Keadilan Khilafah

Keadilan

An-Najah.net – Allah sangat mencintai keadilan dan membenci kezaliman. Karenanya, Allah menurunkan perangkat
yang dapat memastikan agar keadilan tegak di tengah kehidupan manusia.

Perangkat itu bernama Khilafah. “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (QS. Al-Hadid: 25)

Non Muslim dalam Naungan Khilafah

Musuh Islam tidak henti-hentinya menghembuskan syubhat kepada dunia, bahkan di dalam komunitas muslim itu sendiri. Mereka mengatakan bahwa jika khilafah tegak, maka non muslim akan didiskriminasi. Padahal ucapan tersebut hanyalah omong kosong belaka.

Hak Mendapatkan Pelayanan:

Sejarah membuktikan bagaimana Khilafah memberlakukan non muslim dengan baik. Dalam sistem khilafah, semua warga negara mendapatkan layanan yang sama termasuk kepada non muslim.

Seperti layanan untuk mendapatkan kebutuhan pokok, keamanan dan lainnya. Suatu hari Umar bin Khatab melihat seorang kakek tua yang sedang meminta-minta di pasar Madinah.

Umar bin Khatab mendekati kakek tersebut dan menanyakan beberapa hal kepadanya. Singkat cerita kakek tersebut memperkenalkan diri, kalau ia adalah seorang Yahudi.

Ia meminta-minta untuk membayar jizyah yang sebentar lagi harus ia tunaikan. Sementara ia tidak memiliki kerabat yang dapat membantunya. Umar bin Khatab lalu memegang tangannya dan membawanya ke rumahnya.

Umar bin Khatab menjamu dan mencukupkan beberapa kebutuhannya. Kemudian mengirim utusan kepada sekretaris Baitul Mal sembari menitipkan pesan, “Perhatikan urusan orang tua ini, bagaimana mungkin kita memungut jizyah di masa mudanya, lalu kita telantarkan ia di masa tuanya.”

Hak Mendapatkan Perlindungan:

Bahkan dalam beberapa hal, warga non muslim mendapatkan perlakuan lebih istimewa dibandingkan dengan warga
muslim. Seperti dalam kewajiban membela negara.

Dalam sistem khilafah, warga non muslim tidak berkewajiban untuk membela negara jika terjadi gempuran dari negara lain. Justru mereka adalah orang-orang yang harus dilindungi.

Itulah kenapa Abu Ubaidah bin Jarrah mengembalikan jizyah kepada penduduk Syam ketika pasukan Islam mendengar pasukan Romawi yang berniat melakukan serangan balik.

Pada saat itu, Abu Ubaidah memperkirakan bahwa pasukan Islam tidak mampu mempertahankan gempuran musuh. Adalah langkah bijaksana jika ia menarik pasukannya dan bergabung dengan pasukan lain. Karenanya ia mengembalikan jizyah kepada penduduk setempat.

Hak Menjalankan Agama:

Walaupun sistem khilafah menjadikan syariat Islam sebagai sumber hukum, bukan berarti Islam melarang non muslim untuk menjalankan keyakinan agama mereka.

Justru Islam memberikan kebebasan kepada tiap umat beragama untuk menjalankan syari’at agama mereka masing-masing. Pada saat kaum muslimin berhasil membebaskan Baitul Maqdis, Umar bin Khattab menandatangani perjanjian damai dengan Pendeta Sofranius, pemimpin umat Nasrani di Yerussalem.

Perjanjian yang memberikan jaminan kepada warga non muslim agar tetap bebas memeluk agama dan keyakinan mereka. Memberikan keleluasaan kepada mereka untuk tetap memasang salibsalibnya di Gereja al-Qiyamah.

Islam memberikan kebebasan kepada non muslim apa yang tidak akan pernah diberikan oleh berbagai ideologi yang ada. Demokrasi yang mengaku paling cocok dengan kehidupan moderen pun tidak mampu memberikan apa yang telah diberikan oleh Islam.

Kita tidak akan pernah melihat Demokrasi memberikan kebebasan orang Yahudi, Nasrani, Hindu maupun Budha yang hidup di bawah cengkeraman demokrasi untuk menjalankan keyakinan mereka. Karena slogan kebebasan dan pembebasan Demokrasi hanya isapan jempol belaka.

Spirit Keadilan Khilafah

Apa yang dilakukan oleh khilafah Islamiah membuat orang bertanya-tanya, apa yang membuat sistem Khilafah mampu melakukan semua itu? Jawabannya tidak lain dan tidak bukan melainkan karena Islam menjadikan keadilan samawi sebagai barometer amal mereka.

Islam boleh saja membenci kekafiran, kemunafikan, penghianatan, dan berbagai macam dosa dan kemaksiatan lainnya. Namun kebencian tersebut tidak menjadikan seorang muslim boleh berlaku zalim kepada orang lain bahkan kepada musuhnya.

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.

Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah: 8)

Selama hidupnya, Rasulullah SAW telah mengikuti 27 kali peperangan dan mengirim 38 kali ekspedisi perang melawan Ahlu Kitab dan kaum musyrikin.

Namun beliau selalu berpesan: “Ketahuilah barang siapa yang berlaku zalim terhadap mu’ahid, atau mencela, atau membebankannya dengan sesuatu diluar kesanggupannya, atau mengambil sesuatu tanpa keridhoaannya, aku menjadi hujjah yang akan membelanya di hari kiamat.” (HR. Abu Dawud)

Syubhat Penamaan Ahlu Dzimmah dan Jizyah

Banyak orang menilai bahwa penyebutan ahlu dzimah dan pengambilan jizyah dari mereka adalah bentuk diskriminasi Islam yang paling nyata. Apa yang mereka katakan tersebut hanyalah prasangka dan syubhat belaka.

Sebab: Pertama, penamaan ahlu dzimmah secara bahasa berarti orang yang tunduk pada aturan. Kata dzimmah berasal dari kata dzimmah yang berarti perjanjian. Dengan demikian ahlu dzimmah berarti orang yang taat pada perjanjian atau orang yang taat hukum.

Sungguh mengherankan jika orang yang taat hukum dianggap sebagai orang yang hina. Justru penamaan tersebut merupakan penghormatan tersendiri bagi orang Islam kepada non muslim.

Kedua, penarikan jizyah kepada ahlu dzimmah juga bukan bentuk diskriminatif kepada mereka. Karena secara bahasa jizyah berarti balasan.

Yaitu balasan ahlu dzimmah kepada pemerintahan Islam karena perlindungan dan pelayanan yang mereka terima. Jauh sebelum Islam membebaskan negeri-negeri Syam, Afrika, Asia, maupun Eropa, penduduk setempat telah terbiasa membayar pajak kepada tirani yang menguasai mereka.

Namun ketika Islam datang membebaskan mereka, mereka tidak keberatan dengan sistem jizyah yang dibebankan kepada mereka yang tidak menerima Islam.

Hal itu dikarenakan mereka menyadari bahwa jizyah jauh lebih adil dibandingkan dengan sistem pajak yang penuh dengan kezaliman.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 140 Rubrik Tema Utama

Penulis : Sahlan Ahmad

Editor : Helmi Alfian