Jihad Fatahillah di Jakarta

Jayakarta
Jayakarta
Jayakarta
Jayakarta

An-Najah.net – Sejarah Jakarta dimulai dengan nama sunda kelapa. Dalam sejarah jakarta dikenal sebagai nama pelabuhan sunda kelapa yang terletak dimuara sungai ciliwung.

Pada masa itu pelabuhan itu dikenal sebagai pelabuhan lada milik kerajaan Pajajaran yang beragama Hindu.

Para pedagang nusantara kerap singgah di Sunda Kalapa di antaranya berasal dari Palembang, Tanjungpura, Malaka, Makasar dan Madura, bahkan kapalkapal asing dari Cina Selatan, Gujarat/ india Selatan, dan Portugis juga turut singgah.

Awal abad ke 15 M, seorang Ulama Muda asal Samudera Pasai baru saja pulang dari Mekkah. Seperti pemuda Aceh lainnya, ia tidak bisa lagi menginjakkan kakinya ditanah kelahirannya, untuk menyebarkan agama islam.

Pasalnya, Portugis sangat ketat mengawasi masyarakat bumiputra yang mensyiarkan agama Islam, lebih-lebih yang baru kembali dari tanah suci. Ulama muda itu adalah Fadhilah Khan, orang Portugis mengucapkannya dengan nama Fatahillah atau Falatehan.

Portugis memang berbeda dengan Belanda, tidak ingin ajaran islam makin meluas. Mereka khawatir, melalui ajaran-ajaran islam yang mulai banyak dianut, akan tumbuh semangat persatuan, antar kerajaan kecil, yang pada gilirannya akan berhimpun menjadi sebuah kekuatan besar.

Untuk itu, tidak ada sebuah celah sedikitpun yang disisakan Portugis bagi upaya meluasnya hubungan antara satu kerajaan dengan kerajaan lainnya. Demikian pula terhadap kedatangan tokoh agama, seperti tokoh ulama muda Fadhilah Khan.

Namun niat, tekad, dan semangat pemuda ini untuk mensyiarkan agama islam, tidak mengendur sedikitpun. Sebelum berangkat ke Mekah, ia sudah tahu jalinan hubungan baik antar kerajaan Samudera Pasai dan Kerajaan Demak di jawa.

Ia berpikir, kelak jika tidak bisa masuk ke tanah kelahirannya usai menuntut ilmu di Mekah, ia bertekad menuju Demak. Pada masa itu hanya ada tiga kekuatan islam yang tumbuh dan berkembang di tanah Jawa, yaitu Demak, Banten, dan Cirebon, di wilayah Utara jawa Barat.

Perjalanan Dakwah dan jihad

Setelah kepulangannya dari Makkah Fatahillah memilih singgah lebih dulu di kerajaan Cirebon sebelum ke kerajaan Demak, sebab kerajaan ini dianggap paling aman.

Kekuasaan Portugis di wilayah ini kurang kuat. Armadanya hanya mondar-mandir dari Sunda Kelapa ke pelabuhan Cirebon tanpa menetap.

Tanpa banyak rintangan, Fatahillah berhasil menyusup ke Cirebon. Saat itu syiar islam sudah cukup marak di daerah ini.

Kemudian ia meneruskan perjalanannya ke Demak tahun 1522. Di Demak ia diangkat menjadi penasehat Sultan sekaligus sebagai pejabat militer tertinggi di Kerajaan Demak.

Sultan Trenggana yang memimpin kerajaan Demak, sangat senang atas kehadiran Fatahillah. ia merasa memperoleh petujuk dari Allah sir tentang figur yang cocok untuk memimpin serangan ke Sunda Kelapa, kota pelabuhan terpenting bagi kerajaan Hindu, Pajajaran (Bogor).

Munculnya Fatahillah dapat memperkuat jajaran pertahanan islam di wilayahnya sehingga Demak dapat menyerang Sunda Kelapa bersama sisa pasukan Pangeran Laut.

Dalam waktu singkat, Fatahillah mulai dikenal masyarakat sebagai ulama muda yang berpengaruh dengan pikiran yang cemerlang.

Sultan Trenggana memperlakukannya seperti saudara kandung, bukti kasih sayang Sultan Demak ini diwujudkan dengan menikahkan Fatahillah dengan adik perempuannya, putri Pamboya atau Ratu Ayu Pembayun.

Fatahillah begitu ditakuti lawan dan disegani oleh kawan, sehingga memiliki banyak nama kebesaran. Portugis menyebut nama Fatahillah ini dengan ”Falatehan”.

Sultan Demak menggelarnya ”Orang agung dari Pase”. Masyarakat Jawa pada umumnya semasa hidup Falatehan memanggilnya ”Ki Fatahillah”, yang berarti orang terhormat karena kealimannya dan ketokohannya dalam masyarakat jawa.

Dalam banyak fersi juga disebutkan sebenarnya yang dimaksud Sunan Gunung Jati dalam Wali Songo di Jawa salah satunya adalah Fatahillah.

Koalisi Kerajaan Islam

Pada tahun 1522 Portugis di bawah pimpinan Francesco de Sa menandatangani ”Pacta Pertahanan” dengan Kerajaan Sunda (Pajajaran-Hindu), dalam konteks menghadapi kerajaan Demak.

Sebelum perjanjian Pacta Pertahanan Pajajaran-Portugis terealisasikan. Maka Fatahillah mengusulkan untuk mengusir portugis dan untuk menguasai sunda kelapa.

Karena Kedatangan Portugis ke sunda kelapa mengacam kedudukan Demak sebagai kota pelabuhan dan mereka merupakan batu perintang dakwah Islam di daerah Banten dan Sunda Kelapa.

Sultan Trenggana memberikan persetujuan terhadap rencana Fatahillah untuk mengusir Portugis yang bercokol di tanah Sunda atau Sunda Kelapa.

Tapi sebelumnya ia akan mensyiarkan Islam di Banten dan menselaraskan pandangan dengan Sultan Hasanuddin atau Pangeran Sabakingking, yang memerintah Banten.

Bagi Fatahillah penyelarasan pandangan dengan kesultanan Banten itu sangat penting. Sebab ia khawatir, Banten akan jalan sendiri menyerang Portugis.

Pada 22 Juni 1527, pasukan koalisi dari Demak, Cirebon dan Banten berjumlah 1.452 prajurit, di bawah pimpinan Fatahillah berhasil merebut sunda kelapa dari cengkraman Portugis.

Sejak saat itu, berakhirlah masa Sunda Kelapa. Fatahillah diangkat sebagai penguasa yang pertama dengan gelar Adipati dari kerajaan Demak.

Fatahillah memperkuat tahta dengan bersama empat Pangeran pembantu setianya Pangeran Wijayakrama, dan Arya Adikara asal Banten, Wijaya Kusuma asal Demak, serta Pangeran Zakaria.

Sunda Kelapa Jadi Jayakarta

Pada masa pemerintahan Fatahillah itulah, pelabuhan Sunda Kelapa mampu menyaingi kejayaan pelabuhan Malaka yang lebih dulu menjadi pelabuhan perantara bagi perdagangan dunia.

Posisi Sunda Kelapa semakin penting dan ramai sehingga hasil bumi Pejajaran bisa lebih cepat diangkut ke Sunda Kelapa sebagai komuditas yang siap jual.

Pasalnya Fatahillah mampu membuat jalan tembus dengan membuka rawa-rawa di daerah Bogor sekarang. Ia juga menghapus tindakan monopoli perdagangan.

Semua pedagang dari semua bangsa bebas berniaga langsung dari tangan pertama, yaitu para pedagang bumiputra yang mendapat bantuan dari penguasa asal Demak itu.

Banten dan Cirebon pun berubah menjadi Bandar Metropolitan, sementara Jayakarta segera dijadikan daerah utama dalam koordinasi Demak.

Fatahillah berhasil merebut Sunda Kelapa dan Banten dari kerajaan Pajajaran yang bersekongkol dengan Portugis.

Penyerangan Fatahillah ke Pajajaran memperoleh dua kemenangan sekaligus, selain berhasil merebut Sunda Kelapa dari kerajaan Pajajaran juga berhasil mengusir Portugis dari Sunda Kelapa daerah taklukannya.

Dalam tahun itu pula tanggal 22 Juni 1527 Fatahillah mengubah nama Bandar Sunda Kelapa menjadi nama ”Jayakarta” yang berarti kejayaan dan kesejahteraan, atau kemenangan yang nyata. Nama ini terinspirasi dari ayat pertama Surat al-Fath dalam al-Qur’an.

Sejak itu, Jayakarta menjadi sebuah pusat pemerintahan Islam yang baru. ia menjadi kota dibawa kekuasaan kerajaan Demak. Sekarang nama Jayakarta menjadi Jakarta.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 88 Rubrik Jelajah

Penulis : Anwar Abu Kholid

Editor : Helmi Alfian