Kebersamaan Dalam Perjuangan

Kebersamaan dalam Perjuangan
Kebersamaan dalam Perjuangan
Kebersamaan dalam Perjuangan
Kebersamaan dalam Perjuangan

An-Najah.net – Allah SWT sangat mencintai kebersamaan dalam berjuang. Kebersamaan akan melahirkan energi perjuangan yang berlipat-lipat. Allah SWT berfirman yang artinnya;

“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Qs. As-Shof:4)

Syaikh Asy-Syanqithiy RHM berkata, “Pemahaman yang baik terhadap ayat ini, yaitu Allah SWT menyerupakan kekuatan dan persatuan (umat Isam) dengan bangunan.” (Adhwa’ albayan: 8/106)

Dalam sebuah hadits disebutkan “Sesungguhnya muslim satu dengan muslim lainnya seperti bangunan. Antara satu dengan yang lainnya saling menguatkan.” (HR. Bukhari)

Bersatu menegakkan perintah Allah SWT adalah wujud kesempurnaan berislam. Kepemimpinan dan organiasi menjadi wadah yang mempersatukan umat dan bisa memperkecil perselisihan antar muslimin.

Oleh karena itu sahabat Umar RA berpendapat, Islam tidak akan sempurna tanpa adanya kepemimpinan di tengah umat Islam. Beliau RA berkata;

إِنَّهُ لَا إِسْلَامَ إِلَّا بِجَمَاعَةٍ وَلَا جَمَاعَةَ إِلَّا بِإِمَارَةٍ وَلَا إِمَارَةَ إِلَّا بِطَاعَةٍ،

“Sesungguhnya tidak ada Islam tanpa jama’ah, dan tiada jama’ah tanpa kepemimpinan, dan kepemimpinan tidak terwujud tanpa ketaatan.” (Jami’u Bayan Fadhli Ilmi, no. 326)

Perselisihan adalah perkara yang sangat dibenci Allah. Sebab ia akan melemahkan kekuatan umat, merenggangkan hati dan melahirkan permusuhan antar sesama muslim.

Persatuan, dan kebersamaan memperjuangkan islam menuju ridho Allah swt, tidak akan terwujud tanpa pertautan hati, tanpa ada rasa saling mencintai sesama muslim, tanpa ada kesadaran kehormatan saudara muslim adalah kehormatan kita, kebahagian dan kesedihan mereka pada hakekatnya kebahagian dan kesedihan kita juga.

Persatuan umat Islam, lahir dari kesatuan jiwa.

Dari sinilah syari’at Islam menghasung segala sarana yang bisa melahirkan pertautan hati dan rasa cinta antar sesama muslim. Seperti silaturahim, bersedekah dan berbagi.

Abu Hurairah RA mengisahkan, Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, jika aku memandangmu, hatiku menjadi tentram, pandanganku menjadi sejuk. Kabarkan kepadaku sumber segala sesuatu!.” Rasulullah SAW menjawab, “Segala sesuatu tercipta dari air.” Lalu aku bertanya lagi, “Ya Rasulullah, kabarkan kepadaku sesuatu yang jika aku mengerjakannya, maka aku bisa masuk surga!.” Rasulullah SAW menjawab,

“Berikanlah makanan, sebarkan salam, sambunglah silaturahim, dirikan shalat malam saat manusia pada tidur, niscaya kamu akan masuk surga dengan selamat.” (Shahih Ibn Hibban)

Islam, mengharamkan segala hal yang berpotensi mencerai-beraikan hati, memunculkan rasa benci terhadap sesama umat Islam. Islam menekankan bahwa umat Islam itu bersaudara dan saling mencintai. Inilah puncak kekuatan iman seorang muslim. Rasulullah SAW bersabda;

“Ikatan iman yang paling kuat adalah kamu cinta karena Allah, membenci  karena Allah SWT.” (HR. Ahmad)

Beliau menggambarkan rasa saling mencitai dan menyayangi antar muslimin, dalam hadits lain; “Perumpamaan orang-orang beriman dalam kecintaan, kasih sayang, kelemahlembutan diantara mereka itu bagaikan satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh menderita maka seluruh badan pun ikut merasakan panas dan tidak dapat tidur.” (HR. Bukhari)

Rasulullah mengingatkan bahwa hasad, dengki dan benci adalah racun bagi persatuan jiwa, karena itu Rasulullah SAW mengharamkan racun-racun ini;

“Jangan saling membenci, saling mendengki dan jangan pula saling belakang-membelakangi, jadilah hamba Allah yang saling bersaudara. Haram bagi seorang muslim mengisolasi saudara muslimnya melebihi tiga hari.” (HR. Bukhari)

Selain itu, rasa dengki, iri maupun benci akan mendorong seseorang bertindak melampui batas, melanggar hak-hak saudaranya. Ia menjadi gampang mencemarkan kehormatan dan harga diri sesama muslim. Padahal dosa mencemarkan kehormatan muslim lebih besar dari pada menzinai ibu kandung.

“Riba ada 72 cabang. Yang paling rendah tingkatannya ialah seperti seorang laki-laki menggauli ibu kandungnya. Sedangkan riba yang paling tinggi tingkatannya adalah seorang muslim mencemarkan nama baik saudaranya.” (Shahih Jami’ Shagir, 3357)

Allah SWT  menyatukan hati umat dengan mengharamkan sikap memandang rendah dan meremehkan saudara muslim,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu (saudara muslimmu) sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan.” (Qs. Al-Hujurat: 11)

Walhasil, Islam mewajibkan persatuan umat Islam, sebab dengan persatuan inilah, jalan menuju shirotul mustaqim terlampaui dengan baik, dengan persatuanlah umat Islam mencapai kemuliaannya di hadapan umat lain.”

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 110 Rubrik Tema Utama

Penulis : Akram Syahid

Editor : Anwar