Kasus FPI LAMONGAN: Ingin Beli Tanah, Malah Diangkut Polisi

bu tina adik thohari
Ibu Tina, Adik Ahmad Thohari, yang menjadi korban penangkapan polisi di Paciran Lamongan.

LAMONGAN (an-anajah) – Bentrokan yang terjadi di pesisir pantai utara Paciran Kabupaten Lamongan hingga  kini masih menyisakan tanda tanya, selain adanya sebagian fakta yang dikaburkan oleh media-media mainstream, pihak kepolisian juga melakukan penangkapan secara sporadis.

Dari 42 aktifis Islam yang ditangkap didalam Musholla di Blimbing, Paciran ternyata ada sebagian diantaranya yang tidak terlibat tetapi ikut diangkut pihak kepolisian.

Berdasarkan penelusuran reporter An-najah.net dilapangan, ada seorang warga bernama Ahmad Thohiri (umur sekitar 40an), yang menjadi korban salah tangkap pihak kepolisian.

Saat ditemui di Kantor kelurahan Blimbing Paciran Lamongan, Adik Thohiri, Tina (30) menuturkan bahwa, Ahmad Thohiri datang ke Blimbing berniat untuk mengunjungi orangtuanya yang tinggal di Paciran.

“Dia datang mau lihat ibunya, disitu mau beli tanah di Blimbing. Sebenernya ga tau apa-apa mas. Malam itu (Ahad, 11/08) pamit sama ibunya mau tidur di gubuknya cak Faruk. Biasanya gak pernah pulang malam. paginya kok gak pulang, ternyata ikut-ikut ketangkep,” ujar Tina kepada An-najah.net, Kamis (15/08).

Menurut Tina hingga kini pihak keliarga belum mendapat kabar dari pihak kepolisian mengenai kabar Ahmad Thohiri, padahal yang bersangkutan punya tanggungan keluarga untuk mencari nafkah menjadi TKI di negeri seberang.

“Sampai sekarang belum ada kabar, padahal mau berangkat kerja ke Malaysia. Gak tahu ya nunggu ini, kalo bisa keluar ya langsung berangkat. kalo ga bisa keluar ya gak tahu,” ujar Tina sambil menggendong anaknya.

Di Malaysia, Ahmad Thohiri berdagang es krim selama 20 tahun. Ia memiliki 3 orang anak dan menetap di Tuban. [fajar/an-najah]