Kapan Puasa Hari Jum’at Dilarang dan Kapan Boleh?

Ilustrasi puasa tidak makan tidak minum
Ilustrasi puasa tidak makan tidak minum

An-najah-net – Hari Jum’at merupakan salah satu hari raya umat Islam. Dalam Islam dikenal ada tiga hari raya yaitu Idhul fitri, Idhul Adha dan hari Jum’at. Hari Jum’at merupakan hari raya mingguan, sebagaimana Idhul Fitri dan Idhul Adha merupakan hari raya tahunan.

Hari raya merupakan hari kegembiraan dan pernyataan syukur kepada Allah atas kenikmatan-kenikmatan yang dilimpahkan-Nya serta permintaan tambahan-Nya. Maka yang lebih pantas untuk hari ini, hendaknya manusia tidak dalam keadaan puasa, agar dia menjadi kuat dalam amalnya.

Rasulullah Saw mensyari’atkan berbuka pada hari Jum’at, tetapi tetap meperbolehkannya dan menghilangkan kemakruhan puasanya, asalkan dilakukan bersama puasa sebelum dan sesudahnya, yang berarti ia berada pada cakupan puasa yang biasa dilakukan. Agar orang awam tidak menyangka pengkhususan hari Jum’at dengan tambahan ibadah dari hari lain, lalu mereka meyakini, karena keutamaan hari jum’at, bahwa tambahan itu wajib.

Rasulullah Saw bersabda :

“Dari Abu Hurairah Ra, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda; “Jangalah sekali-kali salah seorang diantara kalian puasa pada hari Jum’at, kecuali dia berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari hadits ini Abdullah bin Abdurahman Alu Bassam dalam kitab Taisir Alam Syarhu ‘Undatul Ahkam menjelaskan, larangan puasa ini dapat diartikan sebagai penghindaran, karena Rasulullah Saw juga berpuasa pada hari Jum’at dengan sejumlah puasa yang biasa beliau lakukan dan ada keringanan puasa pada hari jum’at selagi berserta hari lain. Sebab sekiranya haram, tentunya beliau tidak berpuasa sama sekali pada hari Jum’at, seperti halnya keharaman puasa pada hari idhul fitri dan idhul adha.

Beliau menambahkan, boleh puasa pada hari jum’at jika disertakan puasa sebelum atau sesudahnya, atau puasa hari Jum’at termasuk dalam puasa yang biasa dilakukan. (Abu Khalid/annajah)