Jasa Khilafah Turki Kepada Islamisasi Tanah Jawa

Islamisasi jawa
Islamisasi jawa

An-Najah.net – Sejarah, Walisongo utusan Khilafah Turki mulai terkuak. Bisa dikatakan tidak ada Islam di Indonesia tanpa peran khilafah. Orang sering mengatakan bahwa Islam di Indonesia, khususnya di Tanah Jawa disebarkan oleh Walisongo.

Tak banyak orang yang tahu, siapa sebenarnya Walisongo itu. Dari mana mereka berasal. Apa peran mereka dan bagaimana menyebarkan Islam. Tidak mungkin mereka tiba-tiba ada, seolah turun dari langit.

Sejarah telah mencatat bahwa misi dakwah Islam secara khusus ke tanah Jawa. Telah dikirimkan tim dakwah atas perintah Sultan Muhammad I pada tahun 1404 M. Saat itu ia menjadi penguasa Khilafah Turki Utsmani (1394 – 1421 M). Tim dakwah itu dikenal dengan nama Walisongo. (Rahmad Abdullah, Wali Songo Gelora Dakwah dan Jihad di Tanah Jawa. Hal, 62).

Baca juga (Keadilan Khilafah)

Walisongo Utusan Turki

Tanah Jawa menjadi wilayah terpenting bagi penyebaran dan pengembangan agama Islam di Nusantara sejak berabad-abad lampau. Keterkaitan antara Islam dan Jawa tidak bisa dilepaskan dari peran dan kerja keras dakwah para Wali di Tanah Jawa.

Walisongo itu merupakan tim dakwah. Pembentukan lembaga dakwah walisongo pertama kali dilakukan oleh Sultan Turki, Muhammad I. Pada waktu itu Sultan Muhammad I menerima laporan dari para saudagar Gujarat (India) bahwa di Pulau Jawa jumlah pemeluk agama Islam masih sedikit.

Pendapat lain menyatakan, awal mula kedatangan Walisongoadalah ketika terjadi pertempuran di Jawa yaitu sebuah suksesi kepemimpinan Majapahit. Peperangan itu dikenal dengan perang Paregreg.

Para saudagar Gujarat yang beragama Islam memberitahukan kepada Sultan Muhammad I bahwa di Jawa sedang terjadi perang saudara. Sehingga Sultan Muhammad I mengutus beberapa orang dengan keahlian di bidang irigasi dan paham agama Islam untuk misi kemanusiaan. (K. Subroto, Kesultanan Demak Negara Yang Berdasarkan Syari’at Islam di Tanah Jawa. Hal 14).

Baca Juga (Khilafah, Inspirasi Perlawanan di Nusantara)

Sultan Muhammad I kemudian mengirimkan sekelompok tim dakwah islamiyah. Anggota dari tim dakwah ini dipilih dari orang-orang yang memiliki kemampuan di berbagai bidang terutama bidang ilmu agama.

Untuk membentuk Tim ini, Sultan Muhammad I mengirimkan surat pada para pembesar di Afrika Utara dan Timur Tengah. Isi dari surat perintah itu adalah meminta dikirimkannya beberapa ulama yang mempunyai keahlian.

Berdasarkan perintah Sultan Muhammad I itu kemudian dibentuk sebuah tim dakwah. Anggotanya berintikan sembilan orang yang ditugaskan menjadi penyebar agama Islam di pulau Jawa. Kemudian timdakwah berangkat pada tahun 1404 M.

Tim dakwah ini dipimpin oleh SyekhMaulanaMalik Ibrahim (Sunan Gresik) yang berasal dari Turki.  Beliau adalah orang yang ahli agama dan juga ahli irigasi yang dianggap piawai dan pintar dalam mengatur negara.

Begitu sampai di Tanah Jawa, tim sembilan ini langsung melakukan pertemuan untuk merancang rencana kerja. Oleh sebab itu, pertemuan pada tahun 1404 M yang dihadiri oleh seluruh anggotanya dianggap sebagai sidang Walisongopertama yang kemudian disebut sebagai Walisongoangkatan pertama. Karena dalam tim dakwah Walisangoini terdiri dari beberapa angkatan.

Berdasarkan sumber kitab Walisana, Babad Tanah Djawi, Babad Tjirebon, dan Primbonmilik Prof K.H.R. Moh Adnan. Walisongo pada dasarnya adalah semacam lembaga dakwah yang berisi tokoh-tokoh da’i yang berdakwah secara terorganisir dan sistematis melakukan usaha-usaha pengisalaman masyarakat Jawa dan pulau-pulau di sekitarnya. Masing-masing anggota memiliki tugas spesifik untuk satu tujuan mendakwahkan Islam.

Meskipun tiap-tiap wali menggunakan cara berbeda, namun semuanya terintegrasi dengan adanya mekanisme musyawarah timWalisongo. Beberapa hal yang dilakukan oleh Walisongo antara lain; Mendirikan masjid sebagai pusat dakwah dan kekuatan umat. Mendirikan pesantren-pesantren sebagai pusat kaderisasi dan pembinaan. Penguatan jaringan dengan menikahkan putri dan santrinya dengan anak bangsawan keluarga kerajaan Majapahityang telah didakwahi dan masuk Islam.

Pengiriman kader-kader pondok pesantren untuk terjun ke masyarakat sebagai mekanisme pemberdayaan santri. Memenuhi kebutuhan pokok masyarakat dengan berdagang, membuka warung dan pengobatan.

Seruan dakwah langsung kepada penguasa bagian dari upaya diplomasi. Jihad melawan kekuatan Syiwa-Budha dan Portugis. Dan membangun kekuasaan politik Islam dengan mendirikan kerajaan-kerajaan Islam.

Rencana Penguasaan Politik Islam (SiyasahSyar’iyah) dalam dakwah Walisongotelah dipersiapkan oleh Maulana Malik Isroif, anggota Walisongoangkatan pertama. Ketika berdakwah di Cilegon,Jawa Barat, beliau mempunyai beberapa orang murid yang dipersiapkan untuk menjadi raja, diantaranya MaulanaAinulYaqin (SunanGiri) dan SyarifHidayatullah (Sunan Gunung Jati).

Saat itu Maulana Malik Isroiltelah mengajarkan ilmu SyiyasahSyar’iyahpada santrinya sebagai bekal menjadi seorang pemimpin. Kitab-kitab yang diajarkan antara lain; Al Muqadimah karya Ibnu Khaldun, As SyiyasahSyar’iyah dan Al HisbahFil Islamkarya Ibnu Taimiyah serta kita karya al Mawardi, Al Ahkam As Sulthoniyah.

Kitab-kita tersebut membahas sistem politik Islam, aturan pemerintahan, hukum dan undang-undang, serta berbagai upaya untuk perbaikan pejabat dan rakyat dalam bingkai syari’at Islam. Dan terutama untuk menegakkan kewajiban Amar Ma’rufNahiMunkardalam wilayah kekuasaan Islam.

Aksi Dakwah Walisongo

Pada era WalisongoDakwah di Tanah Jawa telah sampai pada tahapan instutisionalisasisyari’ahIslam dalam bentuk negara. Berdirilah kesultanan Islam DemakBintoro. Untuk sampai pada fase dakwah ini sudah tentu membutuhkan waktu yang panjang dan tidak serta merta dimulai atau final pada masa Walisongo. (Tiar Anwar Bachtiar, Sejarah Nasional Indonesia perpektif baru. Hal 94)

Baca Juga (Khilafah, Spirit Keadilan dan kedamaian Abadi)

Proses islamisasiJawa telah melewati kurun masa yang panjang jauh sebelumnya. Boleh dikatakan bahwa Walisongo merupakan salah satu dari mata rantai estafet dakwah yang berjalan.

Kesuksesan dakwah era Walisongobanyak ditentukan oleh kekompakan gerakan dan kesadaran masing-masing individu untuk mengambil peran serta dalam rangka dakwah dan jama’ah. Perencanaan yang matang, pengorganisasian yang tepat, dan penguasaan medan turut memberikan andil bagi keberhasilan tahapan islamisasi jawa.

Tugas dakwah Walisongo belumlah usai. Namun tugas ini tetap menjadi tugas bagi kaum muslimin. Sudah seharusnya sejarah Walisongo bisa diambil pelajarannya. Meskipun mereka seorang ahli dalam irigasi tetapi digunakan untuk Islam. Ahli dalam bidang pengobatan, skill ini juga dijadikan sebagai wasilah untuk dakwah Islam. Adapula yang menjadi penguasa, maka kekuasaannya digunakan untuk kemajuan Islam. Pertanyaannya apa kontribusi kita bagi Islam ini.

Jalan perjuangan menegakkan Islam belum berakhir, namun masih panjang. Diperlukan SDM (Sumber Daya Manusia) dan SDA (Sumber Daya Alam) yang dipergunakan menopang laju dakwah dan jihad ini. Kemudian untuk mencapai tujuan itu, diperlukan pula strategi yang jitu sebagaimana diajarkan para salaf shalih. Serta dilandasi keyakinan bahwa masa depan adalah milik Islam.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 152 Rubrik Jelajah

Penulis : Anwar

Editor : Miqdad