JAT Semarang Himbau Pengusaha Tidak Paksa Pegawai Muslim Kenakan Atribut Natal

IMG296SEMARANG (an-najah.net) – Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) Mudiriyah Semarang, pada hari ini Jum’at (21/12) melakukan aksi pengedaran maklumat yang berisi himbauan kepada para pemilik usaha di Semarang untuk tidak memaksa karyawan yang beragama Islam memakai atribut natal.

Aksi ini dilakukan dengan mendatangi pertokoan, rumah makan, swalayan dan Mall (pusat perbelanjaan) yang berada di kawasan Semarang. Massa Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) ini terkonsentrasi di Masjid Raya Baiturrahman, Simpang Lima, Semarang. Pada awalnya, aksi ini akan dilakukan selepas Shalat Jum’at, namun karena terkendala oleh hujan deras yang mengguyur kota tersebut, rencana tersebut baru bisa direalisasikan setelah Shalat Ashar.

Koordinator Lapangan aksi tersebut, Wahyu, menuturkan kepada sumber an-najah.net bahwa aksi massa tersebut tergerak setelah ada laporan dari masyarakat yang merasa resah karena setiap tahun terutama menjelang perayaan natal selalu memeriahkan lingkungan tersebut dengan aksesoris perayaan natal. Dampaknya, para karyawan toko yang beragama muslim disuruh oleh para pengusaha dan pemilik toko untuk memakai atribut natal seperti topi sinterklas, pin, atau media promosi lainnya.

Aksi pengedaran maklumat yang dilakukan Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) Mudiriyah Semarang itu adalah langkah awal yang ditempuh untuk menghadapi situasi ini.
“Maklumat ini adalah langkah pertama yang diambil, apabila tidak dihiraukan akan ada advokasi dan langkah hukum yang akan diambil oleh JAT” ujar Wahyu.

Sebagaimana yang dituturkan kepada an-najah.net, banyak para pengusaha di kota Semarang yang non-muslim. Sehingga setiap perayaan natal kawasan Simpang Lima yang padat dengan pusat perbelanjaan ini dipenuhi oleh atribut promosi yang berkaitan dengan momen hari kelahiran Isa Al-masih.

Bagi seorang muslim, mengenakan atribut yang berkaitan dengan perayaan agama diluar Islam adalah hal prinsip yang tidak bisa ditawar, “Jangan tasyabbuh (menyerupai) kepada orang kafir, hal itu dapat menodai aqidah seorang muslim,” lanjut Wahyu. [fajar-multazim]