Browse By

Jihad Jalan Juang Mengusir Penjajah

Ilustrasi Jihad Jalan Juang Mengusir Penjajah

Ilustrasi Jihad Jalan Juang Mengusir Penjajah

An-najah.net – Terusirnya penjajah dari nusantara ini tidaklah mudah, seperti membalik telapak tangan. Namun, dengan pengorbanan harta, jiwa dan raga bahkan nyawa ikut dikorbankan. Sehingga banyak yang menjadi syuhada, sebagai bukti akan keislaman mereka.

Penjajah demi penjajah datang silih berganti. Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris dan Prancis. Dan ada satu lagi Jepang, yang mengaku sebagai “Nipon Cahaya Asia, Nipon Pelindung Asia, Nipon Pemimpin Asia”. Ternyata itu hanya manis di bibir semata.

Buktinya Jepang tidak kalah zalimnya dengan penjajah-penjajah yang lainnya. Berapa banyak gadis yang kehilangan keperawanannya, para lelakinya dipaksa kerja paksa sehingga mereka disebut dengan Romusha. Harta dan benda kekayaan dirampas tanpa belas dan kasihan dari mereka. Dan tidak sedikit para penguasa dijadikan boneka untuk menindas rakyat jelata.

Penjajahan di Indonesia tidaklah berlangsung dengan mulus tanpa perlawanan. Bangsa Muslim yang memiliki kehormatan dan harga diri ini tidak henti-hentinya melawan dengan semangat  jihad. Dengan semboyan perjuangan “Hidup Mulia atau Mati Syahid” (‘Isykariman au mut syahidan). Api jihad berkobar dimana-mana di Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan pulau-pulau yang lainnya, hingga Indonesia merdeka.

Perang Sabil Versus Salib

Salah satu perang terbesar yang sangat merepotkan Belanda adalah perang Jawa (Java Orlog) 1825 – 1830 M. Perlawanan yang dipimpin oleh pangeran Diponegoro ini berlangsung di sebagian pulau Jawa. Diponegoro berjihad bersama umat melawan penjajah dan elit penguasa yang menjadi boneka.

Perlawanan ini berkobar lama dan berdarah, ratusan ribu korban jatuh, terutama dari pihak muslim. Belanda sendiri kehilangan ribuan prajurit dan kasnya hampir kosong untuk membiayai perang. Belanda menghadapi musuh berat yang menentangnya bukan semata sebagai kekuatan penjajah yang merampas hak, namun sebagai kekuatan kafir yang membahayakan Aqidah Islam.

Perlawanan Diponegoro ini kemudian berakhir dengan ditangkapnya sang pemimpin. Dengan tipu daya, Diponegoro diundang berunding di Magelang tetapi kemudian ditawan dan dibuang ke Sulawesi. Sebelumnya beberapa bawahan Diponegoro telah menyerah dan dimanfaatkan untuk menumpas perlawanan besar lainnya di pulau Sumatra, perang Padri.

Perlawanan kaum Padri, sebutan Belanda bagi para ulama yang membawa ajaran pemurnian Islam di Sumatra, berlangsung dalam kurun 1821 – 1837 M. Para ulama yang memimpinnya antara lain Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Rao, Tuanku Nan Renceh, Haji Miskin, dan Haji Sumanang. Mereka adalah tokoh-tokoh yang berhaji ke Makkah dan kemudian pulang membawa dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Perang Padri sempat terhenti beberapa saat dengan perjanjian damai. Belanda memanfaatkannya untuk mengkonsentrasikan kekuatan memadamkan perlawanan Diponegoro di Jawa. Setelah urusan di Jawa selesai, Belanda kembali ke Sumatra dengan kekuatan penuh. Bahkan Belanda diperkuat dengan pasukan Sentot Ali Basah yang telah menyerah. Inilah akal bulus Belanda, membelokkan mujahid yang telah menyerah untuk melawan mujahid lain yang masih gigih melawan.

Akan tetapi, Sentot Ali Basah memperlihatkan sikapnya bagaikan seekor singa garang yang tak bisa dijinakkan. Di Sumatra  Barat ia secara cerdik mengadakan kontak dengan anak buah Imam Bonjol. Ia menggabungkan diri dengan pasukan Padri yang sedang berjihad fisabilillah dan merencanakan suatu kerjasama untuk satu ketika yang tepat mengusir Belanda dari seluruh Sumatra.

Perlawanan Imam Bonjol dan kawan-kawan kemudian diakhiri oleh Belanda. Imam Bonjol sendiri kemudian ditangkap dan dibuang ke Manado. Ia ditempatkan di sebuah daerah yang penduduknya telah dikristenkan oleh Belanda, harapannya agar dakwah dan jihadnya tidak bisa berkembang ditempat buangan.

Perlawanan kemudian berlanjut di Aceh. Dalam kurun 1873 – 1904, Belanda menghadapi perlawanan berat di Aceh. Jihad di Aceh terus berkobar. Meski Kotaraja dikuasai dan para pemimpinnya ditangkap Belanda, perlawanan terus berlanjut. Gigihnya perlawanan jihad Aceh membuat Belanda harus mendatangkan intel nomer satunya, Christian Snouck Hurgronje.

Diantara masukan Snouck adalah melakukan strategi belah bambu. Ulama dan masyarakat biasa diinjak dengan operasi militer represif. Mereka dihabisi tanpa ampun dengan unit militer khusus Marsose. Unit ini dipimpin para perwira Belanda, namun anggotanya personel pribumi, spesialisasinya adalah patroli jarah jauh dan anti-gerilya.

Disisi lainnya, para bangsawan dan hulubalang, umara-nya Aceh diangkat. Mereka yang mau bekerjasama atau minimal menghentikan perlawanan diberi gaji dan fasilitas hidup yang enak. Dengan strategi belah bambu ini, sedikit demi sedikit Belanda dapat menekan mujahidin Aceh.  Hingga akhirnya para pimpinannya ditangkap kemudian diasingkan. Seperti Cut Nyak Dien ditangkap di Aceh kemudian diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat.

Untuk mematikan jihad, strategi musuh dengan membunuh orangnya atau membunuh karakternya, bisa juga menangkap kemudian diasingkan dari basis pendukungnya. Ibaratnya killing the messenger (bunuh si pembawa pesan).

Pewarisan Sipirit Jihad

Semangat jihad itu terus mengalir dalam darah kaum muslimin. Ketika tahun 1945, Ketika pasukan sekutu masuk ke Surabaya muncullah Resolusi Jihad dari KH. Hasyim As’ary. Bahkan dengan pekikan takbir “Allahu Akbar…..!. Merdeka atau mati” bung Tomo membakar semangat arek-arek Surabaya untuk berjihad melawan penjajah yang ingin kembali.

Jihad fisabillah merupakan ajaran agama Islam. Islam itu tidak hanya mengatur urusan akhirat semata, tetapi juga mengatur urusan dunia. Apalagi terjadi penjajahan kezaliman dan ketidakadilan, Islam mengajarkan cara menghilangkan itu semua. Dengan cara jihad fisabilillah.

Semangat jihad ini haruslah senantiasa diwariskan dan dihidupkan kepada generasi berikutnya. Belajar dari Jihad Aceh, Kenapa jihad Aceh itu bisa berjalan cukup lama. Ternyata Center Of Graviti adalah Hikayat perang sabil. Ketika mereka membaca hikayat perang sabil muncul semangat ruhul jihadnya.

Jihad ini juga bukan jihad satu daerah atau satu jama’ah. Akan tetapi dalam jihad harus mampu menggerakkan seluruh elemen umat. Sebagaimana Pangeran Diponegoro mampu merangkul semua. Baik dari kalangan rakyat biasa, santri, ulama kemudian umara. Kemudian Diponegoro sebagai seorang pemimpin mampu memberikan pekerjaan sesuai dengan kapasitas kemampuannya masing-masing.

Demikian pula, kalau generasi sekarang ini. Membaca sejarah para pejuang Islam. Mereka akan bisa mengambil pelajaran dari mereka. Mereka akan  mempunyai idola yang nyata sikap heroiknya, faktor-faktor kemenangan dan kegagalannya. Sehingga mereka tidak akan  terjatuh pada lubang yang sama.

Ibadah jihad saat ini merupakan kewajiban yang banyak dilalaikan. Padahal kedudukan mujahid itu mulia di sisi Allah SWT. Akan tetapi, Rasulullah SAW sudah memberikan bisyarah (kabar gembira). Akan senantiasa ada sekelompok dari umat ini yang senantiasa berjihad di jalan Allah sampai hari kiamat nanti.

Pertanyaannya sekarang sudahkah kita termasuk dalam kafilah jihad itu.  Di tengah munculnya kembali neo-kolonialis, penghinaan dan penodaan terhadap agama Islam ini. Di mana posisi kita?

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 141 Rubrik Tema Utama

Penulis : Abu Khalid

Editor : Anwar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *