Jebakan Takfiri dan Infiltrasi Intelijen ke dalam Jihad Aljazair

Ilustrasi jebakan

An-Najah.net – Beberapa tahun silam, sebelum gegap gempita jihad di Syam seperti sekarang, sebelum orang-orang asing di dunia jihad yang kini menumpahkan darah mujahidin lewat vonis murtad dan shahawat itu ada, sebelum orang mengenal Jabhah Nushah, Jabhah Islamiyah, Ahrar Syam, dan Islamic State (Jamaah Daulah). Dahulu sudah ada ulama-ulama jihad yang sejak usia belia menjadi pelayan jihad dan mujahidin.

Salah seorang ulama tersebut adalah Syaikh Abdullah Azzam. Doktor di bidang Ushul Fiqih ini menghabiskan umurnya di dunia jihad Palestina. Keterbatasan yang ada Palestina membuat beliau memindahkan laboratorium jihad ke Afghanistan. Di bumi Khurasan itulah beliau mendedikasikan seluruh sisa hidupnya guna menyemai benih Jihad fi Sabilillah.

Mengkafirkan Imam Asy-Syafi’iy

Banyak kisah hidup yang beliau abadikan dalam beberapa ceramah maupun tulisan. Semua menjadi ibrah yang baik bagi para mujahidin khususnya, dan umat Islam pada umumnya. Salah satu kisah yang beliau sebutkan adalah tentang perjumpaannya dengan beberapa aktifis Islam yang telah terjangkiti penyakit ghuluw dalam takfir.

“Dulu, ada seorang pemuda yang sangat rajin beribadah. Pemuda berkebangsaan Yordania ini sedang kuliah farmasi di Mesir. Dia sering memuji saya, mengatakan sangat terkesan dan hormat kepada saya. Seringkali ia berkunjung ke kediaman saya di Kairo, terkadang ia berbuka puasa di rumah saya. Hanya saja ia sangat terkesan dengan Syukri Mustofa.” Kisah Syaikh Abdullah Azzam di bukuny, Fi Dzilali Surat at-Taubah.

“Suatu ketika ia berjumpa dengan Syukri Musthofa. Pimpinan jama’ah takfir wal hijrah.” Lanjut Syaikh Abdullah Azzam. “ Ia sangat kagum terhadap ketegasan,  dan kefasihan Syukri. Lalu ia menemuiku. Ia mulai berbicara, kami pun terlibat diskusi panjang. Tibalah waktu shalat, saya melihat ia enggan shalat bermakmum kepadaku. Saya pun mengajaknya, “Mari shalat bersama kami.” Ia pun shalat di belakang saya. Di lain hari, ketika waktu shalat tiba, saya menjadi imam. Ia tiba-tiba berkata, “Saya telah menjama’ shalat saya.” Saya pun sedikit menginterogasinya. Lalu saya bertanya kepadanya, “Menurut kamu, apa penilaianmu terhadap saya?”

Di sini ia mulai terus terang. Anak muda ini berkata, “Saya berkata apa adanya?”, “Iya, katakan terus terang!” Kisah Syaikh, “maka anak itu berkata, ‘Saya mengkafirkan Anda.” Maka spontan Syaikh bertanya, “Kenapa wahai anak muda? Apa permasalahannya?” Ia menjawab, “Karena Anda adalah ikhwanul muslimin.”

Syaikh Abdullah Azzam berkata, “Baiklah.” Anak muda yang terpengaruh dengan pemikiran Syukri Musthofa tersebut memotong, “Setiap orang yang tergabung dalam ikhwanul muslimin adalah kafir.” Syaikh bertanya, “Kenapa”, ia menjawab, “Karena mereka tidak mengkafirkan al-Hudhaibi –pembina Ikhwanul Muslimin- yang telah murtad itu.”

Syaikh kemudian berkata, “Kemarilah, saya akan menjelaskan kepadamu. Imam Syafi’i dan Imam Ahmad berbeda pendapat tentang hukum orang yang meninggalkan shalat karena malas. Menurut Imam Syafi’i ia tidak dikafirkan, sementara Ahmad mengkafirkannya. Keduanya berdiskusi. Satu sama lain tidak saling mengkafirkan.”

Begitu semangat dan bodohnya anak muda ini, ia dengan lancang mengatakan, ia berkata kepada Syaikh, “Andaikan saat itu saya hadir, saya akan mendebat Imam Syafi’i. Jika ia masih tidak mengkafirkan orang yang meninggalkan shalat karena malas. Maka saya akan mengkafirkan Imam Syafi’i.”

Mendengar hal ini, Syaikh Abdullah Azzam berkata, “Laa Haula walaa Quwwata illa billahi. Sudah cukup sampai di sini. Pergilah dari sini.” Ketika pemuda Yordania ini mengkafirkan al-Hudaibi, syaikh Abdullah Azzam memberi catatan, “Lihatlah, anak muda ini, betapa gampangnya ia melakukan ini.”

Bahaya Ghuluw (Ekstrim)

Apa yang dikisahkan oleh syaikh Abdullah Azzam di atas merupakan gambaran kekacauan berpikir karena kebodohan dan sikap ekstrim dalam beragama. Karena akhirnya ini akan mengantarkan pelakunya pada sikap sombong, tanpa disadari. Ia akan memandang manusia lain sebagai manusia yang bodoh, kotor, tauhidnya rusak, tidak zuhud dan sejenisnya. Ini menyebabkan ia tidak bisa menerima nasehat dari orang lain.

Inilah kenapa Rasulullah SAW jauh-jauh hari mengingatkan kepada umatnya untuk menjauhi sikap berlebih-lebihan dalam beragama. Sebab ia dapat menghancurkan sebuah masyarakat. Beliau SAW bersabda;

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ , فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ

“Wahai manusia, jauhilah sikap berlebih-lebihan dalam beragama. Karena sesungguhnya telah celaka orang-orang sebelum kalian karena berlebih-lebihan dalam beragama.” (HR. Ibnu Majah)

Sikap ghuluw merupakan ciri khas khawarij. Karena inilah mereka keluar dari golongan Rasulullah SAW. Ghuluw melahirkan sikap merendahkan orang lain, dan menggap diri lebih wara’, lebih zuhud, lebih layak,  lebih cerdas, dan lebih bijak daripada siapapun, bahkan sekalipun Rasulullah SAW. Perasaan-perasaan seperti ini membuat dirinya angkuh dan meremehkan orang lain. Sehingga, ia tidak bisa menerima nasehat dari orang lain.

Ini bisa dilihat dari sikap nenek moyang orang-orang khawarij, yaitu Dzul Khuwaishiroh tatkala pembagian ghainimah. Saat itu Rasulullah SAW membagi ghanimah kepada para sahabat yang berhak menerimanya. Dzul Khuwaisiroh menolak kebijakan Rasulullah SAW tersebut. “Wahai Rasulullah, berbuat adil-lah.” Ia menganggap su’udzon kepada Rasulullah, dan menganggap dirinya lebih baik. Kelak, khawarij juga meremehkan ulama, menganggap dirinya lebih peduli terhadap tauhid dan syari’ah dari ulama dan mujahid yang telah menghabiskan umurnya untuk menegakkan Islam.

Maka Rasulullah SAW bersabda, “Celaka engkau, siapa lagi yang akan berbuat adil jika saya sudah (dikatakan) tidak adil. Sungguh rugi dan rugi saya jika saya tidak bisa berbuat adil.”

Maka ‘Umar berkata: “Wahai Rasulullah izinkan saya untuk memenggal lehernya!”

Rasulullah menjawab, “Biarkan dia. Sesungguhnya dia mempunyai pengikut, di mana kalian merendahkan (menganggap kecil) shalat kalian dibanding shalat mereka, shaum kalian dibanding shaum mereka. Mereka membaca Al-Qur’an tapi tidak sampai ke tenggorokan mereka. Mereka melesat (keluar) dari (batas-batas) agama seperti melesatnya anak panah dari (sasaran) buruannya.” (Muttafaqun ‘aIaihi)

Belajar dari Aljazair

Bahaya sikap ghuluw bisa dilihat dari jejak berdarah kelompok takfiri di Aljazair. Mereka telah menghancurkan umat Islam, ribuan nyawa umat Islam melayang di tangan khawarij takfiri Aljazair. Mujahidin yang mukhlis menjadi korban pembantaian kelompok ekstrim ini. Ini semua atas nama menegakkan syariat (had) bagi murtaddin dalam versi mereka.

Baca juga (Dari Sini Ekstrim Takfir Muncul)

Jihad pun mengalami masa-masa yang sulit di Aljazair. Syaikh Abu Mush’ab Assuri mengabadikan jihad dan infiltrasi pemikiran takfiri dalam gerakan jihad Aljazair dalam satu buku. “Balada Jihad Aljazair” nama buku tersebut. Dalam buku ini Syaikh Assuuri memberikan banyak analisa infiltrasi pemikiran takfiri dan hubungannya dengan gerakan intelijen Aljazair.

Menurut catatan Syaikh Assuuri, salah satu gerakan yang disusupi pemikiran ekstrim adalah Jamaah Islamiyah Musallahah (JIA). Awalnya, JIA tidak sedemikian parah. Para pemimpinnya termasuk orang-orang pilihan dalam dunia dakwah dan jihad. Bahkan para pendirinya termasuk mujahidin yang aktif saat jihad Afghanista. Misalnya, Qari Sa’id.

Abdul Haq al-Ayadah, Ja’far al-Afghani dan Abu Abdillah Ahmad, adalah sosok-sosok pemimpin JIA yang sangat lihai dan cerdas. Pada masa Abu Abdillah, JIA mendulang kemenangan gilang gemilang. JIA berhasil menyatukan 90% faksi jihad di bawah benderanya.

Sebelumnya, Qari Sa’id yang sempat ditahan oleh rezim militer berhasil kabur dari tahanan bersama + 700 tahanan lainnya. Ada saksi menyatakan, pelarian itu sengaja dipermudah oleh aparat. Sebab bersama tawanan ada puluhan agen yang ikut dalam rombongan pelarian tersebut.

Saat JIA mencapai puncaknya, Abu Abdillah Ahmad terbunuh dengan misterius. Ada sebagian orang yang mengatasnamakan mengumumkan Abdurrahman Amin sebagai penggantinya. Tidak ada pilihan bagi faksi-faksi JIA kecuali harus menerima apa adanya.

Assuuri mencatat, sejak Abdurrahman Amin memimpin, pemikiran ekstrim takfir mulai menjangkiti barisan mujahidin JIA. Aksi dan statemen JIA menunjukkan pemikiran ekstrim ini. Diantaranya;

  1. JIA menyebar ancaman kepada siapa saja yang diketahui bekerjasama dengan pemerintah. Apapun bentuknya. Mulai dari kementrian hingga para penjual koran di jalan-jalan, sampai guru sekolah dan murid-muridnya. Bahkan para penjual yang mengisi bahan bakar kendaraan menteri atau pejabat pun mendapat ancaman mati.

  2. Mengeluarkan fatwa-fatwa yang menghalalkan pembunuhan istri, dan anak-anak dari keluarga aparatur negara.

  3. Meningkatkan konfrontasi dengan milisi-milisi sipil yang berhubungan dengan pemerintah, dan menjadikannya sebagai target utama.

  4. Maraknya ungkapan takfir (mengkafirkan pihak lain) dalam banyak seruan umum dan arahan jama’ah.

Parade vonis murtad pun mulai berkibar, JIA yang dipimpin oleh Abdurrahman Amin membunuh para mujahidin senior dan ulamanya. Seperti Syaikh Muhammad Said, dan Abdul Wahhab, dengan tuduhan hendak memecah belah jama’ah.

Dia juga mengintruksikan para serdadunya untuk membunuh rakyat sipil dengan tuduhan murtad. Alasannya, mereka bergabung dengan milisi-milisi pemerintah. Si jagal Abdurrahman Amin ini, juga menghalalkan pembunuhan dan penawanan istri-istri mereka, dengan alasan mereka telah murtad.

Tahun 1996-1997 menjadi lautan darah muslimin. JIA pesta dengan darah dan nyawa umat Islam. Aljazair menjadi lautan darah. Pernah jama’ah yang telah tersusupi intelijen, bahkan dikendalikan oleh intelijen ini, melakukan pembantaian terhadap jamaah shalat tarawekh yang baru saja keluar dari pintu-pintu masjid. Alasannya, mereka telah murtad, karena berpartisipasi dalam pemilu.

Kebanyakan pembantaian ini terjadi di wilayah-wilayah yang didominasi oleh FIS, sebuah partai berhaluan Islam yang sempat memenangkan pemilu. Menurut para pengamat, pembantaian ini sengaja disusun oleh para agen thaghut dalam tubuh JIA untuk menghabisi basis massa Islam, yang memiliki proyek menegakkan Islam. Media massa seperti Koran, atau televisi, seperti chanel TV al-Jazeera menayangkan dokumen-dokumen pembantaian yang melibatkan intelijen pemerintah.

Pembantaian terhadap masyarakat sipil dan para aktifis Islam terus dilakukan oleh JIA, hingga sekelompok mujahidin yang berasal dari murid-murid Syaikh Muhammad Said berhasil membunuh pemimpinnya yang esktrim, Abdurrahman Amin, pada akhir tahun 1996.

Namun kejahatan JIA tidak selesai dengan kematiannya. Antar az-Zawabiri melanjutkan kepemimpinan JIA. Ia melanjutkan rangkaian pengkafiran dan kejahatan pendahulunya. Hingga ia juga terbunuh tahun 2003.

Walau JIA tidak lagi eksis, namun citra jihad Aljazair telah tercoreng. Masyarakat dalam maupun luar negeri menjadi sangat alergi dengan istilah jihad. Kajian tauhid, jihad dan mujahidin pun menjadi semacam horror yang menakutkan bagi mayoritas masyarakat Aljazair kala itu. Masyarakat yang dulunya mendambakan kehadiran syariat Islam di bumi Afrika itu, kini menjadi antipati dengan syariat. Di sini pemerintah thaghut, antek Barat, menuai keberhasilan lewat JIA.

Penulis : Akram Syahid

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 118 Rubrik Tema Utama

Editor : Abu Khalid