Kegigihan Ibadah Para Shahabat di Ramadhan

Kegigihan ibadah di ramadhan

An-Najah.net – Abdullah bin Amru bin Ash termasuk shahabat yang paling rajin beribadah. Setelah tahu hadits tentang keutamaan berdoa pada saat berbuka puasa, ia tak pernah lupa berdoa dan beristighfar pada waktu tersebut. Doa yang beliau lantunkan yaitu:

اَللَّهُمَّ إِنِّـي أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ أَنْ تَغْفِرَ لِيْ

“Ya Allah, sungguh aku memohon dengan rahmatmu yang meliputi segala sesuatu agar engkau mengampuni aku.” (HR. Ibnu Majah)

Kesempatan mendulang pahala lainnya ialah memberi ifthar untuk orang berpuasa. Kesempatan ini memang biasa dilakukan orang setiap bulan Ramadhan.  Namun, apa yang dipraktikkan oleh Saad bin Ubadah sungguh luar biasa, beliau mengundang Rasulullah SAW berbuka di rumahnya agar mendapat pahala puasanya.

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

أَنَّ النَبِيَّ صلى الله عليه وسلم جَاءَ إِلَى سَعْدِ بنِ عُبَادَةَ، فَجَاءَ بِخُبْزٍ وَزَيْتٍ فَأَكَلَ، ثُمَّ قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: ” أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ، وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الأَبْرَارُ، وَنَزَلَتْ عَلَيْكُمُ الْمَلائِكَةُ

Bahwa Nabi SAW berkunjung ke rumah Sa’d bin Ubadah, lalu disuguhkan kepada beliau roti dan minyak zaitun, beliaupun memakannya. Kemudian Nabi SAW mendoakannya:  Semoga orang-orang yang puasa berbuka di tempatmu, orang-orang baik yang makan hidanganmu dan para malaikat bershalawat untukmu.” (HR. Abu Daud 3854, Ibnu Majah 1747).

Doa yang diucapkan Rasulullah SAW kepadanya menjadi adab bagi tamu yang dijamu berbuka puasa. Memintakan harapan agar tuan rumah agar beroleh berkah dan rahmat dari Allah.

Cara Saad bin Ubadah memanfaatkan keutamaan ini sangat cerdas dilihat dari dua hal:

Pertama, Memilih Rasulullah SAW sebagai tamunya. Dengan berpedoman pada hadits bahwa orang yang memberi buka bagi muslim yang berpuasa akan mendapat pahala sepertinya. Tanpa ada yang terkurangi dari pahala yang bersangkutan. Dengan demikian Saad telah mendapatkan pahala puasa Rasulullah SAW yang paling sempurna dan paling utuh pahalanya. Kita pun bisa meneladani sahabat tersebut dengan melakukan cara yang sama, memilih orang-orang shalih terbaik sebagai tamu buka puasa.

Kedua, mendapat berkah kemustajaban doa Nabi. Doa yang dibacakan untuk Saad itu diucapkan di waktu mustajab oleh orang yang paling mustajab doanya.

Tak hanya berbuka, para sahabat juga bersemangat untuk sahur bersama Nabi. Dalam sebuah hadits Zaid bin Tsabit menceritakan sahurnya yang berkesan. Kejadian itu bukan kebetulan, karena Zaid tidak tidak tinggal bersama nabi. Dia sengaja bangun lebih awal lalu berkunjung ke rumah Rasulullah SAW untuk mempelajari sunnah-sunnah dalam sahur. Dari hal itu Zaid tahu bahwa mengakhirkan sahur termasuk sunnah, dan jarak antara sahur nabi dengan adzan subuh sepanjang bacaan 50 ayat. Yaitu ayat-ayat sedang, bukan ayat yang panjang atau pendek.

عن زيد ثابت – رضي الله عنه – قال: تَسَحَّرْناَ مَعَ النَّـبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ، قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَ الأَذَانِ وَالسَّحُوْرِ، قَالَ قَدْرَ خَمْسِيْنَ آيَةً.

Dari Zaid bin Tsabit berkata, “Kami sahur bersama Nabi SAW, kemudian mendirikan shalat. Sahabat lain bertanya, berapa jarak antara adzan dan sahur. Zaid menjawab, selama bacaan lima puluh ayat.” (HR. Bukhari)

Ukuran waktu yang disebutkan Zaid bin Tsabit di atas adalah taksiran. Seperti kebiasaan orang Arab menyebut jarak waktu dengan aktivitas rutin seperti durasi memerah susu kambing, waktu yang dibutuhkan untuk menyembelih unta dan lain sebagainya. Uniknya, zaid mengambil aktivitas ibadah sebagai patokannya. Khususnya membaca Al-Qur’an, ibadah yang sangat dianjurkan dalam waktu sahar. Menurut Ibnu Abi Jamrah, hal ini mengisyaratkan bahwa para sahabat sangat tekun menjaga ibadah. Ibadah adalah nafas mereka. Mereka tak bisa hidup tanpa beribadah, seperti ikan yang tak bisa hidup tanpa air.

Lain lagi  yang dilakukan Abu Hurairah dalam memaksimalkan malam-malam di bulan Ramadhan. Keluarga Abu Hurairah menghidupkan rumahnya dengan shalat malam. Namun, shalat tarawih tersebut tidak dikerjakan secara berjamaah, melainkan bergiliran. Abu Hurairah, istri dan pembantunya shalat bergantian. Setelah salah satu selesai shalat tarawih, harus membangunkan yang lain dan seterusnya. Dengan cara itu aktivitas ibadah tak pernah berhenti di rumah Abu Hurairah.

Ibadah lain yang sangat dijaga sahabat yaitu tilawah Al-Qur’an. Fathimah, putri Rasulullah tahu bahwa jibril setiap Ramadhan mengecek tilawah Al-Quran beliau. Jibril menemui nabi di malam hari untuk menunjukkan keutamaan membaa Al-Qur’an di waktu tersebut. Waktu malam adalah saat di mana kesibukan duniawi selesai. Pikiran dan jiwa dapat fokus untuk beribadah. Hati dan lisan dapat konsentrasi mendatabburi ayat-ayat ilahi.

Allah berfirman:

إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْءاً وَأَقْوَمُ قِيلاً

“Sungguh, bangun malam itu lebih kuat (mengisi jiwa); dan (bacaan di waktu itu) lebih berkesan.” (QS. Al-Muzammil: 6)

Para sahabat tahu bahwa bulan Ramadhan tak bisa dipisahkan dari tilawah Al-Qur’an. Karena Ramadhan adalah syahrul quran. Seperti Utsman bin Affan mengkhatamkan Al-Qur’an satu kali setiap 24 jam. Itu artinya, dalam satu bulan beliau sanggup khatam 29 atau 30 kali.

Sebagian shahabat ada yang memilih khatam seminggu sekali. Seperti Abu Mujliz, beliau  mengimami suatu kampung di bulan Ramadhan dan khatam tiap 7 hari sekali. Meski bisa khatam berkali-kali, bukan berarti tidak bisa tadabbur karena mengejar jumlah khatam. Imam Baihaqi meriwayatkan kisah Abu Hurairah tentang Ahlu Suffah yang menyimak surat An-Najam. Ketika sampai pada 59-60. Yang berbunyi:

أَفَمِنْ هَذَا الْحَدِيثِ تَعْجَبُونَ وَتَضْحَكُونَ وَلاَ تَبْكُونَ

Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? dan kamu tertawakan dan tidak menangis. (QS. An-Najm: 59-60)

Para ahlu suffah menangis sejadi-jadinya. Bulir-bulir air mata mengalir deras membentuk garis di pipi. Melihat kesedihan mereka Rasulullah SAW iku larut dalam tangisan. Melihat Nabi menangis, para sahabatnya semakin keras menangis. Beliau lalu bersabda:

لاَ يَلِجُ النَّارَ رَجُلٌ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللهِ حَتَّى يَعُوْدَ اللَبَنُ فِي الضَّرْعِ

“Tidak akan masuk neraka, seseorang yang menangis karena takut kepada Allah. Hingga air susu bisa kembali te tempatnya.” (HR. Tirmidzi)

Satu hal penting ketika berpuasa ialah meninggalkan dosa-dosa kecil yang bisa merusak pahala puasa. Karenanya para sahabat banyak menghabiskan waktu di masjid. “Kami membersihkan puasa kami.” Kata mereka. Berada di masjid membuat mereka menghindari hal-hal yang sering merusak bisa menggugurkan atau mengurangi pahala puasa. Terutama dari dosa lisan, semisal ghibah, mencela, berkata jorok dan lain-lainnya.

Hal ini akan terlihat kontras jika dibandingkan dengan kondisi yang terjadi hari ini. Dimana waktu shaum yang kosong justru diisi dengan hal-hal yang tidak bermanfaat dan terlarang. Hanya dengan dalih menunggu waktu buka. Tanpa disadari cara menunggu waktu buka tersebut, justru merusak pahala puasa. Sehingga yang tersisa Cuma lapar dan dahaga.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 104 Rubrik Tema Utama

Editor : Anwar