Jihad dan Tajdid Daulah Turki Saljuq

Daulah Turki S a lju q mem fokuska n jihadnya ke arah utara dan b arat wilayah Islam . Kekuasaan nya membentang hingga ke Syam , p erbatasan Romawi di Anatolia , hingga ke Samarkand di sebelah timur .

Para penguasa Turki Saljuq berhasil menyelamatkan Baghdad—ibu kota Khilafah Abbasiyah—dari kesewenang-wenangan penguasa Bani Buwaih dan teror gerakan Al-Basasiri. Daulah ini pulalah yang berhasil menumpas habis kekuasaan Syiah serta Bathiniyah di Iraq dan Khurasan.

Riwayat daulah ini dimulai pada tahun 430 H. Namanya dinisbatkan pada salah seorang pejabat tinggi negara kerajaan Turki yang kafir. Ketika ia punya masalah politik dengan raja negerinya, ia merasa takut dan meminta suaka politik ke daulah Islamiyah, dan selanjutnya masuk Islam. Putra dari keturunan Turki ini bernama Mikail. Ia mengabdikan dirinya untuk berjihad terhadap orang-orang Turki yang masih kafir. Ia sendiri gugur dalam salah satu peperangan melawan mereka. Mikail memiliki putra bernama Muhammad alias Tughril Bik dan Dawud alias Jaghri Bik. Kedua putra inilah yang mendirikan Daulah Turki Saljuq yang kuat.

Pada masa Thugril Bik mereka berhasil menguasai Khurasan hingga Iraq. Mereka masuk ke Baghdad setelah diminta oleh Khalifah Abbasiyah untuk memadamkan bahaya gerakan Al-Basasiri. Masuknya pasukan ini ke Baghdad pada tahun 447 H sekaligus mengakhiri hegemoni rejim Buwaih yang cenderung kepada Syiah sekaligus mengakhiri riwayat Al-Basasiri yang didukung oleh Daulah Ubaidiyah (Fathimiyah) di Kairo.

Pada tahun 448 H Tughril Bik menghapus maki-makian terhadap para sahabat yang ditulis di pintu-pintu masjid. Pemimpin tertinggi juga memerintahkan untuk mengeksekusi mati tokoh spiritual Syiah Abu Abdillah Al-Jalab dengan alasan ia adalah tokoh Syiah yang ekstrem dan berbahaya.

Sepeninggal Thugril Bik yang naik ke tahta kerajaan adalah keponakannya, Muhammad bin Dawud alias Alib Arsalan. Daulah ini mencapai puncak kejayaan pada masanya. Wilayahnya sangat luas dan umat Islam menemukan kembali kegemilangan yang sudah lama pupus. Umat Islam meraih kembali kemenangan-kemenangan yang gemilang. Pertempuran Mula Dzakrad antara Sultan Alib Arsalan dengan Raja Romawi Armanus memberikan kekalahan telak bagi Romawi.

Mengalahkan Romawi

Ibnu Katsir menceritakan bahwa pada tahun 463 H Armanus menempatkan tentaranya dari bangsa Romawi dan bantuan dari negara-negara lain dari Eropa di Jahafil, suatu daerah mirip gunung. Ketika Alib Arsalan melihat jumlah tentara itu, ia sangat khawatir, karena pasukan yang dibawanya hanya 20 ribu orang; jumlah yang jauh lebih kecil. Namun, seoranq faqih yang bernama Abu Nashr Muhammad bin Abdul Malik Al-Bukhari menenangkannya. Al-Faqih kemudian mengusulkan agar perang dilancarkan pada hari Jumat ketika para khatib berdoa untuk mujahidin. Ketika kedua pasukan sudah bersiap-siap Alib Arsalan turun dari kudanya. Ia bersujud kepada Allah, wajahnya ada di atas tanah, dan memanjatkan doa kepada Allah. Allah Subhânahu wa Ta‘âlâ kemudian menurunkan pertolongannya kepada umat Islam dan Armanus pun berhasil ditawan.

Pernah pula diceritakan ketegasan Alib Arsalan. Ketika pergi menuju Aleppo ia meminta sahabatnya Mahmud bin Mardas datang menghadapnya. Namun, Mahmud mencoba membujuknya agar ia tidak diharuskan datang. Ia berpesan kepada Asy-Syarif Thirad Az-Zainabi, kurir yang menyampaikannya. “Katakanlah kepada Sultan bahwa Mahmud memakai ‘jas kebesaran’ Abbasiyah dan berkhotbah atas nama mereka.” Namun, Alib Arsalân berkata, “Apa artinya khutbah mereka, padahal mereka mengumandangkan azan dengan kalimat ‘ Hayya alâ khairil ‘amal ’ (lafal adzan orang Syiah). Pokoknyadia harus datang!

Pada tahun 462 H utusan dari penguasa Makkah Muhammad bin Abu Hasyim datang menghadap Sultan. Ia datang menyampaikan pesan bahwa Gubernur Makkah memberikan khutbah sebagai wakil dari Khalifah Al-Qa’im dari Khilafah Abbasiyah dan Sultan. Yang kedua, Gubernur telah menonaktifkan khutbah-khutbah yang mengatasnamakan penguasa Ubaidiyah di Mesir. Terakhir, ia juga menghapuskan adzan dengan lafal “Hayya ‘ alâ khairil ‘amal”. Sultan pun menghadiahkan 30 ribu dinar. Sultan juga berpesan, “Jika Gubernur Madinah melakukan hal yang sama, ia berjanji akan memberikan 20 ribu dinar.”

Ibnul Atsir memberikan komentar atas akhlak Sultan, “Alib Arsalân adalah seorang yang adil, dermawan, dan cerdas. Ia banyak bersedekah.”

Menteri Visioner

Kepemimpinan Sultan Alib Arsalan ditunjang juga oleh kebijaksanaan menterinya, Al-Qadhi Al-Hasan bin Ali yang bergelar Nizhamul Mulk. Sang menteri mengusulkan kepada Sultan untuk mengader para calon pemimpin yang memiliki akhlak, agama, dan keberanian. Di antara kader calon pemimpin itu adalah Aq Sankar, kakek dari Nuruddin Mahmud Az-Zanki. Kader ini kemudian menjabat sebagai Gubernur Aleppo, Diyar Bakar, dan Jazirah.

Putranya Imaduddin Zanki merintis jihad melawan tentara Salib. Begitu juga cucunya Nuruddin Mahmud yang menjadi penerusnya. Keluarga ini meletakkan fondasi bagi bangunan kemenangan yang dipimpin oleh para pemimpin besar sesudahnya, seperti Shalahuddin Al-Ayyubi, Baibars, dan Al-Qalawun yang sukses melawan kaum Salib. Menara tauhid dan persatuan dunia Islam pun memijar; mengawali babak baru sejarah umat.

Jika itu yang dilakukan oleh keluarga Aq Sankar, salah seorang kader Sultan Mahmud As-Saljuqi yang bernama Al-Barsaki juga memiliki prestasi lain. Selain menjadi Gubernur Mosul ia juga berjihad melawan tentara Salib. Dialah yang pada tahun 520 H menjadi korban pengkhianatan kaum Bathiniyah. Ia dibunuh ketika melaksanakan shalat di Masjid Jami’ Mosul.

Pada kesempatan lain ahli tarikh Abu Syamah menggambarkan pengaruh Daulah Saljuq bagi umat Islam, “Ketika Raja Saljuq melakukan pencitraan ulang terhadap kewibawaan Khilafah (Abbasiyah), terutama yang dilakukan Menteri Nizhamul Mulk, sesungguhnya ia telah mengembalikan citra dan kewibawaan negara ke posisinya yang paling baik.”

Nizhamul Mulk adalah menteri yang memiliki gagasan mendirikan madrasah-madrasah untuk para penuntut ilmu. Pada tahun 459 H ia merampungkan pembangunan gedung Madrasah Nizhamiyah di Baghdad. Ia juga mendirikan madrasah-madrasah di Naisabur dan kota-kota lain. Betapa gencarnya proyek ini, bahkan dibangun pula madrasah-madrasah Ahlus Sunnah di Mesir yang ketika itu di bawah kekuasaan Daulah Ubaidiyah yang cenderung Syiah.

Pada masa pemerintahan Azh-Zhafir (544 H) seorang menteri yang bernama Abul Hasan Ali bin As-Salar mendirikan madrasah yang dipimpin oleh Al-Hafizh As-Silfi. Lembaga pendidikan ini adalah satu-satunya madrasah bermazhab Syafi’i di Iskandariah. Sebelumnya pada tahun 532 H juga didirikan Madrasah Aufiyah yang dipimpin oleh seorang faqih bermazhab Maliki, yaitu Ibnuth Thahir bin Auf. Tujuan kedua madrasah ini adalah menghadang arus Syi’ah sekaligus menyebarluaskan paham Sunnah

Kembali kepada Nizhamul Mulk. Ia pernah belajar fikih mazhab Syafi’i. Ia juga banyak belajar hadits dan bahasa Arab. Majelisnya ramai dihadiri oleh para fuqaha dan ulama. Ia menghabiskan hari-harinya bersama mereka. Ia memelihara shalatnya di awal waktu. Di antara kebaikannya adalah menghapuskan pajak. Ia juga sangat memuliakan ulama yang menasihatinya dengan keras.

Pada suatu hari di bulan Ramadan 485 H Menteri Nizhamul Mulk bersama Sultan Malik Syah melakukan perjalanan dari Isfahan menuju Baghdad. Pada hari ke-10 bulan tersebut, ketika hampir singgah di sebuah kampung di dekat Nahawand, datanglah seorang bocah penganut paham Bathiniyah. Ia berpura-pura meminta tolong. Ketika anak itu mendekat, ia menikam Nizhamul Mulk dengan sebilah pisau dan kabur. Bocah itu sendiri berhasil ditangkap dan dihukum mati. Untuk beberapa saat sang menteri bisa bertahan hidup. Namun, akhirnya ia menghembuskan napas terakhir. Semoga Allah merahmati
nya. Kaum Bathiniyah juga berhasil membunuh putra Nizhamul Mulk yang Fakhrul Malik pada tahun 500 H. *(Ferry)