Kebengisan PKI Saat Membumihanguskan Kampung Kauman, Magetan

kauman
kauman

An-Najah.net – Setidaknya 72 rumah hangus terbakar dan 149 laki-laki digiring ke Maospati. Sampai kapan pun, Magetan adalah kota yang selalu menawarkan kesejukan dan ketenteraman. Barangkali karena letaknya yang tidak jauh dari kaki Gunung Lawu.

Kauman, adalah sebuah kampung yang terletak di sebelah barat Kantor Kabupaten Magetan. Dinamakan Kauman karena dihuni mayoritas kaum beriman, yaitu orang-orang Islam dan kalangan santri.

Sebelum aksi-aksi keji PKI yang terjadi di berbagai daerah Keresidenan Madiun, Kota Magetan menjadi sasaran permulaan. Alasannya, Magetan adalah daerah strategis yang harus direbut terlebih dahulu.

Pembantaian Berantai

Pada saat pemberontakan PKI Muso 1948, masyarakat di Kauman awalnya hanya tahu adanya sejumlah perampokan. Kusman, sesepuh Kota Magetan dan anggota Tim Sejarah Peristiwa 1948, menuturkan bahwa rumah paman-pamannya juga menjadi sasaran perampokan sebelum terjadi aksi-aksi PKI yang dikenal dengan Madiun Affair itu.

Baca juga: Pasir Dan Air Mauk Menjadi Saksi Bisu Kebengisan PKI

“Perampokan-perampokan itu terjadi sebelum September 1948. Setelah perampokan, berlanjut ke pembakaran rumah. Di antara rumah yang dibakar oleh para PKI, adalah rumah milik Haji Ibrahim. Haji Ibrahim pada masa itu dikenal sebagai pedagang kaya di Magetan. Di Kauman, ada empat sampai lima rumah yang dibakar pada saat itu.” Ujar Kusman

Tidak lama setelah aksi perampokan dan pembakaran rumah terjadilah pembunuhan demi pembunuhan yang dilakukan para PKI. Di antaranya adalah Komandan Depo Militer V, Kapten Soebirin. Inspektur Polisi (sekarang Kapolres), Ismiadi yang dibunuh dengan cara diseret kendaraan Jeep Wilis sejauh tiga kilometer dari Banjarejo Gorang Gareng, sampai Batokan.

Setelah tentara dan polisi dihabisi PKI, berlanjut pada pembunuhan para pejabat. Menyusul setelah para pejabat, kemudian para ulama atau kyai dan para santri. Mereka ditipu dengan undangan rapat ke kecamatan. Namun, kenyataannya, mereka digiring ke Gorang Gareng untuk dihabisi nyawa mereka. Di antara kyai yang digiring ke Gorang Gareng ini adalah Kyai Soelaiman Zuhdi Afandi, Kyai Imam Mursyid Muttaqin dan para santri yang berjumlah ratusan orang.

Baca Juga: Tragedi Serangan PKI Ke Pondok Pesantren Gontor

Sebelum hilang diambil PKI, Kyai Imam Mursyid mengatakan: ”Apa yang terjadi hari ini baru kriwikan (kecil-kecilan saja), belum grojokan» nya (peristiwa besarnya)”.

Rupanya, kyai dan guru tarekat dari Pesantren PSM (Pesantren Sabilil Muttaqien) Takeran ini, sudah melihat jauh ke depan. Kusman menerjemahkan pesan simbolik itu adalah peristiwa 17 tahun kemudian yaitu, peristiwa September – Oktober 1965 yang dikenal dengan Gestapu.

Kelicikan PKI

Pada 19 September 1948, beribu-ribu orang PKI mengepung Kabupaten dan memasuki Kauman. Mereka berteriak-teriak meminta sarung dan bahan makanan dengan alasan untuk makan orang-orang yang menghadapi serbuan Belanda.

Besok paginya, 20 September 1948, tiba-tiba sebuah truk berisi orang-orang PKI laki-laki dan perempuan. Tiba-tiba, seorang perempuan berteriak keras kepada seluruh penduduk Kauman. la mengatakan bahwa salah seorang anggota PKI telah mati terbunuh di Kampung Kauman.

Di atas truk itu memang ada mayat yang dibungkus kain dan hanya kelihatan kakinya saja. Perempuan itu menghendaki agar penduduk Kauman menyerahkan pembunuhnya. Karena merasa tidak pernah membunuh siapa pun, maka penduduk Kauman tidak ada yang mengaku.

Rombongan itu pun pergi sambil meneriakkan ancaman bahwa mereka akan membumihanguskan Kampung Kauman. Ini adalah taktik “mencari pembunuh” yang merupakan strategi PKl untuk menjebak lawah-lawan yang akan menghalangi pemberontakan mereka.

PKI benar-benar membuktikan ancamannya. Pada 24 September 1948, Kampung Kauman benar-benar diserbu. Rumah-rumah dibakar sehingga semua penghuni keluar dari persembunyian mereka. Semua warga laki-laki ditawan dan dibawa ke Maospati setelah tangan mereka ditelikung dan diikat dengan tali bambu.

Membumihanguskan Kampung Kauman itu mengakibatkan tidak kurang dari 72 rumah hangus terbakar. Sebanyak 149 laki-laki digiring ke Maospati. Dari Maospati seluruh tawanan dimasukkan ke dalam gudang rokok kemudian diangkut dengan lori milik pabrik gula ke kawasan Glodok.

Parto Mandojo mengisahkan, “Dari Glodok kami dipindah lagi ke Geneng dan Keniten. Namun sebelum disembelih, kami berhasil diselamatkan oleh serbuan tentara Siliwangi.”

Pembakaran Kampung Kauman itu pada dasarnya merupakan aksi PKI untuk menghancurkan pengaruh agama Islam di tengah masyarakat. Kejadian serupa juga menimpa Pesantren PSM Takeran sebelumnya juga telah dibakar. Pesantren Burikan pun tak luput dari serbuan PKI.

Para tokoh pesantren Burikan seperti Kyai Kenang, Kyai Malik, dan Muljono dibantai di Batokan. Korban lain dari kalangan ulama yang dibantai PKI adalah keluarga Pesantren Kebonsari, Madiun. Akibatnya, setelah peristiwa itu meletus, pesantren-pesantren benar-benar kehilangan sosok pimpinan.

Semoga torehan sejarah singkat ini, mengingatkan kembali kebengisan dan kelicikan PKI terhadap bangsa, negara serta kaum muslimin pada khususnya. Jangan sampai terlupakan sejarah yang memilukan ini.  Wallahu Ta’ala ‘Alam

Sumber            : Buku, Ayat-Ayat Yang Disembelih, cet II, hal 42-44

Penulis             : Anab Afifi, Thowas Zuharon

Editor               : Ibnu Alatas