Kebahagiaan Ada Di Sini

Qana’ah Kunci Kebahagian
Qana'ah Kunci Kebahagian
Qana’ah Kunci Kebahagian

An-Najah.net – Saya tidak bisa mendefinisikan bahagia (السعادة), tapi bahagia itu saya rasakan. Saya yakin, saudara-saudariku, juga susah mendefinisikan bahagia. Sebab bahagia itu bukan untuk didefinisikan, namun untuk dirasakan.

Yang saya, pahami dari penjelasan para ulama, bahagia hakiki adalah bertempat di hati. Dalam relung hati yang dalam. Bukan di lisan ataupun dalam tampilan.

Lisan dan tampilan, hanya alat untuk mengekspresikan kebahagiaan. Makanya, ada yang ucapan dan tampilannya sederhana, tapi hatinya merengkuh kebahagiaan yang tak bertepi.

Ada juga yang selalu melempar senyum kepada orang-orang di sekitarnya, para fans nya. Kata yang keluar dari lisannya, selalu terucap : Senang, bahagia, dan sejenisnya, tetapi hatinya merana, hampa, jiwanya kering tanpa tetesan embun kesejukan. Inilah ekspresi.

Ada juga yang miskin merana, hatinya pun kering kerontang dari kebahagiaan. Oleh karena itu, orang-orang melakukan apa saja demi mendapatkan kebahagiaan tersebut: sekolah yang tinggi, mengejar karier siang-malam, berdagang, dll.

Jadi, bisa dikatakan, semua aktifitas manusia, siapapun orangnya, bertujuan meraih kebahagiaan. Baik laki-laki – perempuan, muslim – kafir, dan lain-lain.

Qona’ah kunci kebahagian

Pagi ini, saya membaca twit seorang ulama, Syaikh al-Allamah alMuhaddits alHafidz Abdul Aziz At-Thuraifi, semoga Allah menjaga beliau. Ulama santun nan tegas  ini menyimpulkan;

 السعادة بالقناعة فمن شغل قلبه بالآخره أسعده الله بالقليل، ومن شغل قلبه بالدنيا كلما امتلأت يده افتقر قلبه .

♢ عبدالعزيز الطريفي ♢

“Kebahagiaan itu dengan Qona’ah (ridho dengan takdir yang ditetapkan oleh Allah SWT). Siapa yang menyibukkan dirinya dengan akherat, maka Allah SWT akan membahagiakannya walau dengan sedikit. Dan siapa saja yang menyibukkan dirinya dengan dunia, maka setiap kali dunia menumpuk di hadapannya, tiap itu pula ia merasakan kemiskinan di hatinya.”

Sungguh benar apa yang disimpulkan oleh ulama hadits yang telah Menghafal enam Kitab hadits ini (Kutub Sittah). Dalam sebuah hadits riwayat sahabat Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ يَأْخُذُ عَنِّى هَؤُلاَءِ الْكَلِمَاتِ فَيَعْمَلُ بِهِنَّ أَوْ يُعَلِّمُ مَنْ يَعْمَلُ بِهِنَّ ». فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ فَقُلْتُ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَأَخَذَ بِيَدِى فَعَدَّ خَمْسًا وَقَال « اتَّقِ الْمَحَارِمَ تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ وَأَحْسِنْ إِلَى جَارِكَ تَكُنْ مُؤْمِنًا وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ تَكُنْ مُسْلِمًا وَلاَ تُكْثِرِ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ »

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang mengambil dariku kalimat-kalimat ini, lalu ia mengamalkannya atau memberitahukan siapa yang ingin mengamalkannya?”, lalu Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Saya, Wahai Rasulullah”, lalu beliau mengambil tanganku dan menghitung lima perkara, beliau bersabda:

“1. Jauhilah hal-hal yang diharamkan, niscaya Anda akan menjadi manusia yang paling beribadah kepada Allah,

  1. Relalah (ridho-lah) dengan apa yang telah Allah bagikan untukmu, niscaya kamu menjadi manusia yang paling kaya
  2. Berbuat baiklah kepada tetanggamu, niscaya Anda menjadi seorang beriman,
  3. Dan sukai untuk manusia sesuatu yang Anda sukai untuk diri sendiri, niscaya Anda menjadi seorang muslim (sebenarnya)
  4. Dan janganlah terlalu banyak tertawa, karena banyak tertawa mamtikan hati (/perasaan).”

(HR. Tirmidzi dan dihasankankan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’)

Iya kebahagiaan hakiki adalah saat kita ridho terhadap takdir yang Allah SWT tetapkan untuk kita. Keridhoan ini akan melahirkan rasa puas dalam jiwa.

Semoga Allah SWT menganugerahkan rasa ridho terhadap takdir Allah SWT kepada kita. Kemudian mengabadikan rasa itu di dalam jiwa kita. Aamiin ya Robbal Alamin.

Penulis : Mas’ud Izzul Mujahid

Editor : Anwar