Kebo Ijo dan Naga Merah

Partai Komunis Indonesia (PKI) –Naga Merah?–
Partai Komunis Indonesia (PKI) --Naga Merah?--
Partai Komunis Indonesia (PKI) –Naga Merah?–

An-Najah.net– Kebo Ijo sedang dilanda gundah. Meski ditikam oleh Ken Arok, teman karibnya sendiri yang menipunya mentah-mentah dalam insiden keris Mpu Gandring, ternyata ia tak mati. Jasadnya yang berlumur darah diusung oleh anak buah Ken Arok kembali ke desanya yang jauh dari keramaian ibukota Tumapel.

Di kampungnya yang sunyi, luka tusuk di punggung Kebo Ijo diobati oleh Mpu Kabau dengan borehan tumbukan daun Bandotan. Supaya lekas sembuh ia juga rutin meminum air rebusan daun Binahong dan melalap daun mentahnya. Dalam waktu tak berapa lama, ia pun sembuh. Tapi seringkali luka di punggungnya terasa perih.

Sohibnya, Ken Arok, sudah berpesan wanti-wanti, “Jangan muncul di Tumapel, demi kebaikanmu dan kebaikan negeri kita, tetaplah tinggal di desa.” Menyertai pesan itu, sepundi uang emas dan sebilah patrem kecil berukir “Piagem Jayakarta” dihadiahkan Arok.

Meski patrem itu kecil dan tak layak jadi senjata, Kebo Ijo selalu menimang dan mengelusnya. Buat dia, Patrem Jayakarta adalah simbol pengakuan negara Tumapel, diwakili Ken Arok, pada keberadaan dan jasanya sebagai tumbal negara. Bukankah pengorbanan dia pada tipuan Arok membuat negara jadi aman dan stabil?

Sembari memulihkan kesehatannya Kebo Ijo pun berusaha mencari kabar tentang Tumapel, sohibnya Arok dan keris Mpu Gandring kesayangannya. Dari Mbok Tumiyah penjual inthil sekampungnya yang mangkal di alun-alun ia mendengar sepak terjang Ken Arok yang menghabisi Tunggul Ametung dengan kerisnya, menimpakan tuduhan pada diri Kebo Ijo lalu pura-pura membunuhnya.

Mbok Iyah juga mengabarkan bahwa Arok sukses mengambil kesempatan dalam kesempitan, ia mengangkat diri jadi akuwu menggantikan Ametung. Ia juga menikahi janda sang akuwu yang cantik jelita, Ken Dedes. Kebo Ijo yang polos senang mendengar kabar sukses karibnya itu.

Ia pun mematuhi pesan Ken Arok agar tetap diam di desa dan tak muncul di Tumapel. Setahun sekali, ketika Mbok Iyah mudik, ia mendengar cerita terkini tentang ibukota. Termasuk tentang ajal tragis yang menimpa Arok setelah bertahta. Ia tewas ditikam keris Mpu Gandring yang dulu menyukseskan kudetanya, dan sang penikam adalah putra Tunggul Ametung- Tohjaya.

Kebo Ijo turut bersedih, meski pernah dikhianati Arok, ia menyukai kawannya itu. Wataknya yang polos dan lugu mudah melupakan kesalahan dan memaafkannya. Namun akibatnya ia sering ditipu orang berkali-kali, beberapa kawannya dahulu mengejeknya, “Memang dasar kebo, lebih bodoh dari keledai. Padahal sebodoh-bodohnya keledai tak akan terantuk batu yang sama untuk kedua kalinya,”

Ditusuk Lagi

Meskipun bodoh, Kebo Ijo memiliki badan besar dan bertenaga kuat. Jika ia marah, tak ada yang berani menghadapi. Arok pun akan dengan mudah ia banting dan remukkan. Namun Arok yang bertubuh kecil begitu cerdik dan licik, maka Kebo Ijo yang berbadan bak raksasa pun tunduk dan takluk padanya.

Beberapa tahun setelah Kebo Ijo pulih lukanya, Arok pernah meminta bantuannya menghabisi kawanan Banteng Abang. Menurut Arok Banteng Abang berbahaya bagi negara karena memiliki tujuan mengganti simbol Garuda di istana dengan tanduk merah bersilang khas kawanan banteng.

Karena pernah satu kesatuan di pasukan pengawal Tumapel, Kebo Ijo paham siapa mereka. Banteng Abang sebenarnya loyalis Tunggul Ametung yang diktator dan suka mengejar-ngejar perempuan. Mereka tentu berbahaya bagi Arok yang meraih tahta dengan kudeta pada Ametung.

Meski tak ada urusannya dengan dia, dengan sukarela Kebo Ijo menghajar Banteng Abang dan kawanannya. Terjadilah huru-hara di pinggiran ibukota saat Kebo Ijo mengamuk dan mengejar banteng Abang hingga terbirit-birit. Agar tak dikenali, Kebo Ijo menyamar memakai topeng dan menyebut dirinya Wedhus Malari. Saat itu perih luka tusukan Arok punggungnya tiba-tiba hilang!

Lalu, seperti biasa, Arok muncul sebagai pahlawan, menusuk punggung Malari hingga lumpuh lalu menjadikannya kambing hitam. Ia ditangkap dan dijebloskan penjara sebagai perusuh. Meski diam-diam Arok melepaskannya dan memintanya menyepi lagi di desa. Tentu dengan menutup mulut atas segala rahasia mereka. Punggungnya pun perih lagi ditikam dua kali.

Lalu Arok mati akibat ulahnya sendiri. Tahta jatuh ke tangan para pewaris Tunggul Ametung lagi. Bersekutu dengan sisa kawanan Banteng Abang, Tohjaya memperkuat diri. Keris Mpu Gandring yang sakti namun terkutuk pun jatuh ke tangannya.

Singkat cerita, beberapa mantan perwira loyalis Arok mendatangi Kebo Ijo yang telah pulih dari luka dalam insiden Malari. Lagi-lagi Kebo Ijo sudah melupakan jebakan Arok dan memaafkannya. Ia pun menyambut para perwira Arok itu dengan hangat dan ramah. Dijamunya mereka dengan nasi kebuli buatan istinya.

Ancaman Naga

Sebagai juru bicara para tamu adalah Kikis Sangaji dan Kepang Jaran. Mereka membawa berita bahwa negara terancam bahaya, simbol garuda istana telah dicat merah oleh Tohjaya dan pendukungnya. Lebih parah lagi, Tohjaya mengemis dukungan dari negeri tengah badai yang dikuasai Naga Merah.

Karena sama-sama bermarga merah dengan kaum Banteng Abang, naga siap membantu Tohjaya memerahkan Tumapel. “Ini sangat berbahaya bagi kita semua Saudara Kebo Ijo,” kata Kikis lembut. “Garuda yang menaungi Tumapel akan tersingkir, kini berganti tanduk banteng, besok berganti lagi naga merah agaknya.”

Kebo Ijo termenung, ia membatin apa urusannya dengan dirinya yang kini hidup tenang di desa jauh dari hiruk pikuk politik? Kepang Jaran yang sejak dulu menjadi penghubung Arok dengan Kebo Ijo, menatap jeli keraguan kawannya. “Saudara Kebo, Naga Merah dikenal ganas dan membantai kawanan kerbau di negerinya. Tentu ia akan berlaku sama kepada keluargamu yang titisan kerbau.”

Kebo Ijo kaget, darahnya tersirap, bekas luka-luka di tubuhnya akibat tandukan Banteng Abang dahulu terasa perih lagi. Ia merasa permintaan tolong yang dibawa oleh Kikis dan Kepang adalah tugas suci mempertahankan eksistensi kaumnya. Anehnya, dua bekas tikaman Arok di punggungnya tak terasa lagi.

Padahal tanpa ia ketahui, Kikis sebenarnya orang bayaran kaum naga juga. Kepang memang kawan setia, tetapi ia lebih loyal pada Arok daripada Kebo Ijo. Akankah Kebo Ijo ditusuk punggungnya untuk ketiga kalinya?*

Ditulis oleh: Togar
Editor: Mas’ud Izzul Mujahid

*Makalah ini dinukil dari Majalah An-Najah Edisi 128 -Juli 2016-, (rubrik: Sekitar Kita)
*(Perumpamaan dalam kisah di atas, bisa diterapkan dalam isu PKI yang lagi hot. Dimana umat Islam sering dikhianati, tetapi mudah lupa pengkhianatan tersebut. Di saat yang sama, para intelijen dan para pemilik kepentingan politik selalu berkhianat, namun bibirnya manis dalam merayu umat Islam. Umat Islam selalu menjadi tumbal kepentingan, karena kurang jeli melihat konspirasi. Dakwah tidak cukup husnudzon saja. Harus ada kewaspadaan. Namun ini sudut lain dari sebuah analisa. Mewaspadai komunis itu wajib, tetapi waspada jangan sampai terjebak dalam permainan para pemilik kepentingan, lebih wajib lagi.)