Kelahiran Cut Nyak Din, Mujahidah dari Aceh

Jihad Aceh
Jihad Aceh
Jihad Aceh

Sebagai perempuan Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata untuk orang yang telah syahid” (www.wikipedia.org)

 Itulah kata-kata yang diucapkan oleh seorang perempuan aceh, Cut Nyak Din. sebuah ungkapan yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam dari seorang wanita yang baru ditinggal suaminya. Kalimat tersbut terlontar taktala melihat anaknya Cut Gambang menangis atas kematian ayahnya, Teuku Umar. Teuku Umar meninggal akibat tertembak peluru musuh dimedan jihad fisabilillah. Sehingga menemui kesyahidannya.

Siapa yang tidak kenal dengan Cut Nyak Din. Wanita tangguh bermental baja. Seorang ibu dan istri seorang mujahid pemberani lagi gagah perkasa. Semangatnya tidak mengendur meski suaminya gugur di dimedan jihad.

Cut Nyak Din dikenal sebagai seorang srikandi, pahlawan wanita dari Nangroe Aceh Darussalam. Dengan harta, jiwa, dan raganya, Ia berjuang melawan penjajahan kafir Belanda. Hingga beliau menjemput ajal di tanah pengasingannya, Sumedang.

Ia bersama suaminya Teuku Umar terpanggil untuk mengangkat senjata, melawan kezaliman, penindasan, bahkan pemurtadan yang dilakukan oleh penjajah kafir Belanda di tanah kelahirannya. Sebuah negeri yang disebut-sebut  sebagai Serambi Makkah.

Riwayat Hidup Sang Srikandi

Seorang tokoh besar bukanlah manusia yang terlahir dengan membawa nama besar. Seperti anak ajaib yang diturunkan dari langit. Tapi ia adalah hasil didikan yang terus menerus hingga ia mampu melakukan sesuatu yang besar. Begitu pun dengan Cut Nyak Din, kendati ia berasal dari keluarga bangsawan yang sangat taat beragama. Ia tetap melewati proses pendidikan yang panjang. Hingga akhirnya ia menjadi srikandi yang shalihah dan mushlihah (senantiasa mengadakan perbaikan).

Cut Nyak Din lahir pada tahun 1848. Ayahnya bernama Teuku Nanta Seutai. Ayahnya merupakan keturunan dari Panglima Nanta. Sedangkan ibunya adalah putri dari Uleebalang Bangsawan Lampagar.

Sebagaimana lazimnya putri-putri bangsawan Aceh, sejak kecil ia memperoleh pendidikan. Membentuknya menjadi sosok wanita shalihah yang taat kepada Allah dan suami.

Ayah dan ibunya langsung menjadi pendidik bagi dirinya. Bisa dikatakan kedua orang tuanya adalah guru ngaji sekaligus guru kehidupan di dunia. Peran ibu itu sangat besar sebagai pendidik pertama dan paling utama bagi dirinya sebelum ia diserahkan kepada guru-guru lainnya.

Selain didikik sendiri, orang tua Cut Nyak Din mempercayakan anaknya kepada para guru-guru lainnya demi melengkapi pemahaman anaknya. Ia memperoleh ilmu pengetahuan tentang rumah tangga, baik memasak maupun cara menghadapi atau melayani suami. Selain itu hal-hal yang menyangkut kehidupan sehari-hari didapatkan dari ibunda dan kerabatnya.

Cut Nyak Din dibesarkan dalam suasana perjuangan yang amat dahsyat, suasana perang Aceh. Berkat pengaruh didikan agama yang amat kuat, didukung lingkungannya baik. Menjadikan Cut Nyak Din bersifat tabah, teguh pendirian dan tawakal.

Betapapun panjang dan lelahnya jalannya perjuangan, ia tetap tegar untuk senantasa menapaki jalan jihad di jalan Allah. Semua pengorbanan yang ia lakukan semata-mata dilandasi kayakinan membela agama Islam. satu prinsip beliau, hidup mulia atau mati syahid.

Hari demi hari dilalui oleh Cut Nyak Din dengan penuh suka cita. Hingga ia tumbuh dan berkembang menjadi seorang wani tashalihah, cantik lagi cerdas. Ibarat ‘Bunga Desa’ Banyak laki-laki yang berusaha meminangnya. Karena kematangan dan keluhuran budi pekertinya.

Sebagai seorang ayah yang bijak, Teuku Nanta segera mencarikan seorang laki-laki yang akan menjadi Nahkoda bagi bahtera rumah tangga dimana anaknya berada. sebuah bahtera yang akan mengarungi samudra kehidupan.

Teuku Nanta sadar betul bahwa menikahkan anak perempuan merupakan kewajiban orang tua. Pada usia 12 tahun, Cut Nyak Din dinikahkan dengan seorang pemuda bangsawan bernama Teuku Cek Ibrahim Lamnga.

Perayaan pernikahan dimeriahkan dengan kehadiran penyair terkenal Abdul Karim. Ia membawakan syair-syair bernafaskan agama dan mengagungkan kisah-kisahheroik (semangat perjuangan). Syair-syair itu mampu menggugah semangat orang yang mendengarkannya, khususnya dalam rangka melawan orang kafir. (Snouck Hougronje, 1985 : 107).

Setelah dianggap mampu mengurus rumah tangga sendiri, pasangan itu pindah dari rumah orang tuannya. Selanjutnya kehidupan rumah tangganya berjalan baik dan harmonis. Apalagi dengan hadirnya sang buah hati, seorang anak laki-laki.

Istri Ideologis

Awal mula kepahlawanan Cut Nyak Din ketika menghadapi penjajah Belanda. Perang Aceh meletus tahun 1873.

Sebagai seorang istri, Cut Nyak Din benar-benar melaksanakan fungsinya sebagai istri ideologis. Meskipun ia jarang berkumpul dengan suaminya. Cut Nyak Din mengikhlaskan keterlibatan suaminya dalam peperangan, bahkan menjadi pendorong dan pembakar semangat juang suaminya.

Ketika menimang sang buah hati ia menyanyikan syair-syair yang membangkitkan semagat perjuangan. Ketika sesekali suaminya pulang kerumah, yang dibicarakan dan ditanyakan Cut Nyak Din tidak lain hanya hal-hal yang berkaitan dengan perlawanan terhadap kaum kafir Belanda.

Bertahun-tahun peperangan Aceh kian berkecamuk. Karena keunggulan dalam hal persenjataan dan adanya penghianatan, satu per satu benteng pertahanan mujahidin Aceh berjatuhan. Karena terdesak Cut Nyak Din beserta keluarganya terpaksa mengungsi.

Pada sebuah pertempuran di Sela Glee Tarun, Teuku Ibrahim Lamnga gugur. Meski kematian suaminya menimbulkan kesedihan yang dalam bagi Cut Nyak Din, tapi tidak membuatnya murung dan mengurung diri. Sebaliknya semangat juangnya kian berkobar.

Sebagai seorang janda yang masih muda dengan seorang anak, ia tetap ikut bergerilya melawan penjajah kafir Belanda. Bahkan menurut orang yang dekat dengannya, Cut Nyak Din pernah bersumpah bahawa ia tidak akan menikah lagi kecuali dengan seorang lelaki yang turut membantunya melawan Belanda.

Akhirnya ia memutuskan untuk menikah dengan Teuku Umar, pasca kematian suami yang pertama. Teuku Umar benar-benar membuktikan kecintaannya kepada jihad untuk melawan Belanda. Sehingga suami Cut Nyak din yang kedua juga gugur  menjadi syuhada di medan perjuangan.

Banyak hal yang bisa menjadi inspirasi dari kisah perjalan hidup Cut Nyak Din. Salah satunya adalah seorang istri tidak hanya menjadi istri biologis semata, tapi juga menjadi istri idiologis. Hendaklah seorang mampu memberikan semangat bagi suaminya untuk tetap teguh di jalan iqomatuddin.

Dikutib : Majalah An Najah edisi 126 rubrik jelajah

editor : Anwar