Jasa Jihad Kepada Indonesia

Jihad di Indonesia
Jihad di Indonesia
Jihad di Indonesia
Jihad di Indonesia

An-Najah.net – “Karena misi utama kedatangan Portugis dan Belanda ke Indonesia untuk melanjutkan perang salib terhadap umat Islam lndonesia, maka perlawanan umat Islam terhadap Belanda, seperti; Perang Padri, Perang Jawa, Perang Aceh, Perang Banjar dan lain-lain adalah Perang Sabil (perang fi Sabilillah). Dimana, panji-panji Islam menjadi lambang perjuangan.”
(W.F. Warthein, Sosiolog Belanda)

Tulisan sosiologi Belanda ini tidak dalam rangka mencari simpati dari kalangan muslimin, ia sedang berkata jujur dan berkesimpulan bijak atas realitas sejarah Indonesia pra proklamasi. Bahkan pasca proklamasi pun jalan untuk mempertahankan NKRI ditempuh dengan jihad para pemuda Islam.

Bandung lautan Api misalnya, divisi hizbullah fi sabilillah-lah yang mempertahankan Indonesia dari invasi penjajah asing untuk kesekian kalinya. Di saat pasukan TNI dan seluruh laskar tunduk menyerah kepada Belanda dan merapat ke Jogjakarta.

Atau jihad arek-arek Suroboyo. Ribuan pemuda Islam tumpah ruah di Surabaya dengan semangat jihad. Hanya dua tujuan mereka, merdeka atau mati syahid. Pekik takbir Bung Tomo memompa semangat mereka, sekaligus merupakan bukti jihad sebagai pilihan terbaik.

Jihad PETA

Beberapa aksi heroisme ulama dan santri terhadap penindasan Jepang setahun sebelum proklamasi menegaskan kepada sejarah bahwa jihad adalah jalan untuk memerdekan diri dari penjajahan.

Tercatat nama beberapa kiyai dan pondok pesantren yang mengibarkan bendera jihad melawan tirani Jepang.

Salah satunya, KH Zainal Musthofa, beliau memimpin sekitar 21 pesantren Untuk mengibarkan bendera perlawanan kepada penjajah kafir Jepang.

Demikian juga keberanian anggota PETA melawan Jepang di awal-awal tahun 1945 juga tidak terlepas dari Semangatjihad dan mati syahid yang terwarisi turun temurun di dada pemuda Islam.

Jihad Diponegoro

Bukti jasa jihad terhadap kemerdekaan NKRI dan terusirnya penjajah dari negeri ini, dapat dilihat jelas pada perjuangan santri militan, pangeran Diponegoro. Sultan Abdul hamid Herucokro Amirul Mukminin Sayidin Panotogomo Khalifatullah tanah Jawi, gelar beliau.

Jihad Diponegoro demi menuntut tegaknya nilai-nilai Islam di tanah jawa. Banyak alim ulama yang bersama beliau dalam perjuangan ini. salah satunya kiyai Mojo.

KH Syaifuddin Zuhri yakin bahwa Kiyai Mojo adalah penasehat Diponegoro sekaligus inspirator jihad fie sabilillah. Bersana anaknya, Kiyai Gazali dan santri-santrinya beliau bergabung dnegan pasukan Pangeran Diponegoro berjihad melawan Belanda.

Perang sabil yang diserukan oleh Pangeran Diponegoro, dimulai dari desa Tegal Rejo, semua ulama, santri dan rakyat bergabung bersama beliau, di antaranya Kiyai Mojo, putranya Kiyai Gazali dari Solo, Pangeran Abu Bakar yang memimpin ulama dan santri dari Kedu, Muhammad Bahri penghulu Tegal Rejo. Diponegoro meminta mereka untuk berbai’at (janji setia). (Perang Sabil Vs Perang Salib, hlm. 16)

Walau sang Imam telah ditangkap Belanda pada tanggal, 28 Maret 1830 jihad di Jawa tetap berlangsung di bawah pimpinan para alim ulama dan panglima-panglima pasukan Islam Diponegoro yang menolak menyerah kepada Belanda.

Perang Sabil Aceh

Masih banyak corak perjuangan Indonesra yang dibangkitkan atas dasar jihad fie sabilillah, misalnya perang Aceh yang dikenal dengan perang sabil. Kurang lebih 40 tahun perang fi sabiliilah dikobarkan oleh para mujahid dan mujahidah Aceh.

Tengku Umar, Tengku Cik Di Tiro, Cut Meutia, Cun Nyak Din. Perang Aceh termasuk medan yang sangat menerikan bagi Belanda.

Perlawanan ini dipimpin oleh para alim ulama dan para Sultan. Hampir tiap malam, markas, pasukan patrol dan pos penjaga Belanda diambush oleh tentara Islam Aceh.

Keberanian dan kecakapan umat Islam Aceh melawan Belanda yang kala itu termasuk memiliki perlengkapan tempur yang mutakhir, tidak lepas dari keyakinan mereka bahwa itu adalah jihad dan yang meninggal adalah syahid. Karena mereka meyakini bahwa perang itu adalah melawan kape’-kape’ (kafir-kafir) Belanda.

Sejarawan Ahmad Mansur Surya Negara dalam ‘Api Sejarah’II 83/1 ), menukil pengakuan M.C Rifleks -sejarawan asal Australia-, bahwa sebab kesulitan Belanda memadamkan jihad Iawa, seperti Trunojoyo, Diponegoro,

adalah karena keyakinan kuat yang mengakar pada muslimin Jawa, bahwa tanah Jawa tidak akan diberkahi oleh Allah selama orang beragama Kristen tinggal di tanah Jawa.

Setelah mengetahui perjuangan para pahlawan dulu mengusir penjajah, dan gagah beraninya mereka di medan tempur, sangat tidak jujur jikalau perjuangan mereka dikatakan berdasarkan rasa nasronalisme atau demi Pancasila.

Jangankan untuk Nasionalisme, Pancasila atau Bhineka Tunggal Ika, nama ketiga kata istilah asing ini tidak dikenal oleh para pahlawan Mereka berjuang atas dasar Islam dengan jalan jihad. Itu saja kesimpulan yang tepat.

Buya Hamka, seorang ulama sekaligus sejarawan Indonesia pernah menulis, “Belumlah dapat para pahlawan itu dinamai, ‘, Pahlawan Indoensia’ dalam arti nasionalisme yang ada sekarang.

Sebab, ketika itu nasionalisme belum ada. Yang ada barulah pahlawan dan suku-suku bangsa yang bersemangat gagah berani menentang musuh besar yaitu Kompeni Belanda, dengan dorongan semangat Islam.” (sejarah umat Islam, lV/271)

Oleh karena itu, wajar kiranya KH Hasyim Asy’ari tokoh NU dan Ki Bagus Hadi Kusumo -tokoh Muhammadiyah meminta kepada panitia perancang kemerdekaan Indonesia untuk menjadikan Indonesia negara Islam atau minimal ada pasal bahwa undang-undang yang berlaku di Indonesia adalah syari’at Islam.

Hal ini mengingat penjajahan orang-orang Asing hanya bisa diselesaikan oleh umat Islam dengan jalan jihadnya. Karena hanya umat Islam yang berperang aktif dalam mengusir penjajah.”

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 94 Rubrik Tema Utama

Penulis : Akrom Syahid

Editor : Helmi Alfian