Jihad Harta, Tauladan Seorang Ibu

Jihad Harta, Kewajiban Yang Terlupakan
Jihad Harta, Kewajiban Yang Terlupakan
Jihad Harta, Kewajiban Yang Terlupakan
Jihad Harta, Kewajiban Yang Terlupakan

An-Najah.net – Jihad dengan harta merupakan panggilan iman. Dalam satu tabligh tentang Suriah, seorang penulis majalah An-Najah bercerita, beliau pernah didatangi oleh seorang ibu muda yang berpakaian necis.

Dilihat dari pakaiannya, ibu ini bisa dipastikan dari golongan ekonomi menengah. Setelah basa-basi sebentar, sang ibu mengeluarkan sebuah bingkisan uang, terus menyerahkan ke penulis ini.

Ia seraya berkata, “Ustadz tolong sumbangkan ini kepada para mujahid di Suriah. Belikan perbekalan jihad untuk mereka. Ustadz, apakah dengan ini saya bisa mendapatkan pahala jihad?.”

Dengan terharu sang ustadz ini menjawab, “Alhamdulillah, bu, dana yang ibu sumbangkan bisa membiayai dua mujahid. insyaAllah. Dengan sumbangan ini, insyaAllah, ibu ditulis sebagai orang  yang berjihad.”

Jihad Harta Zaman Tabi’in

Kisah ini mengingatkan kita seorang ibu pada zaman Tabi’in, ia menyumbangkan seluru apa yang beliau miliki, harta benda dan termasuk anak laki-lakinya yang masih muda untuk berjihad di jalan Allah swt.

Sampai ketika tidak tersisa lagi hartanya, ia memotong rambutnya yang panjang, yang ia rawat selama ini, kemudian pergi menghadap Syaikh Abu Qudamah, panglima perang saat itu.

Ia menyerahkan rambutnya tadi yang sudah beliau bentuk seperti tali kekang kuda, seraya bertutur, “Ini milikku yang masih tersisa, bawalah ia ke medan jihad. Jadikan rambutku ini, tali kekang kuda mujahid di jalan Allah swt.”

Sang pangliman sangat terharu dengan pengorbanan sang janda miskin ini. Selain itu, ia berpesan kepada anaknya, “Jangan pernah kamu mudur, apalagi melarikan diri dari medan perang. Berperanglah dengan gagah, ibunda sangat menyukai jika ada yang mengabarkanku, engaku telah syahid.”

Allah pun menerima pengorbanan ibu dan anak ini. Anaknya syahid di jalan Allah dalam keadaan puasa dan gagah berani menghadang musuh. Adakah ibunda seperti ini sekarang? Medan juang merindukannya.?

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 93 Rubrik Tema Utama

Penulis : Akrom Syahid

Editor : Anwar