Korps Marsose

Jejak Hitam Korps Marsose di Tanah Aceh

Korps Marsose
Korps Marsose

An-Najah.net – Perang salib versus perang salib di Aceh berlangsung sangat lama.

Perang di Tanah Rencong tersebut telah melahirkan para Mujahid yang patut untuk dijadikan tauladan.

Baik dari sisi keberaniannya dan juga pewarisan semangat jihad kepada anak turunnya.

Bangsa yang besar merupakan bangsa yang mau menghargai para Mujahid nya. Bahkan perang ini, juga telah melahirkan kisah-kisah yang tidak Terlupakan sepanjang zaman.

Namun, sudah menjadi sunnatullah sejak dahulu. Kaum kafirin berusaha memadamkan Cahaya Islam dari muka bumi ini.

Terkhusus Belanda senantiasa berbuat makar untuk membumihanguskan gerakan jihad, kemudian menjadikan Aceh sebagai wilayah jajahannya. Jihad bagi Belanda dianggap sebagai batu sandungan untuk menguasai Aceh.

Salah satu hal yang menarik untuk dibahas dalam jelajah kali ini. Adanya pasukan khusus bentukan Belanda dinamakan Marsose. Dalam bahasa Belanda dikenal korps marechausse. Pasukan Marsose dibentuk karena Belanda selalu kesulitan menghadapi para gerilyawan Aceh.

Pasukan marsose ini merupakan potret buram sejarah bangsa. Anggota dari pasukan ini sebagian besar terdiri dari penduduk pribumi. Dengan kata lain mereka melakukan penghianatan terhadap bangsa dengan ikut membantu Belanda serta membunuh saudara saudara sesama pribumi Tanpa Rasa peri kemanusiaan.

Marsose, Pasukan Bayaran

Tahun 1873, awal ekspansi pasukan Belanda di Aceh. Belanda memperkirakan bahwa Aceh akan dengan mudah dikuasai. Tetapi kenyataannya jauh panggang dari api.

Belanda justru kalang kabut menghadapi para pejuang Aceh dan harus mengalami kerugian yang sangat besar. Biaya perang pun semakin berlipat ganda.

Dalam Perang Aceh berlangsung dua strategi perang. Pertama dalam bentuk perang terbuka, dan kedua dalam bentuk perang gerilya. Sebelum Keraton Aceh jatuh ke tangan Belanda, perang ini berlangsung secara terbuka, berhadap-hadapan satu sama lainnya.

Tetapi setelah Keraton Aceh dan Masjid Raya jatuh ke tangan Belanda. Sultan Aceh, kemudian bersama para pengikut pengikutnya mengundurkan diri ke luar kota maka peperangan berubah bentuknya menjadi perang gerilya.

Strategi perang gerilya inilah yang membuat Belanda kesulitan untuk menaklukkan wilayah Aceh. Jangankan untuk menaklukkan, untuk mempertahankan daerah yang telah dikuasai nya saja Belanda merasa tidak sanggup.

Hal itu dikarenakan pos-pos penjagaan Belanda selalu mendapat serangan dadakan dari para pejuang Aceh.

Belanda tidak berani mengejar serta menangkap para gerilyawan Aceh. Mereka merasa tidak mampu menghadapi para gerilyawan Aceh.

Bara gerilyawan Aceh menguasai medan perang, sementara Belanda tidak. Dalam taktik perang klasik Sun Tzu faktor penguasaan Medan termasuk bagian memperoleh kemenangan.

Pada awalnya untuk menghadapi serangan gerilyawan Belanda memakai pola kovensional. Strategi mengurung diri di garis konsentrasi.

Strategi inilah yang sangat menguntungkan bagi pejuang Aceh. Para pejuang Aceh pun lebih mudah dalam melakukan segala kegiatan yang mendukung peperangan mereka.

Diantaranya menyelundupkan senjata maupun bahan makanan dan Belanda tidak mampu melakukan sesuatu yang berarti akan Hal tersebut dikarenakan siasat yang mereka buat sendiri.

Sampailah Belanda pada kesimpulan bahwa Belanda harus mencari cara lain untuk menaklukkan Aceh. Atas usul seorang kepala Jaksa di Kuta Raja yang ketika itu bernama Muhammad Syarif.

Ia mengusulkan pasukan Korps Marsose. Ia merupakan seorang bekas Jaksa yang kemudian menjadi pegawai Belanda di kantor gubernur sipil dan Militer di Aceh. (I’anah Wulandari, Satuan Korps Marechausse di Aceh Tahun 1890-1930, Hal 401)

Pasukan marsose akhirnya didirikan oleh Belanda pada tahun 1890 yang disahkan oleh ratu Belanda pada saat itu yakni Ratu Wilhelmina.

Pembentukan pasukan marsose ini merupakan jawaban kebingungan para pemimpin tertinggi militer Belanda untuk mengalahkan Aceh. Jawabannya ialah aksi gerilya dibalas dengan aksi gerilya pula.

Pembentukan pasukan marsose bagi Belanda untuk kepentingan militer. Selain itu juga mengandung unsur politik yaitu politik pecah belah (Devide Etlmpare) guna memecah belah persatuan dan kesatuan kerajaan-kerajaan pribumi Nusantara.

Anggota para marsose ini sebagian besar terdiri dari penduduk pribumi yang direkrut dari pasukan Infanteri pilihan di seluruh wilayah Hindia Belanda khususnya Manado, Ambon, Madura dan Jawa.

Namun, anehnya pemimpin marsose ini diambil dari orang Belanda. Berarti kendali kepemimpinan di tangan pemerintah Belanda.

Pasukan Marsose ini sering disebut penduduk pribumi sebagai pelayan Belanda. Pasukan tersebut beradaptasi dengan gaya perang kaum gerilyawan sehingga menjadi sebuah Pasukan Anti Gerilya.

Pasukan Marsose ini juga populer dengan sebutan pasukan bayaran (Soldier of Fortune). Mereka bertempur dan menyerang dalam sebuah pertempuran demi uang. Mereka juga sengaja disewa oleh salah satu pihak yang berperang untuk meraih kemenangan.

Dalam kasus ini Marsose memiliki loyalitas penuh terhadap pihak yang membayar mereka yakni pemerintah kolonial Belanda.

Mereka tidak memperdulikan pihak lawan mereka meskipun saudara sebangsa dan setanah air sendiri seperti kekejaman yang mereka lakukan terhadap rakyat Aceh. Bahkan, mereka melakukan pembakaran Kampung dan pembantaian serta melakukan pengejaran naik turun gunung di Aceh.

Cermin Sejarah

Keganasan pasukan Marsose tersebut berakhir pada tahun 1930, Karena setelah merayakan HUT nya yang ke 40, seluruh divisi pasukan Marsose dibubarkan.

Sejak saat itu berakhirlah sudah legenda tentang pasukan paling kejam berdarah dingin yang ada di negeri ini.

Sejarah merupakan kumpulan peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Orang yang cerdas senantiasa bisa mengambil pelajaran dari sejarah itu. Pasukan Marsose merupakan sejarah kelam bagi bangsa ini.

Di mana mereka orang pribumi seharusnya melawan penjajahan dan kezaliman malah mereka jadi kaki tangan penjajah.

Ciri orang cerdas adalah tahu siapa kawan dan lawan, sedangkan orang yang bodoh mereka tidak tahu siapa kawan dan lawan. Orang bodoh malah cenderung menjadi lawan sebagai kawan dan Kawan malah dijadikan lawan.

Apalagi sebuah pasukan harus jelas Siapa kawan dan lawan. Jangan sampai demi tahta dan harta ia jual saudaranya untuk kepentingan dunia yang tak seberapa dibanding akhirat nanti nya.

Adanya jejak hitam pasukan Marsose harus dijadikan pengalaman dan pelajaran agar tidak terulang kembali di negeri ini.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 124 Rubrik Jelajah

Penulis : Anwar

Editor : Helmi Alfian

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.