Kalkulasi Strategis Syiah Hizbullah di Suriah

2013-06-05 - hezbollah -stratgic-plan-in-syria(An-najah)Saat ini, banyak pengamat konflik Suriah yang berasal dari Barat menganalisa bahwa keberadaan Hizbullata di Suriah bukan hanya sekedar alasan strategis, namun juga ada alasan ideologis yang sangat kuat. Hal ini membuktikan bahwa opini yang selalu diciptakan Syiah bahwa mujahidin didukung Barat terbantahkan, karena meskipun kekufuran berada dalam satu kelompok (al-kufru millah wahidah), ekspansi ideologi Syiah juga mengancam Barat.  

Pada tanggal 25 Mei, pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah, menyatakan bahwa milisi Syiah Libanon akan berjuang mengerahkan segenap kapasitasnya untuk menyelamatkan rezim Suriah.  Setelah beberapa manuver dalam beberapa bulan terakhir, berjalan diatas tegangnya diplomasi publik, ia akhirnya mengakui keterlibatan langsungnya dalam mendukung rezim Bashar al-Assad yang melakukan penumpasan brutal atas rakyatnya sendiri pada Revolusi Suriah.

Hizbullah pernah melejit di atas puncak ketenaran di antara semua bangsa Arab, bahkan termasuk kaum Sunni saat berhasil mendorong keluar pendudukan Israel dari Libanon pada tahun 2000 dan kemenangan taktis atas Israel pada tahun 2006. Namun, berpihak pada rezim yang menindas di Damaskus, bagaimanapun, telah menghancurkan niat Hizbullah untuk mengambil hati mayoritas Sunni di Timur Tengah. Nasrallah, yang dalam bahasa Arab berarti “kemenangan Allah”, menjadi terkenal dengan sebutanNasrallat, atau “kemenangan berhala” dan kelompok ‘Hizbullah’nya dikenal sebagai Hizbu Syaithon (Partai Setan) di media massa.

Hizbullah dan Hamas pernah didukung oleh rezim Assad, tetapi tidak seperti Hamas, yang dengan teguh pada prinsip ideologisnya menarik diri dari rezim Suriah dan berpihak pada kemuliaan Islam untuk mempertahankan perjuangan rakyat yang tertindas, pada konflik Suriah, Hizbullah tetap menempel rezim.

Dari perspektif ideologis jelas Hamas merupakan perjuangan Islam yang beraqidah Ahlu sunnah. Secara strategis, Hamas  merupakan kelompok berbasis Sunni yang mengandalkan perjuangan rakyat untuk mempertahankan bumi Palestina dari agresi Zionis. Menempel sebuah rezim (Bashar Assad) yang telah membunuhi rakyatnya, memperkosa wanita dan bahkan menyiksa anak-anak akan mengakhiri eksistensi politik Hamas. Milisi Syiah Hizbullah diberikan sedikit kelonggaran untuk melakukan manuver politik, tetapi ada beberapa alasan lain di balik sikap strategis yang menarik untuk disimak.

Pertama, Hizbullah awalnya didirikan pada  pertengahan tahun 80-an di Libanon Selatan, yang saat itu berada di bawah pendudukan Israel. Elemen para pendukung yang mendirikan Hizbullah adalah tipikal orang-orang yang sangat kental nuansa religius dalam ideologi Syiahnya. Gerakan Hizbullah dibangun dari Partai Amal yang tertarik dengan revolusi Iran dan kerangka berpikir yang memunculkan gagasan Wilayat al-Faqih dari Imam Khomeini. Garda Revolusi Iran (pengawal Imam Khomeini, red) memimpin, melatih dan mendanai organisasi baru ini untuk menjadi lengannya di Lebanon dengan kedok membebaskan Libanon dari Israel. Ini adalah ketergantungan organik yang membuat Hizbullah sekadar alat dalam pengaruh Iran di wilayah tersebut. Oleh karena itu, arah kebijakan pemerintah Iran memberikan dukungan yang paripurna kepada sekutu mereka, Assad di Suriah, menimbulkan pertanyaan, apakah terjunnya milisi mereka ke Suriah untuk kepentingan Hizbullah atau bukan?

Kedua, selain dari dukungan fisik dan pendanaan yang disediakan Iran sebagai dermawan utama Hizbullah, pengaruh ideologi jelas sangat besar. Hassan Nasrallat, pernah menyatakan dalam sambutannya, dari rekaman tua pada tahun 1988, bahwa “ia tidak akan berada dalam Hizbullah jika kepemimpinannya tidak secara praktik dan keagamaan terikat rantai komando kepada Wilayat al -Faqih di Iran, karena jika tidak demikian maka dianggap sebagai dosa”. Ini doktrinal afiliasi kuat yang membuktikan bahwa Hizbullah juga memberikan otoritas keagamaan di Iran memiliki pengaruh penuh atas keputusan strategis yang akan diambilnya.

Ketiga, adalah wilayah geografi Lebanon, yang dikelilingi oleh Suriah dari utara dan timur. Di sebelah Barat, mereka dibatasi oleh Laut Mediterania, Israel yang digadang-gadang sebagai musuh Hizbullah, terletak di selatan negeri itu. Rezim Assad, sejak zaman Hafez al-Assad, telah mengadopsi Hizbullah sebagai sekutu. Suriah memberikan jalur logistik senjata yang dipasok Iran melalui perbatasan panjang dengan Lebanon. Suriah telah menjadi sosok di mana Hizbullah dikendalikan, karena itu adalah garis hidup sendiri. Tidak seperti Hamas, yang secara geografis jauh dari Suriah dan lebih tergantung pada Mesir, Hizbullah benar-benar tergantung pada rezim Assad untuk segala persediaannya.

Keempat, adalah situasi geopolitik di seluruh dunia dari perspektif Hizbullah. Ketakutan Hizbullah bahwa jika para pejuang berhasil menggulingkan rezim Assad, pemerintah Sunni selanjutnya akan bekerja sama dengan negara tetangganya melawan  proyek ekspansionis Syiah di wilayah tersebut, jika itu terjadi akan menghentikan dukungan Hizbullah dan mengancam keberadaannya.

Apa yang lebih penting untuk Hizbullah saat ini adalah kekuatan ‘dunia bersatu sikap terhadap kemenangan besar bagi kubu pejuang oposisi atas rezim Assad. Sejauh ini posisi PBB, AS, Eropa serta Rusia terhadap revolusi Suriah adalah mewujudkan negosiasi transisi politik  yang akan melindungi aparat rezim saat ini ( dalam aspek keamanan, militer dan bisnis) dan memberikan kubu posisi kursi dalam pemerintahan mendatang. Sejatinya, tanpa diragukan lagi pemenang dalam formula ini adalah  rezim Assad dan sekutunya, Hizbullah. Mendukung rezim Assad sekarang sama halnya dengan membayar polis asuransi Hizbullah untuk masa yang mendatang.

Kalkulasi strategis Hizbullah adalah kubu pejuang oposisi akan kalah dan dipaksa untuk duduk dengan Assad, dan kekuatan yang sesungguhnya akan tetap di tangan rezim saat ini. Dalam perhitungan ini, selain menyatukan pengaruh militer dan agama  dengan Iran, juga me-restrukturisasi hubungan Hizbullah dengan Assad. Hizbullah saat ini bagai “telah menaruh semua telur dalam satu keranjang”,  yaitu rezim, dan jika rezim itu hilang, keberadaan Hizbullah di masa mendatang juga dipertanyakan. Kaum muslimin seluruh dunia, khususnya kubu oposisi sekarang telah mengekspresikan kecaman dan tuntutan atas campur tangan Hizbullah pasca-Assad Suriah.

Hizbullah lupa bahwa baik saat ini maupun dari pelajaran historis, “tiang pancang sejatinya akan selalu berpihak kepada massa”, karena tidak ada rezim yang dapat menahan pemberontakan rakyatnya sendiri itu. [fajar/revolution-observer]