Kaki Tangan Penguasa Dzalim

makan 2
makan 2
An-Najah.net – Kekuasaan bukan permainan. Melainkan sebuah amanat yang memiliki ‎konsekuensi ‎dan tanggung jawab besar. Pertanggungjawabannya bukan saja kepada rakyat tetapi ‎juga ‎kepada Allah Ta’ala. ‎
Pada hakikatnya jabatan pemimpin bukan untuk diburu atau ‎diperebutkan. Bisa jadi orang merasa ‎senang saat meraihnya, namun jika tidak ‎menjalankan amanat itu dengan baik, maka di akhirat ‎kelak ia akan terhina dan ‎terkubur dalam penyesalan.‎
إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الإِمَارَةِ، وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ القِيَامَةِ، فَنِعْمَ المُرْضِعَةُ وَبِئْسَتِ الفَاطِمَةُ
Rasulullah Saw bersabda yang artinya: “Sungguh kalian berhasrat menjadi pemimpin. ‎Dan jabatan ‎adalah sebuah penyesalan di hari kiamat. Terasa nikmat manakala ‎menyusui (ketika jadi pejabat) ‎dan terasa buruk bila telah dilepas (lengser)” (HR Al-‎Bukhari: 7148)‎

Bukan Sekedar Jabatan

Karena alasan itu Rasulullah Saw melarang Abu Dzar menjadi pemimpin, ‎beliau melihat sosok Abu ‎Dzar belum ideal menjabat sebagai pemimpin. Rasulullah ‎Saw bersabda, “Wahai Abu Dzar, kamu‏ ‏ini lemah (untuk memegang jabatan) padahal jabatan ‎merupakan amanah. Pada hari kiamat ia ‎adalah kehinaan dan penyesalan, kecuali ‎bagi siapa yang mengambilnya dengan haq dan ‎melaksanakan tugas dengan benar.” ‎

Tugas seorang pemimpin memang tidak ringan. Selain ‎sebagai penanggungjawab tegaknya hukum ‎Allah Ta’ala di bumi, ia adalah melayani umat, ‎yaitu memelihara segala urusan dan kemaslahatan ‎mereka. Karena itu Umar bin ‎Khattab selalu mengingatkan para gubernurnya yang akan menjalani ‎masa tugas, dengan nasehat, “Tiada lain ‎aku tugaskan para pemimpin kecuali untuk menerapkan ‎kitab Allah Ta’ala dan sunnah ‎Rasulullah Saw kepada kalian, juga untuk menegakkan agama ‎kalian.”‎

Namun realitanya, banyak pemimpin yang cenderung dzalim dan memilih menjadi ‎diktator ‎‎(berkuasa sendiri). Meski zaman berganti, tapi karakter penguasa dzalim tersebut tetap sama. ‎Setelah ‎merebut kepemimpinan, mereka akan memilih orang-orang yang bisa menjadi kaki ‎‎tangannya. Pejabat yang tak mau larut dalam lingkaran kedzaliman akan disingkirkan. ‎Pada ‎akhirnya, terbentuklah system rezim baru dengan penguasa dzalim sebagai porosnya. ‎
Bagi penguasa dzalim, ancaman Rasulullah Saw berikut ini sepertinya tak lagi mempan:‎
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ ‏مَائِلاَتٌ ‏رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
‎“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat:satu kaum ‎yang memiliki ‎cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan para wanita yang ‎berpakaian tapi ‎telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang ‎miring. Wanita seperti itu ‎tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, ‎walaupun baunya tercium selama ‎perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim: 2128)‎

Kebenaran Nubuah Nabi

Empat belas abad yang lalu Rasulullah Saw menubuwatkan tentang adanya para pemimpin dzalim ‎‎yang akan berkuasa. Beliau juga

member panduan bagi ummatnya apa yang harus ‎dilakukan jika ‎masa itu benar-benar terjadi supaya tidak salah mengambil sikap.‎
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‎ : ”‎لَيَأْتِيَنَّ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ يُقَرِّبُونَ شِرَارَ النَّاسِ ‏‏, وَيُؤَخِّرُونَ الصَّلاةَ عَنْ مَوَاقِيتِهَا , فَمَنْ ‏أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَلا يَكُونَنَّ عَرِيفًا , وَلا شُرْطِيًا , وَلا جَابِيًا , وَلا خَازِنًا‎“ .‎
Rasulullah Saw telah bersabda, “Benar-benarakan datang kepada kalian suatu zaman ‎yang para ‎penguasanya menjadikan orang-orang jahat sebagai orang-orang kepercayaan ‎mereka dan ‎mereka menunda-nunda pelaksanaan shalat dari awal waktunya. ‎Barangsiapa mendapati masa ‎mereka, janganlah sekali-kali ia menjadi seorang ‎penasehat, polisi, penarik pajak, atau ‎bendahara bagi mereka.” (HR. Ibnu Hibban: 4586)‎
Sebuah rezim memang tak bisa berdisi sendiri, paling tidak membutuhkan dua elemen ‎kekuatan; ‎senjata dan uang. Karena itu, rezim diktator cenderung menggunakan militer ‎dan kepolisian sebagai ‎alat pukul bagi pihak anti rezim.‎
Dengan memiliki kekuatan ‎senjata, sebuah rezim tak segan melenyapkan tokoh-tokoh yang ‎‎dianggap membahayakan eksistensinya. Selain itu, sebuah rezim tak bisa berjalan tanpa ‎ditopang ‎kekuatan ekonomi.Yang sering terjadi, pemimpin dzalim akan menguras dan ‎merampok kas negara ‎demi memperkaya diri dan kroni-kroninya. ‎

Waspada Penguasa Diktator

Tampaknya, kenyataan ‎itulah banyak yang terjadi di negeri-negeri kaum muslimin hari ini, ‎dipimpin oleh ‎penguasa diktator yang memperkaya golongannya. Padahal banyak rakyat yang ‎hidup ‎di bawah garis kemiskinan. Oleh karena itu, Rasulullah Saw memperingatkan ummatnya agar ‎‎jangan sampai terlibat langsung dalam lingkaran kedzaliman. Tolong-tolong menolong ‎hanya untuk ‎kebaikan bukan untuk kejahatan.‎
Allah Ta’ala berfirman yang artinya: ‎
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
‎“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan ‎tolong-‎menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.Dan bertakwalah kamu kepada ‎Allah Ta’ala, ‎sesungguhnya Allah Ta’ala amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Maidah: 2)‎

Menurut IbnuTaimiyah, Kerjasama atau tolong menolong, ada dua macam: kerjasama ‎dalam ‎kebaikan dan ketakwaan seperti jihad, menegakkan hukum syariat, menegakkan ‎kebenaran, ‎mendistribusikan kekayaan untuk yang berhak. Semua itu diperintahkan ‎Allah Ta’ala dan rasul-‎Nya. ‎

Orang yang yang tidak mau menjalankan fungsi tersebut, karena ‎takut menjadi kaki tangan ‎pemimpin dzalim, bisa dikatakan meninggalkan fardhu ain atau fardhu kifayah sedangkan ia ‎menyangka bersikap wara’. Perlu dibedakan wara’ dari sikap takut, atau pengecut. ‎
Meskipun semuanya ‎terlihat sama. Kedua, kerjasama dalam dosa dan permusuhan. Seperti ‎melakukan ‎perintah atasan untuk melenyapkan nyawa orang yang tak berdosa, atau merampas ‎‎harta orang, memukul orang yang tak bersalah, juga perbuatan lain yang dilarang oleh ‎Allah Ta’ala ‎dan rasul-Nya. ‎ Wallahu Ta’ala ‘Alam
Sumber ‎: Majalah An-Najah, edisi 103, hal. 12, 13‎
Penulis ‎ : Abdullah‎
Editor ‎   : Ibnu Alatas‎
‎ ‎