Kekejaman Rezim Suriah Memaksa Seorang Ibu Menjadi Sniper

sniper-perempuan[an-najah.net] – Perempuan ini tenar di seantero Aleppo, Suriah. Rekan seperjuangannya menjulukinya “Guevara” , namun kebanyakan penduduk kota mengenalnya dengan sebutan yang lebih sederhana: “sniper wanita”. Nama aslinya jarang disebut.

Dengan alis tebal yang rapi, sepatu boot kulit dengan hak tinggi, jilbab, dan gelang emas, ia bersembunyi di gedung yang porak poranda akibat perang untuk menanti kedatangan musuh, pasukan pemerintah Suriah. Tangannya siap menarik pelatuk senapan Belgian FN .

Meski perempuan tak disarankan berperang, apalagi di negara muslim, Guevara punya peran penting dalam kelompok tempurnya yang terdiri dari 30 pria, dewasa dan remaja.

Dan ia merasa bahagia bisa punya peran luar biasa lagi berbahaya itu. “Aku suka bertempur. Saat aku melihat teman-temanku di katiba (divisi perang) tewas terbunuh, aku merasa harus memegang senjata dan balas dendam,” kata dia kepada Telegraph, seperti dilansir Daily Mail (5/1/2013).

Balas Dendam

Awalnya Guevara hidup normal, sebagai ibu dan bekerja sebagai guru bahasa Inggris. Namun, perang merenggut orang-orang yang dikasihinya.

Kematian putrinya yang berusia 10 tahun dan putranya yang berusia 7 tahun akibat serangan udara yang menghancurkan rumah mereka, memaksanya terjun ke medan perang.

Kini, ia bahkan merasa harus membunuh satu tentara pemerintah untuk membayar nyawa satu pejuang pembebasan yang gugur oleh rezim.

Pekerjaannya sebagai sniper membutuhkan kesabaran, kecepatan, dan kecerdasan. Tak jarang ia harus duduk berjam-jam, menunggu penduduk sipil menyingkir dari jalanan.

Dari persembunyiannya, ia kerap melihat tentara dan warga sipil berbaur dalam kehidupan sehari-hari. Namun, ia hanya melepas tembakan ketika hanya prajurit berkeliaran di jalanan, saat malam menjelang.

Selama menjalani profesinya itu, ia mengaku tak yakin apakah tembakannya membunuh musuh. Tapi Guevara yakin benar. ia telah menewaskan setidaknya empat atau lima tentara musuh.

Meski warga negara Suriah, Guevara asli Palestina. Ia kali pertama memegang senjata di sebuah kamp militer di Lebanon yang dioperasikan militan Palestina, Hamas.

Bahkan sebelum pecahnya revolusi melawan rezim Bashar al-Assad pada 2011 lalu, Guevara mengaku mendukung oposisi, dengan membuat surat kabar bawah tanah, saat ia belajar di Universitas Aleppo.

Ia bahkan bergabung dengan partai bawah tanah beranggotakan orang-orang keturunan Palestina yang bertujuan menggulingkan pemerintahan.

Menangis Tengah Malam

Dan meski sikapnya sekeras batu, Guevara mengaku masih sering terbangun tengah malam, menangisi kematian anak-anaknya atau mengenang kengerian yang ia saksikan.

Sudah lebih dari 100 mayat yang ia saksikan dalam beberapa bulan terakhir. Bahkan beberapa kali nyawanya nyaris melayang.

Salah satunya, ketika sebuah bom meledak di dekat mobil yang ia tumpangi. “Ya Allah, kematian teramat dekat..” katanya. [hnf/lip6]