Karena Ketaatan Membuahkan Balasan

Sujud

 

Sujud
Sujud

An-Najah.net –

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah,

yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. An-Nisa’; 69)

Siapa yang tidak ingin bersama para nabi, shiddiqin, syuhada’dan shalihin di jannah? Semua orang mendambakannya, bahkan menjadi cita-cita tertingginya.

Doa-doa yang dimunajatkan di waktu-waktu mustajab, amal-amal shalih yang dikerjakan menjadi wasilah untuk satu harapan. Yaitu membersamai keempat golongan tersebut di Jannah.

Tapi ketika kualitas diri belum sepadan. Ketika hati masih senang dengan kemaksiatan. Ketika hati masih cinta gemerlapnya dunia. Ketika amalan sunnah masih terlenakan dengan pekerjaan. Bisakah seseorang membersamai mereka?

Ketika akhlak, ilmu dan amal dibandingkan dengan mereka, hasilnya pasti tidak sepadan. Tetapi cukuplah ketaatan pada Allah, Rasul-Nya, dan rasa cinta kepada para nabi, shiddiqin dan syuhada’ menjadi sebab disatukan dengan mereka di jannah. Rasulullah bersabda:

”Engkau akan dikumpulkan bersama orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari)

Tafsir

Pada hari akhirat nanti, derajat manusia bertingkat-tingkat. Seorang muslim yan mematuhi perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya akan mendapat derajat yang mulia, Allah akan menghimpunnya bersama para nabi.

Manusia dengan dengan derajat di bawahnya dihimpun bersama para shiddiqun, kemudian para syuhada, kemudian umat Islam secara umum. Yaitu orang-orang shalih secara dzahir maupun batin.

Ada beberapa riwayat yang menjelaskan mengapa ayat di atas turun. Salah satunya riwayat berikut. Aisyah RA mengisahkan bahwa seorang sahabat menemui Nabi untuk menyampaikan,

”Wahai Rasulullah, sungguh aku mencintaimu melebihi diriku, keluargaku dan hartaku. Bahkan melebihi rasa cintaku kepada anakku. Ketika aku bersama keluargaku di rumah, lalu mengingatmu, aku tidak bisa menahan keinginan untuk melihatmu. Ketika mengingat kematian, aku sadar bahwa anda nanti akan masukjannah dan diangkat bersama para nabi. Jika aku masuk surga, aku khawatlr tidak bisa melihatmu.”

Nabi terdiam tidakmenjawabnya. Kemudian jibril turun untuk menyampaikan ayat ini.

Mu’jamut Tahbarani asshagir: 1/26)

Dalam riwayat lain dari Ikrimah disebutkan bahwa seorang pemuda menghadap Nabi. Ia berkata: “Wahai Rasulullah, di dunia ini kami bisa berjumpa denganmu, tapi di akhirat nanti kami tidak bisa melihatmu. Karena anda berada di tingkat tertinggi di jannah.”

Allah lalu menurunkan ayat di atas. Kemudian Rasulullah Saw bersabda:
“insyaAllah engkau bersamaku di surga.” (An-Nuqul fi Asbabin Nuzul, Jalaludin As-Suyuthi)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rabiah bin Malik Al-Asalmi menginap di rumah Nabi Muhammad SAW. Rabiah melayani nabi dengan menyediakan air wudhu dan segala kebutuhan beliau. Kemudian Nabi berkata kepadanya. ”apakah kamu memiliki permintaan?”

Rabiah menjawab, ‘Wahai Rasulullah aku meminta agar aku bisa menemanimu di jannah.”

“Apakah ada permintaan lain?” tanya Rasulullah

‘Hanya itu,” jawab Rabiah. Maka beliau bersabda, “bantulah diriku agar engkau memperbanyak bersujud”. (Shahih Muslim: 1/353 no: 489)

lbnu Katsir berkata Yang lebih besar dari semua ini apa yang disebutkan di dalam kitab as-shahihul musnad dan yang lainnya dengan sanad yang mutawatir, diriwayatkan oleh sekelompok sahabat bahwa Nabi ditanya tentang suatu kaum namun tidak sederajat dengan mereka?

Maka Nabi Muhammad Saw bersabda: “Seorang akan dibangkitkan bersama orang yang dicintainya”. Anas berkata, “kaum muslimin tidak pernah bergembira seperti gembira mereka dengan hadits ini.” (Tafsir Ibnu Katsir: 1/523)

Itulah balasan bagi orang yang patuh kepada Allah dan Rasul-Nya, dikumpulkan dengan para nabi, shiddiqin, syuhada’ dan Shalihin. Ketika di dunia, balasan yang didapat yaitu kemenangan.

Karena kepatuhan kepada aturan Allah dan Rasulullah merupakan syarat paling penting untuk meraih kemenangan Allah ta ‘ala beriirman:

“Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah nama Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan Mang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”(QS. Al Anfal: 45. 46)

Ketaatan terbukti dengan menjauhi maksiat, selalu melaksanakan perintah dan selalu mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai amal. Garis yang membedakan tentara Allah dengan tentara setan yaitu ketaatan.

Para pejuang Islam berperang karena taat pada Allah dan Rasul-Nya. sementara orang-orang kafir berperang untuk memusuhi Allah dan Rasul-Nya.

Abdurrahman bin Jubair menceritakan kisah yang ia dengar dari ayahnya. Tatkala kaum muslimin menaklukkan pulau Cyprus, tiba-tiba mereka menangis Aku melihat Abu Darda’ menangis sendirian. aku bertanya kepadanya, “Wahai Abud Darda’ apa yang membuat menangis di hari Allah Azza Wa Jalla memuliakan islam dan pengikutnya?”

Ia menjawab, ”sayang sekali kamu! Betapa hina makhluk jika mengabaikan perintah Allah. Kamu tahu bangsa Romawi sebelumnya adalah umat yang kuat dan pemenang. Setelah mereka meninggalkan perintah Allah. kamu bisa melihat seperti apa mereka sekarang?” (Az-Zuhdu. Imam Ahmad: 446)

Kemenangan, pertolongan dan kekuasaan tidak wujud kecuali dengan patuh kepada Allah dan Rasul-Nya. Mengapa pertolongan dan kemenangan untuk umat Islam ditunda karena adanya kemaksiatan.

Tidak ada jalan lain untuk mengembalikan kejayaan kecuali dengan mengajak umat dan para pejuang untuk kem bali menaati perintah dan menjauhi larangan Dengan kedua hal itulah Allah akan menurunkan pertolongan.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 120 Rubrik Tafsir

Penulis : Amru

Editor : Helmi Alfian