Kemenangan Hanya Untuk Yang Terbaik

Ilustrasi, Konflik Suriah
Ilustrasi, Konflik Suriah
Ilustrasi, Konflik Suriah

An-Najah.net – Saat konflik mulai pecah di Suriah, banyak aktifis Islam tertegun, setengah tak percaya sekaligus cemas. Untuk sekian lama mereka tak bisa membayangkan bagaimana cara membuka front di tanah Syam. Rupanya bagi Allah itu amat mudah.

Syam adalah tanah nubuat kemenangan akhir zaman, bukan di Afghan atau Iraq. Cepat atau lambat ladang jihad Syam harus dibuka, tapi soal kapan dan bagaimana caranya jadi misteri. Jika kemerdekaan Islam indikatornya adalah munculnya Imam Mahdi dan turunnya Nabi Isa, maka Syam dengan Damaskus sebagai ibu kota tak bisa dikesampingkan. Artinya, terbukanya ladang jihad Syam akan menjadi pra-kondisi untuk kemerdekaan Islam dari penjajah kafir sesuai nubuwat tersebut. Titik ini melahirkan kegembiraan.

Tapi mereka juga menyimpan kecemasan, karena secara kalkulasi manusiawi mujahidin belum terlalu siap untuk menyambutnya, dan bakal banyaknya jatuh korban dari umat Islam sipil, non kombatan. Namun kenyataan tak bisa ditolak, siap-tidak siap mesti dihadapi dengan optimis dan penuh keyakinan.

Seperti Kemenangan akan Mudah, Ternyata…

Tanpa dikomando, mujahidin dari seluruh penjuru berbondong masuk Suriah. Berita-berita kemenangan di berbagai front berseliweran di media massa dan media sosial. Rasanya kemenangan begitu dekat, kota Damaskus seperti dalam nubuwat akhir zaman akan segera ditaklukkan.

Tapi tunggu dulu. Simpan optimisme Anda untuk sementara waktu. Mari melihat realita lapangan. Jihad Suriah ternyata sangat rumit. Secara eksternal, musuh-musuh jihad demikian luas aliansinya dan teramat lengkap. Yahudi (Israel), Nasrani (AS dan Eropa), Komunis (Rusia dan Cina), Syiah (Iran dan Lebanon) dan Arab hedonis (negara-negara Arab pro status-quo) berkoalisi untuk meredam kekuatan mujahidin.

Belum pernah fase jihad sebelumnya menghadapi aliansi musuh yang demikian luas dan lengkap. Ditambah lagi kemampuan persenjataan mujahidin sangat minim. Tapi ini adalah sunnatullah yang selalu berulang: mujahidin kalah jumlah dan persenjataan. Jika ini dipahami sebagai kenaikan tingkat kesulitan dalam suatu ujian, munculnya aliansi musuh yang demikian masif bisa dipandang sebagai ‘kenaikan kelas’ bagi perjalanan jihad.

Tapi yang membuat kita sedih bukan pada seberapa kuat dan besar musuh. Kita sedih lantaran secara internal mujahidin juga menyimpan banyak problem, silang sengkarut bak benang kusut, bahkan lebih rumit mengurainya daripada mengahadapi musuh itu sendiri.

Jika dahulu dalam jihad Afghan konflik antar faksi mujahidin baru pecah pasca hengkangnya Uni Sovyet dan kemenangan sudah dalam genggaman, tapi kini konflik itu sudah lebih dulu pecah ketika musuh masih sangat kuat. Bila ini juga dianggap sebagai kenaikan tingkat kesulitan dalam suatu ujian, perjalanan jihad juga bisa disebut ‘naik kelas’. Namun naik kelas yang menyedihkan.

Kita yang dengan khusyu menjadi pemirsa atas hiruk pikuk konflik antar faksi, jadi ikut bingung. Betapa tidak, penyebab konfliknya simpang siur, saling adu klaim, jual beli tuduhan dan hujatan, terutama antara ISIS dalam satu kubu melawan Jabhah Nusrah, Jabhah Islamiyah, Ahrar Syam dan sebagainya pada kubu lain. Bahkan kabarnya hingga saling serang menggunakan senjata.

Salah satu temuan di balik konflik ini, menurut beberapa tokoh jihad modern, adalah merebaknya pemikiran kopar-kapir (takfiri) di kubu ISIS, bahkan sudah lebih mirip dengan perilaku Khawarij. Ciri khas pemikiran Khawarij, mudah membuat vonis dengan gaya simplifikasi terhadap sesama muslim, baik vonis sebagai kafir, antek thoghut, munafiq dan sejenisnya. Dan mungkin saja pemikiran seperti ini juga muncul di kubu lainnya. Apalagi ditambah adanya ‘mujahid’ susupan yang tugasnya memang mengacak-acak suasana. bersambung (Sunnatullah kemenangan dalam Iqamatuddin)

Sumber : Majalah An-najah Edisi 103 Rubrik Kolom

Penulis : Abu Zahid

Editor : Anwar