Karena Umat Islam Satu Kesatuan

Persatuan Umat
Persatuan Umat

An-Najah.net – Kota kuno Amorion menjadi saksi pertarungan dua kekuatan, Khilafah Islamiyah dan Imperium Byzantium. Kota ini sangat strategis, diapit dua negara dan dilindungi benteng kokoh.

Selama lebih dari 200 tahun, baik kaum muslimin dan Romawi menguasai kota ini silih berganti. Namun, kebesaran nama kota ini berakhir di masa khalifah Muhammad Al-Mu’tashim bin Harun Ar-Rasyid.

Al-Mu’tashim sebenarnya ingin menguasai Amorion. Tapi khalifah ke-8 Dinasti Abbasiyah itu disibukkan dengan memadamkan konflik dan revolusi.

Salah satunya dikobarkan oleh babak Khorramdin yang ingin menegakkan kembali kejayaan dinasti Persia raya. Ketika Al-Mu’tashim mengerahkan pasukan Abbasiyah guna meredam pemberontakan Babak.

Pasukan Romawi diam-diam menusuk dari belakang. Itupun tidak lepas dari taktik Babak yang ingin memecah konsentrasi pasukan Islam dari dua arah.

Babak menulis surat kepada Theophilos raja Byzantium. “Raja arab telah mengerahkan mayoritas pasukannya. Perbatasan negara sedang lemah. Jika kamu ingin mendapat rampasan yang banyak, segera serang perbatasan. Aku jamin tentaramu tidak mendapat perlawanan.”

Theophilos muda yang baru menginjak usia 19 tahun tersebut menemukan momentum. Sejumlah 100 ribu pasukan Romawi segera dikomando untuk berkumpul di Amorium.

Theophilos bahkan terjun langsung memimpin ekspedisi militer tersebut. Seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya, pasukan Romawi tak mendapat hambatan.

Mereka leluasa menjarah kota, membantai semua pria dan menculik para wanita. Serangan Romawi berlanjut ke Malthiyya yang tak jauh dari Zabrutah.

Di kota ini, tentara Romawi mengulangi kekejamannya. Konon, para wanita dipaksa menyaksikan keluarga laki-laki mereka dipenggal. Bahkan, sebelum dieksekusi, mata para korban dicongkel, serta telinga dan hidungnya dipotong.

Jumlah tawanan lebih dari 7000 orang. Mereka digiringke kota Amorium. Kaum muslim yang berhasil selamat melapor kepada khalifah Al-Mu’tashim. Mereta tuturkan nasib tragis kaum muslimin di perbatasan.

Termasuk derita seorang wanita hasyimiyyah (keturunan banihasyim) korban penculikan tentara Romawi yang berteriak, “Wamu’tashamah. WaMu’tashamah. mana al-mu’tashim.

Darah al mu’tashim mendidih mendengar jeritan kaum muslim terzalimi. Ia langsung merespon dengan mengenakan baju perang dan memanggil para tentaranya. Ia umumkan deklarasi perangdan bertekad tidak akan mundur sebelum Amorium jatuh. Pasukan muslim tiba di Amorium pada bulan Jumadal Ula tahun 223 H.

Pihak Romawi berlindung di balik tebalnya benteng Amorium yang dilindungi 44 menara pengawas. Pasukan Abbasiyah mengawali perang dengan menembakkan manjanik api tanpa henti selama tiga hari tiga malam.

Setelah perang berlangsung dua minggu, Pasukan Romawi menawarkan gencatatan senjata dengan kompensasi membebaskan 7000 tawanan. Al-Mu’tahim tidak bergeming. Pengepungan terus berlanjut hingga 6 bulan. Pada hari ke-17 bulan Ramadhan, kaum muslimin berhasil merebut Amorium secara penuh.

Konon, jumlah korban dari pihak Romawi mencapai 30 ribu tentara. Setelah Amorion jatuh, Al Mu’tashim mengosongkan isi kota lalu membumihanguskannya.

Kejayaan kota Amorion selama berabad-abad musnah dan hanya tersisa seonggok gerbang besi. Gerbang itu lalu dibawa ke Samarra dan digunakan sebagai gerbang istana Al- Mu’tashim.

Integral

Kepahlawanan Al-Mu’tashim dalam Fathu Ammuriyah di atas menjadi kisah yang terus dituturkan dari generasi ke generasi. Juga menjadi contoh pembelaan atas terhadap kezaliman yang menimpa kaum muslimin.

Meski dalam masalah aqidah, almut’tashim mendapat beberapa catatan. Namun, hal itu tidak mengaburkan prinsipnya agar menaruhloyalitas dan membela sesama muslimin.

Karena pada hakikatnya kaum muslimin merupakan satu kesatuan. Bencana dan ancaman terhadap satu bagian adalah duka bagi seluruh kaum muslimin. Rasulullah telah membuat tamsil untuk menjelaskan ikatan ukhuwwah kaum muslimin.

Dari sahabat Nu’man bin Basyir yang mengatakan bahwa Rasulullah y bersabda, “kaum muslimin ibarat satu orang. Jika matanya sakit, seluruh anggota tubuhnya sakit.

Jika kepalanya sakit, seluruh badan ikut sakit.” (HR. Muslim) Tamsil dalam hadits di atas menunjukkan dua hal:

Pertama, memberi gambaran ideal dan riil bahwa kaum muslimin terikat atas dasar iman. Bukan atas ikatan suku, bangsa maupun bahasa. Prinsip ini akan relevan di segala zaman. Apalagi di era modern yang kaum muslimin disekat dalam wadah berbentuk nasionalisme ke negara masing-masing.

Kedua, menunjukkan tolak ukur atau parameter untuk mengukur kadar keislaman. Sehingga hadits ini dapat menjadi patokan dalam menakar sejauh mana tingkat iltizam seorang muslim.

Hadits ini juga memberi pelajaran bahwa Islam mengatur manusia hingga pada urusan cinta dan benci. Dua hal yang sebenarnya urusan hati. Allah menghendaki agar loyalitas keimanan diberikan untuk sesama muslim.

Bahkan termasuk dari ciri keimanan. Sikap acuh, arogan, bahkan bahagia melihat seorang muslim mendapat bencana termasuk sifat seorang munafik.

Allah berfirman tentang kaum munafikin: “Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya.” (QS. Ali Imran: 120)

Sunnah Ad-Daf’i

Puncak pembelaan terhadap saudara sesama muslim terwujud dalam jihad membebaskan wilayah kaum muslimin atau jihaduddaf’i.

Menurut syaikh Abdullah Azzam, secara sekilas logika manusia menolak untuk menerima bahwa qanun ad-daf’i atau berjuang membela kaum muslimin merupakan wujud kasih sayang Allah.

Bagaimanapun, jihad identik dengan nyawa dan darah. Namun, jika direnungkan mendalam, hanya jihadlah yang membuat kaum muslim memiliki izzah dan membuat musuh Islam berpikir ribuan kali.

Ketika qanun ini tegak, syiar ibadah kaum muslimin dan tempat-tempat ibadah terlindungi. Maha benar Allah yang berfirman yang artinya,

“Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)- Nya.” (QS. Al-Hajj: 40) Wallahu a’lam.

Sumber : Majalah An-Najah Rubrik Tema Utama Edisi 142

Editor : Helmi Alfian