Jiwa Merdeka

Jiwa Merdeka
Jiwa Merdeka
Jiwa Merdeka
Jiwa Merdeka

An-Najah.net – Seorang penjelajah asal Portugis, Tome Pirres, mengisahkan perjalanannya ke Nusantara masa prakolonial.

Salah satu kisah yang ditulisnya dalam buku berjudul Summa Oriental itu adalah pandangannya tentang orang Jawa yang ia jumpai di Malaka.

Menurut Pirres, orang Jawa itu penuh percaya diri, cakap berdebat dan selalu siap mencabut keris jika terlibat konflik fisik. Mereka lihai berdebat sekaligus tangkas memainkan senjata.

Pirres menjumpai orang Jawa era Demak, yaitu jaman daulah islam betul-betul eksis di Pulau Jawa.

Bukan sekedar simbolis dengan gelar sultan, sayidin panatagama dan sebagainya.

Sejarah mencatat bahwa Islam “ideologis” munculdilawa sejak berdirinya Kesultanan Demak.

Namun wujudnya sebagai jiwa pemerintahan pun lenyap seiring musnahnya Demak. Pergeseran kekuasaan ke Pajang dan kemudian ke Mataram menggeser pula ideologi Islam.

Orang Jawa pun berubah karakternya. Mereka kini dikenal inferior, menghindari konflik dan lamban. Sastrawan kiri Pramoedya, kelahiran pesisir pantai utara Jawa, menyebut hal itu karena pergeseran pusat kerajaan dari pesisir pantai ke pedalaman. Juga karena perubahan orientasi maritim menjadi agraris.

Menurut Pram, paradigma pesisir adalah pikiran yang terbuka. Pergaulan dengan berbagai bangsa dimungkinkan di kota-kota bandar yang disinggahi kapal-kapal dari negeri lain.

Pandangan terhadap mata pencaharian juga lebih dinamis sehingga kehidupan pesisir pun penuh dinamika.

Sebaliknya, paradigma pedalaman adalah pikiran yang tertutup. Pergaulan yang terbatas melahirkan ketertutupan sekaligus kebanggan diri yang semu.

Mata pencaharian yang pertanian juga melahirkan kehidupan yang penuh sikap fatalis dan berkembangnya klenik.

Betulkah analisis Pram? Membedah karakter sebuah bangsa atau suku hanya dari elemen fisik seperti daerah tinggal dan mata pencaharian agaknya menyederhanakan persoalan.

Manusia memang dipengaruhi secara fisik oleh lingkungan dan ruang kehidupannya, tetapi jiwa manusia lah yang paling berpengaruh bagi keseluruhan dirinya.

Maka bukan pantai atau pedalaman, bukan pula jadi nelayan, saudagar atau petani yang membuat karakter orang Jawa berubah. Melainkan isi jiwanya yang membuatnya berubah.

Melihat gambaran Tome Pirres, yang bukan pribumi apalagi Jawa seperti Pram. Kemudian melihat lini masanya yang bertepatan dengan kuatnya “ideologi Islam” dalam sistem pemerintahan Jawa waktu itu, lebih tepat jika Islamlah yang membentuk karakter seperti dilihat oleh Pirres.

Islam membebaskan jiwa manusia jadi merdeka. Sebagaimana kata sahabat Rib’i bin Armr di hadapan panglima Parsi Rustum, “Islam datang untuk membebaskan manusia dari perbudakan oleh manusia lain, kemudian mengubahnya menjadi penghambaan pada Rabbul Alamin.” Wajarlah jika Pirres melihat jejak jiwa merdeka tadi di Malaka.

Sementara perubahan orientasi ideologis terjadi sejak pergeseran Demak ke Pajang. Sesembahan adalah raja, kehidupan adalah feodal sementara klenik pun berkembang.

Jiwa merdeka Islam pun berubah menjadi jiwa budak yang inferior, penuh ketakutan dan tak punya Inisiatif. Tanpa bermaksud membangun stereotipe, inilah yang hilang dari kehidupan orang Jawa. Wallahu a’lam.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 91 Rubrik Renungan

Penulis : Ibnu

Editor : Helmi Alfian