“Ka’bah” di Solo, Kiamat Bagi Indonesia: Renungan Perayaan Tahun Baru Hijriah

(an-najah.net) – Di Indonesia sambutan untuk tahun baru Hijriah beberapa hari yang lalu bisa dikatakan sangat meriah. Beberapa kota banyak mengadakan berbagai macam acara unik untuk memeriahkan tahun baru Islam ini.

Di Bima Nusa Tenggara Barat, misalnya, masyarakat setempat yang dikenal kental dengan keislamannya memeriahkan tahun baru dengan melakukan pawai kuda sambil memperkenalkan pakaian adat Islami.

Namun, beberapa adat pakaian Islami tidak ditampilkan dalam pawai tersebut. Misalnya pakaian wanita Bima yang dikenal dengan rimpu. Rimpu adalah semacam jilbab yang didesain dari sarung. Ada juga rimpu mpida, hampir sama dengan rimpu biasa, rimpu mpida terdesain dari sarung, bedanya perempuan yang memakai rimpu mpida hanya memperlihatkan mata saja, semacam cadar hari ini. Sedangkan rimpu biasa hanya memperlihatkan wajah.

Mungkin adanya tuduhan teroris identik dengan jilbab besar dan cadar, akhirnya rimpu ditiadakan saat pawai di Bima. Sekali lagi ‘mungkin’!.

Lain di Bima lain pula di Solo. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, acara pawai kerbau putih keturunan kerbau Kiai Slamet menjadi semacam kewajiban bagi keraton Solo.
 
Pawai kerbau yang diadakan setiap malam 1 Suro yang dikenal dengan kirab ini pada hakikatnya ibadah yang menyerupai tawaf di Ka’bah. Bedanya, di Keraton Solo, yang ditawafi –dikelilingi- adalah keraton, bukan Ka’bah, yang melakukan tawaf bukan orang yang memakai pakaian ihram dalam ritual ibadah haji atau umrah, melainkan para abdi dalem, abdi keraton (Hamba Keraton) yang dipimpin oleh kerbau bule dan ditonton oleh ribuan mata yang menanti di pinggir jalan tempat pelaksanaan tawaf.

Jadi wajar jika ibadah kirab ini dihukumi syirik. Jelas ini adalah mempersembahkan ibadah kepada selain Allah swt, dalam hal ini adalah ibadah tawaf dan keyakinan lain yang mengiringi ritual tersebut. Anda mungkin sulit percaya bila kotoran kerbau bule tersebut diperebutkan dengan harapan mendapatkan berkah.

Syirik dalam istilah syar’i adalah menyamakan Allah swt dengan selain-Nya (makhluk-Nya)dalam hal-hal yang menjadi kekhususan Allah swt –ibadah-. Sedangkan Ibadah adalah segala sesuatu yang menjadi hak khusus Allah swt. Dan tawaf adalah ibadah yang hanya boleh ditujukan kepada Allah swt, (Syaikh DR. Abdurrahman Al-Buraikan, Al-Madkhal ila Aqidati Ahli Sunnah, hlm. 242 & Syaikh DR. Abdullah Al-Jibrin, Tashil Al-Aqidah Al-Islamiyah, hlm. 162,186 ).

Jika ini telah dipahami, sungguh ironis bila pemerintah menilai kesyirikan tawaf kerbau ini sebagai budaya yang harus dilestarikan. Tentu, ini mengundang murka Allah swt. Bisa jadi, berbagai macam bala’ yang menimpa Indonesia, seperti banjir yang melanda beberapa wilayah di Indonesia, seperti Jakarta dan Solo, berawal dari kesyirikan yang dianggap sebagai tradisi leluhur yang harus dilestarikan, sehingga Allah swt memurkai bangsa ini.
Kasus kerbau sakral di Solo ini, mewakili sekian kesyirikan yang dianggap budaya di berbagai pelosok negeri ini. Misalnya, setiap bulan Ramadhan ada tradisi ruwatan –ziarah kubur- yang bid’ah dan berbau syirik. Haruskah tradisi seperti ini dibela dan dipertahankan?

Ini belum kemaksiatan dalam bentuk lain yang merajalela di Indonesia. Liburan tahun baru hijriah yang seharusnya digunakan untuk mengevaluasi amal setahun yang lalu; apakah semakin mendekatkan diri kepada Allah swt atau justru kita semakin jauh dari Allah swt. Kenyataannya, momen tahun baru hijriah justru dimanfaatkan untuk kemaksiatan, kecuali orang-orang yang berada dalam bimbingan-Nya. Semoga kita menjadi bagian dari mereka yang disebutkan terakhir.

Korupsi, konser musik rock, dangdut hingga pesta sabu-sabu, menjadi suplemen perayaan liburan tanggal merah 1 Hijriah. Inilah biang keladi kerusakan negeri ini, bukan teroris, bukan juga pemahaman radikal yang didefinisikan tidak jelas oleh BNPT.Inilah yang dimaksud oleh Allah swt:

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kefasikan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Al-Isra’: 16)

Menurut para mufassirin makna kalimat ‘mereka melakukan kefasikan dalam negeri itu’ dalam ayat ini adalah, mereka justru berbuat maksiat dan durhaka kepada Allah swt. Sehingga Allah mengazab negeri tersebut.

Ada juga ahli tafsir yang menjelaskan bahwa jika suatu bangsa dipimpin oleh orang-orang jahat yang menentang Allah dan tidak mengindahkan perintah maupun larangan-Nya, itu pertanda kehancuran bangsa tersebut, (Tafsir Ibnu Katsir, 5/62 & Tafsir  Ath-Thabari, 17/404)

Bukan rahasia lagi korupsi yang dilakukan oleh pejabat negara kita. Hampir tidak ada satu pun instansi pemerintah yang bebas dari korupsi, bahkan proyek pengadaan kitab suci Al-Qur’an pun dikorupsi. Bahkan Depag, yang seharusnya bisa memberikan contoh yang baik bagi masyarakat, termasuk instansi pemerintah yang terkorup.

Jika umat Islam tidak segera membenahi negeri tercinta ini dan membebaskannya dari tangan-tangan rakus nan durjana, maka kehancuran negeri yang dimerdekakan dengan pekikan Allahu Akbar -bukan dengan haleloya, apalagi amintaba- ini  tinggal menghitung hari. Negeri yang dibebaskan dari tangan kotor penjajah salib Barat –Portugis dan Belanda- dan musyrik Jepang oleh para mujahidin Nusantara ini hanya akan jaya jika rakyat Indonesia menapaki jalan perjuangan pendahulunya, seperti Pangeran Abdul Hamid Diponegoro yang mencita-citakan syariat Islam, atau Tuanku Imam Bonjol yang membersihkan masyarakat dari kesyirikan, bid’ah, takhayul dan khurafat, termasuk tawaf kerbau bule.

Jika kesyirikan seperti tawaf kerbau bule dan kemaksiatan para pejabat tidak dihentikan, sebentar lagi rakyat Indonesia akan berucap, “Sayonara Indonesia Raya, Sugeng Rawuh Indonesia Hancur.” Semoga saja ini tidak terjadi.!! [Akrom Syahid, Lc]