Serangan As dan Kehormatan Darah Kaum Muslimin

Korban Serangan As di Afghanistan
Korban Serangan As di Afghanistan

An-Najah.net  – Rasulullah Saw bersabda,  “Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim.” (HR. An-Nasa’i, dishahihkan oleh Syaikh Albani)

Serangan As yang menghantam masjid tempat berkumpulnya sekitar 1.000 warga di Kunduz. Para saksi melaporkan sejumlah besar warga sipil tewas di wilayah Afghanistan utara tersebut pada Senin (02/04/2018). Setidaknya 150 orang meninggal dalam serangan ke masjid yang berdekatan dengan madrasah agama tersebut.

Serangan mematikan pada warga sipil itu terjadi saat upacara besar untuk mengakui lulusan sekolah dan untuk mengangkat para mullah baru untuk sekolah agama. Acara wisuda tersebut dihadiri sekitar 1.000 orang dan ada spekulasi bahwa beberapa tokoh lokal Taliban hadir.

Gubernur distrik, Nasruddin Saadi, mengatakan bahwa pihaknya menuduh ada militan bersenjata yang hadir di acara agama tersebut. Klaim tersebut digunakan sebagai alasan bagi pasukan keamanan untuk menyerang. Padahal acara tersebut dihadiri oleh ribuan warga sipil.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa serangan telah menghantam warga sipil bahkan sebagian dari warga yang terubunuh adalah anak-anak.

“Ada anak-anak seusia 11 atau 12 tahun dalam upacara yang akan memberikan penghargaan dan hadiah untuk wisuda pelajaran agama mereka,” kata Mohammed Abdul Haq, yang menyaksikan serangan itu kepada Al Jazeera.

Para ibu menangis dan menangis di luar rumah sakit karena kematian anak-anak mereka dan semua orang menangis bersama mereka,” ujarnya, yang dilansir Rabu (04/04/2018).

Taliban menegaskan, korban terdiri dari pelajar, ulama dan penduduk desa. Serangan terjadi tiba-tiba, pesawat AS membom sebuah madrasah dan rumah-rumah warga sipil di distrik Dasht-e-Archi provinsi Kunduz utara.

“Membombardir warga lokal kemudian menyuguhkan berita bahwa semua korban adalah mujahidin (Taliban) adalah kebiasaan Amerika dan sekutunya. Mereka yang bertanggung jawab membunuh warga sipil dan menghina agama akan dibawa ke pengadilan,” ungkap Zabihullah Mujahid.

Kemuliaan Agama Islam

Dalam Islam, hukum asal darah seseorang adalah terlindungi dan haram untuk ditumpahkan. Tidak orang kafir tidak juga orang Islam, darahnya terlindungi dan haram untuk ditumpahkan kecuali dengan alasan yang dibenarkan oleh syariat. Karenanya, segala perbuatan yang berpotensi mengarah pada tertumpahkannya darah secara zalim juga telah Islam tegaskan pelarangannya.

Jika halnya darah orang kafir saja terlindungi, maka tentu darah seorang muslim jauh lebih layak dan lebih berharga untuk dijaga. Jangankan menumpahkan darah dan menghilangkan nyawa seorang muslim, sekedar menciderai kehormatannya saja sudah sangat dilarang oleh syariat Islam. Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam pernah bersabda, “Mencaci-maki seorang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekafiran.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika Islam sangat menjaga dan menghargai nyawa seorang muslim, maka fenomena yang kerap kali kita jumpai dari realita yang terjadi di sekitar kita dan dunia Islam dewasa ini justru sebaliknya. Begitu mudahnya kita mendapati nyawa umat Islam melayang tanpa kejelasan yang pasti.

Mereka menganggap sangat remeh dan sepele perkara darah, harta dan kehormatan ini. Tanpa ada rasa takut sedikitpun kepada Allah Ta’ala dan tanpa merasa diawasi oleh Allah Ta’ala. Tanpa merasa bahwa ia akan dikembalikan dan akan menghadap Allah Ta’ala.

وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنْقَلَبٍ يَنْقَلِبُونَ

Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali” (QS. Asy Syu’ara: 227).

Mungkin alasannya ada, tapi bisa kita pastikan bahwa kebanyakan alasan yang ada itu bukanlah alasan yang dibenarkan oleh syariat. Sehingga rasa-rasanya nyawa orang Islam kini tak lebih berharga dibandingkan nyawa orang kafir, yang notabene mereka itu jauh lebih hina dan sama sekali tidak memiliki kemuliaan di sisi Allah Ta’ala.

Penulis : Ibnu Jihad

Editor : Abu Mazaya