Kebangkitan Pasukan Mamalik

Ilustrasi Pasukan Mamluk
Ilustrasi Pasukan Mamluk
Ilustrasi Pasukan Mamluk
Ilustrasi Pasukan Mamluk

An-Najah.net – Tahun 637 H, Mesir diperintah oleh Sultan Al-Maiik Ash-Shalih Najmuddin Ayyub dari Daulah Ayyubiyah.

Sejarawan mencatatnya sebagai sultan Bani Ayyub terbaik setelah Shalahuddin Al-Ayyubi.

Al-Malik Ash-Shalih benar-benar teruji dalam menjalankan pemerintahan. Terutama saat mengatasi pembangkangan para amir di Syam yang ingin merebut kekuasaan.

Puncaknya tahun 641 H, para amir di Syam bersatu dan berkoalisi dengan pasukan Salib.

Sebagai imbalannya, para amir tersebut menyerahkan Baitul Maqdis kepada kaum Salib.

Ini sungguh ironis. Karena Baitul Makdis direbut oleh pendahulu mereka sendiri, Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi dengan pengorbanan darah yang banyak. Masa-masa sulit harus dilalui umat islam, dan perang sengit harus dijalani.

Pasukan Al-Maiik Ash-Shalih memang kalah secarajumlah. Ini memaksanya meminta bantuan tentara Khawarizmi yang mengungsi dari negeri Khawarizmi pasca serangan Tatar. Pasukan Khawarizmi adalah tentara bayaran. Artinya, mereka akan bekerjasama dengan siapapun yang membayar lebih banyak.

Peperangan besar terjadi antara tentara Al-Malik Ash-Shalih dengan tentara koalisi Bani Ayyub dan pasukan Salib. Perang ini dikenal dengan nama Perang Gaza dan terjadi di dekat kota Gaza, Palestina pada tahun 642 H.

Sultan Al-Malik Ash-Shalih menang besar dalam perang tersebut. Tentara Salib banyak yang terbunuh, jumlah korbannya mencapai 30 ribu tentara. Para emir dan raja kaum Salib juga banyak yang ditawan.

Pada tahun 643 H kota suci Baitul makdis bisa dibebaskan kembali oleh tentara Mesir yang disokong tentara bayaran dari Khawarizmi.

Dengan demikian, Baitul Maqdis benar-benar merdeka dan tidak ada satu tentara Salib pun yang bisa memasukinya selama tujuh abad setelahnya, sampai pasukan Inggris pada Perang Dunia I tanggal 16 November 1917 M memasukinya, yaitu dengan pengkhianatan Mushthafa Kamal Ataturk.

Namun, satuan tentara Khawarizmi membelot setelah salah satu emir Bani Ayyub Syam mengiming-imingi mereka dengan bayaran yang lebih tinggi. Pertumpahan darah kembali pecah. Kali ini antara pasukan pembela AI-Malik Ash-Shalih dengan pasukan bayaran.

Pembelotan pasukan Khawarizmi membuka mata AI-Malik Ash-Shalih. Ia sadar harus mengandalkan tentara yang benar benar setia kepadanya, bukan karena hartanya.

Maka ia mulai mengandalkan satu generasi pasukan baru menggantikan tentara Khawarizmi. Generasi baru itu ialah Mamluk atau ”Mamaiik”.

Pendidikan Mamalik

Asal-usul Mamalik adalah tawanan perang atau budak. Mereka berasal dari Negeri Seberang Sungai (sungai yang dimaksud adalah sungai Cihon/Jihun/Oxus, yang mengalir di utara Turkmenistan dan Afghanistan, dan memisahkan antara Uzbekistan dan Tajikistan).

Orang yang tinggal di wilayah itu kebanyakan dari suku Turki. Daerah ini selalu menjadi ajang pertempuran. Karenanya, banyak tawanan yang dijual sebagai budak.

Pasar budak juga bertebaran. Mulai dari Samarkand, Farghana, Khawarizmi, dan sebagainya. Suku Turki mendominasi mamalik tersebut, meskipun tidak menutup kemungkinan adanya Mamalik dari suku Armenia bahkan Mongol sekalipun.

Sebagaimana ada juga Mamalik dari Eropa, Orang-orang Eropa itu dikenal dengan sebutan Shaqaliba. Mereka didatangkan khususnya dari Eropa Timur.

Para Sultan Ayyubiyah memperlakukan para mamalik bukan sebagai budak. Melainkan sangat akrab dan menganggapnya seperti putra sendiri.

Ikatan mereka seperti guru dan murid atau bapak dan anak. Semua Ikatan ini berlandaskan cinta kasih, bukan paksaan atau fisik. Para mamalik memanggil para sultan dengan “guru” bukan “majikan” atau ”tuan”.

Sejarawan Ai-Maqrizl menjelaskan bagaimana para mamluk kecil dididik:

“Tahap pertama dalam kehidupan seorang mamluk adalah belajar baca-tulis bahasa Arab. Setelah itu, ia dikirim ke guru untuk mengaji Al-Quran AI-Karim.

Selanjutnya ia mulai belajar fikih dasar akhlak. Shalat sangat diperhatikan, juga zikir-zikir. Para mamluk diawasi ketat para guru dan murabbi (pendidik)nya. Ketika berbuat kesalahan, akan diingatkan dan diberi sanksi.”

Dengan pendidikan yang ketat ini, mamalik tumbuh menjadi seorang yang sangat mengagungkan Islam. Mereka memiliki latar belakang fikih islam yang luas.

Posisi ilmu dan ulama bagi mamalik dijunjung tinggi sepanjang hayatnya. Hal inilah yang mendorong kebangkitan ilmiah yang tinggi pada era Daulah Mamalik, dan bagaimana mereka menghargai ulama, meski berbeda pendapat sekalipun.

Karena itu, pada zaman Daulah Mamalik kelak, ulama handal banyak bermunculan, semisal Ai-lzz bin Abdussaiam, imam An-Nawawi, lbnu Taimiyah, ibnu Qayyim Ai-Jauziyah, lbnu Hajar Al-Asqaiani, ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Al-Maqrizi, Ibnu Jamaah AiKinani, ibnu Qudamah Al-Maqdisi, dan lain-lain.

Setelah si mamluk dewasa ia diajari seni berperang, teknik bertarung, menunggang kuda, memanah, dan menggunakan pedang. Skill bertempur mereka menjadi terasah dan siap menghadapi kesulitan dan kepayahan.

Mereka juga berlatih kepemimpinan, manajemen, menyusun taktik perang, memecahkan problem kemiliteran dan mengambil keputusan pada hal-hal yang sulit.

Jadilah seorang mamluk pribadi yang maju di bidang militer dan manajemen. Selain juga memiliki semangat keagamaan yang besar dan ghirah islam yang kentara. Semua ini-tentu saja-membuat pijakan mamalik di medan tempur menjadi kokoh.

Kehebatan para mamluuk tidak bisa dilepaskan dari peran para murabbi. Adanya perhatian dengan anak usia dini yang memang mudah untuk dibentuk, akalnya masih murni tiada pemikiran yang nyleneh, akidahnya tidak rusak, memiliki semangat, kekuatan dan giat.

Semua ini memungkinkan para mamluk melaksanakan kewajiban kewajiban sulit dan tugas tugas besar dengan sebaik mungkin.

Dalam semua tahapan pendidikan ini, sang tuan yang membeli mereka mengikuti semua perkembangan mereka dengan seksama.

Bahkan, kadang kala Ai Malik Ash Shalih mengecek langsung makan, minum, dan istirahat mereka. Dia juga banyak duduk bersama mereka untuk makan, banyak bercengkrama dengan mereka. Para mamluk itu betul-betul mencintainya dan sangat setia kepadanya.

Seorang mamluk yang memiliki bakat militer dan agama akan dipromosikan ke jabatan yang lebih tinggi. Kemudian jika ia lebih menonjol dari yang lain, ia akan diberi wilayah kekuasaan untuk dikelola.

Boleh jadi tanah feodal yang diberikannya luas, bahkan mungkin ia mencapai derajat amir (semacam gelar Lord atau Duke dalam sistem feodal di Eropa). Mereka menjadi para emir berbagai wilayah dan emir berbagai satuan dalam militer, demikianlah.

Nama mamalik biasanya dinisbatkan kepada sang tuan yang membeli mereka. Mamalik yang dibeli oleh sultan Ai-Malik Ash-Shalih dikenal dengan sebutan Shalihiyah. Mereka yang dibeli oleh Raja Al-Kamii dikenal dengan Kamiiiyah dan seterusnya.

Jumlah mamalik Shalihiyah terus bertambah, pengaruh dan kedudukan mereka bertambah kuat pada masa pemerintah Al-Maiik AshShalih.

Sampai-sampai Al-Malik Ash-Shalih membangun istana pribadi di pinggir sungai Nil dan untuk mamalik dibangun Citadel (kompleks bangunan yang terdiri dari benteng dan barak tentara) di samping istananya.

Istana dan Citadel ini berada di daerah Raudhah, Kairo. Sungai Nil pada waktu itu dikenal juga dengan sebutan bahr (laut) sehingga nama Mamalik Shalihiyah juga dikenal dengan sebutan Mamalik Bahriyah (karena mereka tinggal di dekat bahr Nil).

Demikianlah, Al-Malik Ash-Shalih membangun kekuasaannya dengan bantuan mamalik yang bisa mencapai jabatan tertinggi di tubuh militer dan negaranya.

Pada masanya, panglima tentara diemban oleh salah seorang mamalikternama Farisuddin Aqthay, kemudian di bawahnya adalah Ruknuddin Baibars. Keduanya berasal dari Mamalik Bahriyah.

(Disarikan dari kitab At-Tatar: Min Ai-Bidayah ila ‘Ain Jalut karya Dr. Raghib As-Sirjani)

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 111 Rubrik Harokah

Editor : Helmi Alfian