Jauhi Gaya Hidup Boros

Kecenderungan manusia berperilaku boros terhadap harta memang sudah ada di dalam dirinya. Hal ini dapat kita perhatikan dalam hidup keseharian kita. Orang yang punya harta, kecenderungan untuk menjadi pecinta harta akan lebih besar. Makin bagus, makin mahal, makin unik, makin senang, maka makin cintalah ia kepada harta yang dimilikinya. Lebih dari itu, maka ingin pulalah ia untuk memamerkannya. Terkadang apa saja ingin dipamer-pamerkan. Ada yang pamer kendaraan, pamer rumah, pamer perhiasan, pamer mebel, pamer pakaian, dan lain-lain. Sifat ini muncul karena salah satunya kita ini ingin tampil lebih wah, lebih bermerek, atau lebih keren dari orang lain. Padahal, makin bermerek barang yang dimiliki justru akan menyiksa diri.

Ditambah lagi perilaku boros adalah salah satu tipu daya setan terkutuk yang membuat harta kita tidak efektif mengangkat derajat kita. Harta yang dimiliki justru efektif menjerumuskan, membelenggu, dan menjebak kita dalam kubangan tipu daya harta karena kita salah dalam menyikapinya. Allah Ta’ala berfirman ;

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27).

Jama’ah sholat jum’ah yang dimulyakan Allah Ta’ala

Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu pada jalan yang keliru.”

Mujahid mengatakan, “Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang benar, itu bukanlah tabdzir (pemborosan). Seandainya seseorang menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada jalan yang keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan).”

Qotadah mengatakan, “Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk berbuat kerusakan.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 8/474-475).

Jelaslah kiranya bahwa bahwa membelanjakan harta untuk kesombongan, bermegah-megah dan untuk sesatu yang tidak bermanfaat adalah bentuk tabdzir yang dilarang agama.Sikap boros lebih dekat kepada perilaku setan. Karenanya, budaya bersahajalah salah satu budaya yang harus kita tanamkan kuat-kuat dalam diri. Memilih hidup dengan budaya bersahaja bukan berarti tidak boleh membeli barang-barang yang bagus, mahal, dan bermerek. Silahkan saja! Tapi ternyata kalau kita berlaku boros, sama sekali tidak akan menjadi amal kebaikan bagi kita.

Jama’ah sholat jum’ah yang dimulyakan Allah Ta’ala

Ada beberapa sebab yang menjadikan seseorang bersikap boros. Diantaranya karena lalainya seseorang tehadap jalan menuju jannah. Ia tidak paham bahwa jalan menuju jannah dan ridha Allah bukanlah jalan yang penuh dengan kenikmatan dan kesenangan. Akan tetapi jalan yang penuh dengan duri, air mata, peluh dan darah yang menetes serta badan yang selalu capek. Jalan menuju ridho Allah hanya akan ditempuh pula oleh orang-orang yang siap memikul beban-beban dan betul-betul seorang perwira. Inilah bekal bagi mereka yang ingin menegakkan diin ini. Sedangkan lalainya seseorang dari perbekalan ini akan menjadikan seseorang terjerumus dalam perbuatan isyrof. Allah Ta’ala telah menyebutkan hal tersebut dalam al qur’an :

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُواْ الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْاْ مِن قَبْلِكُم مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاء وَالضَّرَّاء وَزُلْزِلُواْ حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللّهِ قَرِيبٌ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. [ Al Baqarah : 214 ].

Sebab lain adalah lalainya seseorang untuk memahami saudaranya yang lain terutama kaum muslimin. Ia tidak berusaha memahai saudaranya yang membutuhkan uluran tangan dan perhatian. Padahal bumi seakan bergoncang dan langitpun serasa akan runtuh jika melihat banyak kaum muslimin yang hidup dalam kelaparan, kesempitan hidup serta minimnya dana untuk proyek dakwah dan iqomatud din ini. Karena banyaknya umat islam yang terjerumus kedalam sikap boros serta condong terhadap kehidupan dunia inilah ummat tertimpa kehinaan dan ketertindasan dihadapan musuh-musuhnya.

Jama’ah sholat jum’ah yang dimulyakan Allah Ta’ala

sedangkan pengaruh sikap boros ini bagi diri seseorang yaitu menjadikan hati keras dalam menerima petunjuk. Karena hati yang lembut, lunak dan hati yang sehat itu hanya akan dimiliki oleh orang yang selalu merasa lapar, sedikit tidur dan bukanlah orang yang senantiasa kenyang dan hidup dengan santai. Perut yang kenyang akan menjadikan orang malas beribadah serta melakukan berbagai ketaatan. Bahkan jika ia di ajak untuk melakukan berbagai ketaatan, maka ia akan mengerjakannya dengan perasaan yang capek sehingga diharamkan baginya kelezatan dalam beribadah.

Musibah lainnya adalah gagal seseorang yang isyrof dalam menghadapi ujian saat ujian datang. Yang demikian itu dikarenakan ia terbiasa hidup mewah dan boros. Ia tidak tidak kuat hidup dengan berbagai kesempitan. Iapun gagal dalam menghadapi berbagai ujian hidup. Karena memang Allah tidak menguatkan dari ujian bagi orang yang tidak pernah mau untuk berjuang dalam menundukkan nafsunya.

Banyak diantara mereka yang akhirnya terjerumus pada mata pencaharian yang haram. Kesempitan hidup dan beban hidup mudah bagi mereka untuk terjerumus pada pekerjaan yang haram tersebut. Padahal Rasulullah salallahu alaihi wasallam bersabda :

إِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ النَّارُ أَوْلَى بِهِ

Sesungguhnya tidak akan masuk jannah daging yang tumbuh dari hal yang haram dan neraka lebih pantas baginya. [ HR. Ahmad ]

Jama’ah sholat jum’ah yang dimulyakan Allah Ta’ala

Dzuhud adalah solusi meninggalkan gaya hidup isyrof

Rasulullallahu sallallahu alaihi wasallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah contoh yang nyata dalam kesahajaan dan kesederhanaan. Rasulullah jika mau bisa saja beliau menjadi orang yang kaya. Karena beliau adalah pemimpin umat islam ketika itu, dan seper lima harta rampasan perang adalah milik beliau. Tetapi beliau memilih hidup dalam kesederhanaan.

Marilah kita selami beberapa hadist di bawah ini agar kita tahu betul bagaimana kesederhanaan Nabi sallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya.

Sederhana pada makanan

Diantaranya adalah kesederhanaan beliau dalam masalah makanan. Dalam hadits Nabi sallallahu alaihi wasallam disebutkan, berkata A’isyah radhiyallahu ‘anha kepada keponakannya ‘Urwah : “Telah berlalu atas kami bulan baru, bulan baru, bulan baru (3 bulan) sementara tidak pernah menyala api di dapur rumah Nabi sallallahu alaihi wasallam dan keluarganya, maka ditanyakan oleh ‘Urwah: Wahai bibinda maka dengan apa kalian makan? Dijawab : Dengan air dan kurma.” (HR Bukhari 8/121 dan Muslim 8/217).

Sederhanaan dalam hal pakaian

Sedangkan kezuhudan beliau dalam masalah pakaian, diriwayatkan dari Abi Bardah: “Telah keluar A’isyah radhiyallahu ‘anha pada kami membawa sehelai selendang kasar dan selembar kain ker
as sambil berkata: Telah dibungkus jasad Nabi sallallahu alaihi wasallam dengan kain seperti ini.” (HR Bukhari 7/195, Muslim 6/145, Abu Daud 4036 dan Turmudzi 1733) Dan berkata Al-Hasan radhiyallahu ‘anhu : Umar radhiyallahu ‘anhu pernah berkhutbah saat ia menjabat presiden sementara di bajunya aku hitung ada 12 bekas jahitan.

Sederhana dalam hal perkakas rumah tangga

Dalam hadits disebutkan kata Umar radhiyallahu ‘anhu : “Saya masuk ke dalam rumah Nabi sallallahu alaihi wasallam, sedang ia bertelekan pada sebuah tikar kasar sehingga berbekas pada tubuhnya, maka aku melihat pada perabotannya hanya kulihat segenggam tepung sebanyak 1 sha’.” (HR Bukhari 7/38, Muslim 4/189, 191)

Jama’ah sholat jum’ah yang dimulyakan Allah Ta’ala

Janganlah kita berkesimpulan yang salah mengenai Kezuhudan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Perlu disadari bahwa sifat kezuhudan beliau ini bukanlah karena beliau fakir (melarat), bakhil (pelit), dan tidak punya makanan sama sekali. Andai kata beliau menginginkan hidup mewah yang bergelimungan dengan harta kekayaan dan bersenang-senang dengan bunga-bunga kehidupan dunia, niscaya dengan patuh dan taat dunia ini akan tunduk di hadapan beliau. Akan tetapi bukanlah kemewahan hidup di dunia yang beliau kehendaki.

Rasulullah khawatir ummatnya dihinggapi penyakit rakus terhadap bunga-bunga kehidupan dunia yang bisa melupakan kewajiban da’wah dan jihad. Beliau khawatir ummatnya dihinggapi penyakit mabuk daratan melihat harta yang bergelimangan sehingga lupa serta lengah terhadap kewajiban menegakkan kalimat Allah. Beliau juga khawatir kalau-kalau dunia ini terbentang di hadapan mereka yang menjadikan mereka binasa seperti yang telah terjadi pada ummat-ummat sebelum mereka.

Demikian khutbah jum’ah yang kami sampaikan. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Kita berdo’a semoga dijauhkan dari sifat isyrof atau boros dan berlebihan dalam kehidupan kita. Dan kita diberikan oleh Allah sifat qona’ah serta merasa cukup dengan pemberian Allah ta’ala sebagaimana do’a Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ;

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

Ya Allah aku memohon padamu petunjuk, ketaqwaan, kesucian dan kecukupan. [ HR. Muslim ].

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.

[ Amru ]