Jejak Perang Salib di Nusantara

Ilustrasi, Kapal Perang Salib Portugis
Ilustrasi, Kapal Perang Salib Portugis

An-Najah.net – Semangat perang Salib sangat mendorong ekspansi Portugis. Mereka memandang semua penganut Islam adalah bangsa Moor dan musuh yang harus diperangi. Th. Muller Kruger, Guru besar Sekolah Tinggi Kristen di Jakarta, menuliskan tujuan Portugis melakukan penjelajahan dunia.

“Orang-orang Portugis ini bukan saja ingin menemukan negeri-negeri lain, melainkan mereka ingin menaklukkan negeri-negeri tersebut, serta mencari kekayaan dunia. Tetapi tak dapat disangkal bahwa yang mendorong mereka adalah Hasrat untuk mengkristenkan daerah-daerah yang ditemukan dan ditaklukkannya itu” ungkapnya.

Ia menjelaskan, “Tidak percuma pada layar-layar kapal mereka tertera ‘Tanda Salib’. Mereka hendak menanamkan salib di tengah-tengah bangsa kafir, bahkan dapat juga dikatakan bahwa merupakan semacam ‘Perang Salib’ apa yang mereka lakukan. Perang salib yang penghabisan tidak mengikuti lagi jalan-jalan yang semula. Sekarang ‘Musuh Islam’ ini diserang dari belakang. Maksudnya untuk memotong dari sumber penghidupannya.”

Guru besar Sekolah Tinggi Kristen ini menegaskan “Penyebaran Injil sudah menjadi tujuan yang utama, bukannya sebagai pekerjaan sambil lalu saja, sebagaimana halnya usaha-usaha bangsa Belanda dan Inggris”.

Kedatangan bangsa mereka untuk melancarkan Perang Salib ini dipertegas dengan pernyataan Alfonso d’Albuquerque ketika menduduki Malaka pada tahun 1511. Dia berpidato di hadapan pasukannya.

“Tugas besar yang harus kita abdikan kepada Tuhan kita dalam mengusir orang-orang Moor demi negara ini dan memadamkan api sekte Muhammad sehingga ia tidak muncul lagi sesudah ini,” ungkapnya

Ia menambahi dalam pidatonya, “Saya yakin, jika kita berhasil merebut jalur perdagangan Malaka ini dari tangan mereka (orang-orang Moor), Kairo dan Makah akan hancur total dan Venesia tidak akan menerima rempah-rempah kecuali para pedagangnya pergi dan membelinya di Portugis”.

Api perang Salib cukup kuat dalam diri d’Albuquerque sehingga mendorongnya untuk menangkap dan menjarah semua kapal milik orang muslim yang bisa ditemukannya Goa dan Malaka. (Sejarah Nasional Perpektif Baru, Tiar Anwar Bachtiar, hal 33).

Dia pun memerangi orang-orang muslim sambil melayani kepentingan perniagaan Portugis. Demikianlah, sekali lagi terjadi perang Salib antara orang-orang Muslim dan orang-orang Kristen.

Sebelumnya, perang itu berkali-kali bergejolak di Laut Tengah. Tetapi kini, perang itu berlangsung di Indonesia yang jauh. Dengan pukulan pertama, armada Portugis menjatuhkan negara Malaka, tetapi tiga kerajaan lain bangkit tetap memperjuangkan Islam di kepulauan Indonesia.

Mandat dan Restu Paus

Sejak akhir abad XV, Spanyol dan Portugis mempelopori bangsa Eropa dalam ekspedisi pelayaran keliling dunia. Orang-orang Spanyol melakukan pelayaran ke arah barat, sedangkan orang-orang Portugis melakukan pelayaran ke arah timur. Ada tiga motif yang melatarbelakangi pelayaran mereka.

Pertama, motif ekonomi (gold/emas), Mereka ingin merebut perdagangan Asia. Rempah-rempah merupakan komoditas terpenting di pasar Eropa. Barang itu harus didatangkan dari Asia dengan jarak tempuh yang sangat panjang sehingga harganya pun menjadi mahal.

Pada waktu itu, rempah-rempah dikuasai oleh para pedagang muslim dari Turki. Portugis ingin menemukan jalan ke Asia dan mengambil rempah-rempah langsung dari pusatnya.

Kedua, motif politik (glory/kejayaan), Mereka berusaha menghancurkan negara-negara Islam. Kalau mereka berhasil memperoleh jalan langsung ke Asia, maka mereka dapat mengalihkan lalu lintas perdagangan melalui jalan itu.

Hal ini merugikan bangsa-bangsa yang sampai saat itu menguasai mata rantai perdagangan Asia–Eropa. Salah satu dari bangsa itu adalah bangsa Turki yang justru pada zaman itu sedang melancarkan serangan yang dahsyat terhadap negara-negara Eropa. Serangan mereka mungkin dapat dilumpuhkan kalau pendapatan yang diperoleh negara Turki dari perdagangan dapat dihancurkan.

Ketiga, motif agama (gospel). Mereka ingin menyebarkan agama Kristen. Orang-orang Portugis ingin mengepung lawan yang beragama Islam dan menyiarkan agama Kristen di seberang lautan.

Ekspansi Portugis itu mendapatkan restu dari Paus Alexander VI. Pada 4 Mei 1943, dia membagi dunia baru antara Portugis dan Spanyol. Salah satu syaratnya adalah raja atau negara harus memajukan misi Katolik Roma di daerah-daerah yang telah diserahkan kepada mereka.

Paus Alexander VI juga mengajarkan bahwa bangsa-bangsa di luar negara gereja Vatikan yang tidak beragama Katolik dinilai sebagai bangsa biadab. Negara atau wilayahnya dinilai sebagai terra nullius (wilayah kosong tanpa pemilik).

Penjajahan dengan semangat perang salib merupakan buah pahit dan buruk yang dirasakan oleh umat Islam Indonesia. Bangsa penjajah telah meracuni alam pemikiran terutama aqidah umat Islam, sekaligus bertujuan untuk menceraiberaikan persatuan antara ulama dan para penguasa pribumi.

Di setiap wilayah yang ditaklukkan, Portugis segera mendatangkan para misionaris. Hal ini sesuai dengan tujuan semula mereka, yaitu menghancurkan negara-negara Islam dan menyebarkan Kristen.

Penduduk pribumi yang telah masuk Kristen diharapkan bisa loyal dan mendukung Portugis. Portugis mengadu domba penduduk yang telah berhasil dikristenkan untuk bermusuhan dengan orang-orang Islam. Mereka bahkan dipakai sebagai senjata untuk memerangi orang-orang Islam.

Reaksi Perang salib

Sejarah akan terus berulang hakekatnya tetap sama, akan tetapi pelakunya berbeda. Ketika perang Salib yang dilancarkan Portugis dan Spanyol telah berlalu. Datanglah aktor perang salib yang lain, ada Belanda, Prancis, dan Inggris. Mereka tujuannya sama melancarkan 3G (Gold, Glory dan Gospel).

Misi utama kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia untuk melanjutkan perang salib terhadap umat Islam Indonesia. Perlawanan umat Islam terjadi. Ketika mereka tergerak dengan semangat perang Salib, umat Islam tergerak untuk melawan dengan semangat perang Sabil. Sehingga terjadi perang Padri, perang Jawa, perang Banjar, perang Aceh dan perang-perang yang lain. Yang jelas umat Islam berperang dengan semboyan “Hidup mulia atau mati syahid”.

Kalau saat ini, ketika umat Islam dizalimi, dihinakan dan dimurtadkan. Tidak aneh kalau umat Islam melawan. Ibarat lebah yang mencari makanan yang baik, ketika hinggap tidak mematahkan ranting-ranting. Namun, ketika rumahnya diusik akan mengejar si pengganggu ke mana mereka lari.

Demikian pula, umat Islam ketika aqidahnya, kehormatannya, tanahnya sudah dirongrong umat lain. Sudah wajar kalau mereka mempertahankan iman dan Islamnya meskipun nyawa taruhannya. Kalaupun mereka meninggal, meninggal dalam keadaan yang mulia.

Penulis : Anwar

Sumber : Majalah An-najah Edisi 137 Rubrik Jelajah

Editor : Anwar