Kelompok Jihad Ansharuddin Jelaskan Fakta Jihad di Mali

Kelompok Jihad Ansharuddin Mali
Kelompok Jihad Ansharuddin Mali

(a-najah.net) – Ansharuddin, kelompok jihad di Mali, Selasa kemarin (26/3) merilis pernyataan tentang apa yang sebenarnya terjadi di Mali. Rilis ini merupakan yang terbaru setelah dua bulan disebabkan kesibukan perang.

Berikut ringkasan dari 13 poin pernyataan mereka:

1.Perang di Mali adalah Perang Salib, bukan seperti digambarkan oleh yang menyalakan api perang di sana yang mengklaim bahwa tujuannya adalah perang melawan terorisme, perlindungan hak asasi manusia, dan menghentikan bahaya yang mengancam keamanan dan stabilitas kawasan, dan di luar Eropa. Kenyataan sebenarnya bahwa kampanye ini memiliki dua tujuan utama:

Pertama, mencegah pembentukan setiap entitas yang berusaha untuk membebaskan bangsa dari perbudakan sekuler rezim tiran, dan seruan untuk hidup bebas di bawah naungan aturan hukum Islam.

Kedua: upaya Prancis untuk melanggengkan para pengkhianat dan tirani yang bekerja untuk mereka.

2.Perang Salib di Mali menjelaskan sebesar apa kebencian dan ketidaksukaan Prancis terhadap Islam dan Muslim. Hal ini tampak jelas dalam penargetan terhadap jamaah shalat di masjid. Bangunan masjid dihancurkan saat mereka sedang tenang menunaikan shalat.

3.Permainan media Prancis yang menjijikkan untuk menipu mata kaum muslimin dunia, di mana mereka menggambarkan Muslim Mali suka mabuk, merokok, dan menyanyi. Media juga menggambarkan kaum muslimin Mali meminta Prancis memasuki Mali. Ini hanyalah tipuan untuk membenarkan niat busuk Prancis.

4.Umat Islam bertanggung jawab untuk memahamkan kepada bangsa Mali, siapakah sejatinya anak-anak bangsa Mali dan siapakah pemimpin mereka yang ikhlas, yang berupaya mengembalikan kehormatan dan kemuliaan bangsa Mali.

5.Kami memberitakan kepada saudara-saudara kami di Mali bahwa putra-putra kalian yang bergabung dengan Ansharuddin dalam keadaan baik. Kepemimpinan mereka dipegang oleh Syaikh Abu Fadl Iyad Ag Ghali, dan ia pun dalam keadaan sehat. Dialah yang memimpin perjuangan melawan tentara Salib Prancis.

6.Media Prancis telah mengklaim angka fiktif terkait jumlah korban terbunuh dari pihak Mujahidin. Itu mereka lakukan untuk mendongkrak semangat tentara mereka yang lemah.

7.Kami mengucapkan selamat kepada saudara-saudara kami yang ditempatkan di Quaoa dan Timbuktu, serta lainnya di setiap medan pertempuran. Mereka telah menunjukkan pengorbanan dan perlawanan terbaik menghadapi Tentara Salib.

8.Kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada umat Islam, yang ikut mendukung perlawanan terhadap agresi Prancis di tanah kami. Kami mengapresiasi kesadaran kalian tentang hakikat konflik ini. Kami juga berterima kasih kepada ulama dan pemimpin yang telah mengungkap kebusukan politik Prancis.

9.Kami menyatakan kebohongan media yang memberitakan bahwa kami melakukan pembakaran naskah kuno di Pusat Ahmed Baba di Timbuktu.

10.Kami tidak akan pernah lalai dari setia kejahatan dan pelanggaran terhadap saudara-saudara kami di Mali yang didalangi oleh Prancis.

11.Kami memohon kepada ahli ilmu dan para pemikir yang berpengaruh untuk tidak berpangku tangan hanya karena hasutan dan tipuan. Sejatinya, Prancis ingin membenamkan kami dalam kebinasaan dan menanam kebencian dan permusuhan di antara kami, serta memicu perang saudara.

12.Kami berpesan kepada warga Mali di dalam maupun di luar negeri untuk mendukung saudara-saudara mereka, dan menunaikan kewajiban yang telah diturunkan oleh Allah bagi orang-orang Islam, yaitu untuk berjihad melawan agresor yang menargetkan agama, tanah air, dan kehormatan. Terutama karena lawan kali ini adalah tentara salib.

13.Kami menyampaikan pesan kepada setiap individu dan kelompok yang berbeda dengan kami dan tidak setuju dengan visi kami, kami menyampaikan bahwa perang kami melawan antek Prancis adalah jihad yang sah, sesuai syariat. Dalil-dalil syar’i menunjukkan kebenarannya dan disepakati oleh ulama umat ini. (agus/AN)