Keimanan Seorang Munafik

keimanan seorang munafik
keimanan seorang munafik

An-Najah.net – Keimanan seorang munafik hanya sebatas ucapan lisan tanpa ada keyakinan hati. Nifak merupakan penyakit akut yang tersembunyi, di mana seorang telah mengidapnya namun ia tidak merasakannya.

Baca juga: Munafik, Pemuja Hukum Thoghut

Karena nifak adalah penyakit tersembunyi bagi manusia, bahkan ia tidak diketahui oleh orang yang menyandangnya sendiri. Sehingga ia mengira bahwa dirinya pembawa kebaikan, padahal sebenarnya perusak yang mematikan.

Allah Ta’ ala merobek tabir kaum munafik dan menyingkap rahasia mereka di dalam Al Qur’an. Menjelaskan urusan dan keadaan mereka kepada hamba hamba-Nya, agar mereka waspada dan berhati hati terhadap kemunafikannya.

Allah Ta’ala menyebutkan tiga golongan manusia di awal surat Al Baqoroh, yaitu; golongan orang mukmin, golongan orang kafir, dan golongan orang munafik. Empat ayat mengenai golongan orang mukmin, dua ayat mengenai golongan orang kafir, dan tiga belas ayat mengenai golongan orang munafik.

Disebutkan dalam banyak ayat tentang golongan orang munafiq lantaran banyaknya jumlah mereka, luasnya kerusakan yang ditimbulkan mereka, dan fitnah mereka terhadap kaum muslimin dan din Islam.

Baca juga: Waspadai, Muslim Munafik

Hakikat Keimana Para Munafikin

Keimanan seorang munafik hanya ucapan lisan tanpa ada keyakinan hati. Hanya amalan anggota badan tanpa amalan hati. Keimanannya menyelisihi arti iman menurut ahlus sunah wal jama’ah, dimana mereka menetapkan bahwa iman adalah keyakinan dengan perkataan dan perbuatan, yaitu perkataan hati, perkataan lisan, amalan hati dan amalan anggota tubuh.

Sebagaimana Syaikhul Islam lbnu Taimiyah berkata, “Apabila ada ‘ulama yang mengatakan iman adalah ucapan dan amalan, mereka maksudkan dalam ucapan tersebut ucapan hati dan Iisan. lnilah ucapan yang mereka maksudkan.

Jika sebagian salaf menyatakan bahwa iman adalah ucapan dan perbuatan, mereka maksudkan ucapan hati dan lisan, dan perbuatan hati dan anggota tubuh. Ucapan hanya dengan lisan tanpa keyakinan hati, merupakan ciri ucapan orang munafiq, sebagaimana flrman Allah Ta’ala :

يقُولُونَ بِأَلْسِنَتِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ

“….mereka mengucapkan dengan Iidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya.” (QS. AI Fath : 11)

Begitupula perbuatan anggota tubuh tanpa perbuatan hati termasuk dari perbuatan orang munafik. Maka iman menurut salaf adalah ucapan dan amalan secara batin dan dhohir.

Baca juga: Beramal Mengikuti Sunnah

Imam Al-Lalika’i berkata: Murji’ah Karomiyah (Pengikut Muhamad bin Karom as-Sijsatami, wafat 255 M) menetapkan bahwa iman adalah hanya ucapan lisan. Adapun orang munafiq mereka adalah orang kaflr secara ijma’ ulama, meskipun mereka mengucapkan kedua kalimat syahadat, sebagaimana firman-Nya:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ

Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.”( QS. Al-Baqoroh : 8)

Orang munafik menetapkan iman dengan ucapan Iisan hanya secara dhohir saja, tidak membekas keimanannya karena tidak ada pembenaran dalam hati. (Abu Qosim ar-Rozi al-Lalik’i, Syarh Usulul ’ltiqod Ahlus Sunah Wal jama’ah jilid 4, hal. 849). Wallahu Ta’ala ‘Alam

Sumber            : Majalah An-Najah edisi 15, hal. 4,5

Penulis             : Abdullah

Editor               : Ibnu Alatas