berkata kepada Abu Sa’id al Khudri, “Ada amal yang membuat ‎derajat seorang ‎hamba dinaikkan seratus tingkat, jarak antara satu tingkatan dengan tingkatan ‎lainnya sejauh ‎jarak langit dan bumi.” “Amal apa itu wahai Rasulullah” tanya Abu Sa’id ‎penasaran. Rasulullah ‎Saw bersabda; ‎
الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ، الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ
‎“Berjihad di jalan Allah, berjihad di jalan Allah” (HR. Muslim: 1887)‎
Akhirnya, harus disadari oleh setiap muslim bahwa jihad adalah ibadah. Maka, tak patut kita ‎‎mencela ibadah tersebut. Jika ada aksi “jihad” yang dianggap merusak tatanan dakwah dan ‎masyarakat, tak ‎boleh buru-buru menyalahkan jihad itu sendiri.‎
Atau, karena ingin menghindari dampak buruk dari ‘aksi ‎jihad’, lalu jihad diselewengkan ‎maknanya ke makna-makna lain yanga tak berdasar sama sekali. ‎Sikap yang bijak ialah ‎mengevaluasi ‘aksi jihad’ tersebut, sudahkan memenuhi syarat dan ketentuan-ketentuannya. ‎
Atau ‎memang masyarakat telah antipati (menolak) terhadap jihad dan loyal kepada kekafiran, ‎thaghut serta ‎antek-anteknya. Sehingga segala aktivias yang berkaitan dengan ibadah jihad ‎mereka mencela dan mengolok-oloknya.
Wallahu Ta’ala ‘Alam ‎
Penulis ‎: Ibnu Jihad‎
Editor   ‎: Ibnu Alatas‎